Aliey Faizal

'Isy Kariiman Aw Muth Syahiidan

Archive for the ‘Risalah Islam’ Category

Teknologi Google Earth Membuktikan Kebenaran Atas Perintah Rasulullah

Posted by Aliey Faizal pada 8 Juni 2012

Ketika semula arah kiblat mengarah ke Baitul Maqdis, Rasulullah Muhammad SAW, pada tahun kedua hijrah,ketika beliau di Madinah Al-Munawarah diperintah oleh Allah SWT, bahwa arah kiblat harus diubah yaitu menghadap Masjidil Haram di MekahAl-Mukaramah. Sejak saat itu, Masjidil Haram menjadi kiblat untuk semua muslim dan sejak saat itu Islam terus menyebar dan dengan pertolongan Allah SWT Islam meraih kemenangan, dan orang2 memeluk agama Allah(Islam) secara berbondong2 dan orang2 Yaman menjadi muslim.

Setelah itu, Rasulullah saw mengirimi mereka (orang2 Yaman) guru untuk mengajari mereka tentang agama. Maka ia mengirim Ali bin Abi Thalib ke Hamdan dan mengirim Muath ibn Jabel ke Janad dan ia mengirim utusan2 keSana’a. Dan diantara utusan2 itu, adalah Wabr ibn Yuhanas Al Khozaee yang diutus sebagai pelindung (Sana’a) kemudian memerintahnya untuk membangunkan untuk mereka sebuah mesjid dengan ketentuan yang Rasulullah saw telah tentukan sendiri.

At-Tabrani di dalam Al-Mu’jam Al-Awsat berkata : “Wabr ibn Yuhanas Al Khozaee berkata : “Rasulullah SAW berkata padaku : ” jika kamu membangun mesjid Sana’a, bangunlah dikanan sebuah gunung bernama Deyn.” Al-Hafez Al-Rahzey dalam buku nya “History of Sana’a” mengatakan, Rasulullah saw yang memerintahkan Wabribn Yuhanas Al-Ansarey ketika ia mengutusnya ke Sana’a untuk menjadi pelindung berkata ” Panggillah mereka kepada Iman (kepercayaan/untuk membuktikan kebenaran). Jika mereka mentaatimu tentang hal itu maka aturlah mengenai Shalat. Jika mereka mentaatimu mengenai hal itu,bangunlah mesjid di taman Bathan, di mana disitu ditemukan sebuah batu di Gamdan dan arahkan ke sebuah gunung bernama Deyn.” dan Al-Rahzey berkata: ” Rasulullah saw menulis kepada Wabr untuk membangun dinding Bathan mesjid dan membuatnya dari posisi dasar batu, dan mengarah ke Deyn.”

Dan 14 abad setelah kejadian itu, roket-roket dibuat dan mereka dapat melintasi jarak2 yang jauh (ke angkasa) membawa satelit-satelit. Baca entri selengkapnya »

Posted in Photo &Video, Risalah Islam | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

Ketika Surga Jadi Pilihan (asbabun nuzul surat Al-Lail)

Posted by Aliey Faizal pada 7 Juni 2012


بِسم الله الر حمن الر حيم

Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh
Abdullah bin Abbas r. humaa berkata,” Di rumah seseorang ada sebatang pohon kurma. Ujung pohon kurma tersebut condong keatas  rumah tetangganya yang fakir. Ketika orang itu memanjat kurma untuk memetik buahnya, maka pohon kurma tersebut bergoyang- goyang dan beberapa buah kurma telah masak berjatuhan di pekarang rumah tetangganya itu. Kemudian buah kurma yang terjatuh tersebut  di ambil oleh anak- anak tetangganya yang miskin itu

Setelah selesai memetik buah kurma, orang tersebut turun, kemudian pergi menuju rumah tetangganya, lalu merampas kurma- kurma yang berada didalam genggaman anak- anak tetangganya itu, bahkan buah kurma yang sudah dimakan pun di keluarkan dengan cara memasukkan jari kedalam mulutnya. Orang miskin itu menghadap Rasulullah saw dan mengadukan hal itu kepada beliau saw.
 Setelah Rasulullah saw mendengarkannya, beliau saw bersabda,” Baiklah, sekarang pulang lah kamu.”    Setelah itu Rasulullah saw berkata kepada si pemilik pohon kurma, “ Maukah kamu memberikan pohon kurmamu yang condong  di atas rumah si fulan kepadaku dengan jaminan , sebagai gantinya kamu akan memperoleh satu pohon kurma disurga?” orang itu menjawab,” Ya Rasulullah, banyak orang yang mau membelinya, dan saya pun masih mempunyai banyak pohon kurma, tetapi saya sangat suka dengan pohon kurma yang satu ini.”    Setelah berbicara demikian, ia meminta maaf karena tak bisa memberikannya. Mendengar jawaban tersebut, Rasulullah saw diam saja. Baca entri selengkapnya »

Posted in Risalah Islam | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »

Kisah Wahyu Terakhir Kepada Rasulullah SAW

Posted by Aliey Faizal pada 7 Juni 2012

السلام عليكم . بِسْــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم.لا إله إلاَّ الله.محمد رسو ل الله
الحمد لله رب العا لمين. الصلاة و السلام على رسو ل الله.اما بعد

Diriwayatkan bahawa surah Al-Maaidah ayat 3 diturunkan pada sesudah waktu asar yaitu pada hari Jumaat di padang Arafah pada musim haji penghabisan [Wada’]. Pada masa itu Rasulullah s.a.w. berada di Arafah di atas unta. Ketika ayat ini turun Rasulullah s.a.w. tidak begitu jelas penerimaannya untuk mengingati isi dan makna yang terkandung dalam ayat tersebut. Kemudian Rasulullah s.a.w. bersandar pada unta beliau, dan unta beliau pun duduk perlahan-lahan. Setelah itu turun malaikat Jibril a.s. dan berkata:

“Wahai Muhammad, sesungguhnya pada hari ini telah disempurnakan urusan agamamu, maka terputuslah apa yang diperintahkan oleh Allah s.w.t. dan demikian juga apa yang terlarang olehnya. Oleh itu kamu kumpulkan para sahabatmu dan beritahu kepada mereka bahawa hari ini adalah hari terakhir aku bertemu dengan kamu.”

Setelah Malaikat Jibril a.s. pergi maka Rasulullah s.a.w. pun berangkat ke Mekah dan terus pergi ke Madinah. Setelah Rasulullah s.a.w. mengumpulkan para sahabat beliau, maka Rasulullah s.a.w. pun menceritakan apa yang telah diberitahu oleh malaikat Jibril a.s.. Apabila para sahabat mendengar hal yang demikian maka mereka pun gembira sambil berkata: ”Agama kita telah sempurna. Agama kila telah sempurna.”

Apabila Abu Bakar ra. mendengar keterangan Rasulullah s.a.w. itu, maka ia tidak dapat menahan kesedihannya maka ia pun kembali ke rumah lalu mengunci pintu dan menangis sekuat-kuatnya. Abu Bakar ra. menangis dari pagi hingga ke malam. Kisah tentang Abu Bakar ra. menangis telah sampai kepada para sahabat yang lain, maka berkumpullah para sahabat di depan rumah Abu Bakar ra. dan mereka berkata: “Wahai Abu Bakar, apakah yang telah membuat kamu menangis sehingga begini sekali keadaanmu? Seharusnya kamu merasa gembira sebab agama kita telah sempuma.” Mendengarkan pertanyaan dari para sahabat maka Abu Bakar ra. pun berkata, “Wahai para sahabatku, kamu semua tidak tahu tentang musibah yang menimpa kamu, tidakkah kamu tahu bahawa apabila sesualu perkara itu telah sempuma maka akan kelihatanlah akan kekurangannya. Dengan turunnya ayat tersebut bahawa ia menunjukkan perpisahan kita dengan Rasulullah s.a.w.. Hasan dan Husin menjadi yatim dan para isteri nabi menjadi janda.” Baca entri selengkapnya »

Posted in Risalah Islam | Dengan kaitkata: | 1 Comment »

Risalah Islam

Posted by Aliey Faizal pada 7 Juni 2012

Risalah Islam yang Menjadi Rahmat bagi Semesta Alam

Sesuai Al Qur’an Surat Al Anbiya: 107, Islam yang dibawah Rasulullah adalah rahmat bagi semesta alam. “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” Sebagian oknum liberalis mengartikan bahwa rahmat bagi seluruh alam ini berarti bahwa orang-orang Islam harus bersikap lemah lembut, bermanis muka, berkasih sayang terhadap semua orang tanpa kecuali, termasuk kepada orang-orang kafir, ahli bid’ah dan semua musuh agama. Bahkan lebih jauh rahmat terhadap seluruh alam itu diarahkan artinya sebagai sikap toleransi (baca: lembek) terhadap setiap kemungkaran, kekafiran dan kesyirikan yang terjadi di sekitar kita.Apakah benar jika rahmat diartikan hanya dengan sikap lemah lembut dan lembek seperti itu.Mari kita tanyakan kepada Ibnu Abbas, shahabat Nabi yang mendapat julukan turjumanulqur`an (penerjemah al-Qur`an) [1] yang tentunya lebih berhak untuk didengar pendapatnya dari pada seluruh manusia yang hidup saat ini. Ibnu Abbas mengatakan mengenai tafsir ayat ini yang kurang lebih artinya bahwa siapa saja yang beriman pada Alloh dan hari akhir, rahmat akan dilimpahkan padanya di dunia dan akhirat, sementara bagi orang yang tidak beriman pada Alloh dan Rasul-Nya, maka tidak akan diguncangkan dengan gempa bumi atau dilempari batu sebagaimana umat-umat (yang kafir) dari bangsa-bangsa terdahulu (silakan dicek di tafsir Ibnu Katsir)
Ternyata rahmat yang dimaksud dalam ayat tersebut dibedakan antara rahmat kepada orang yang beriman dan orang yang tidak beriman. Bagi yang beriman rahmat diberikan di dunia dan akhirat sementara untuk yang tidak beriman rahmat hanya diberikan di dunia dan itu pun hanya dalam bentuk tidak diazab sebagaimana azab umat terdahulu.

Ibnu Katsir pun ketika menjelaskan mengenai ayat ini membawakan ayat Al Fusshilat 44: Katakanlah: “Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh”. Ayat tersebut juga memberi dua perspektif mengenai untuk apa Alloh menurunkan risalah berupa Nabi dan Al Qur’an, yaitu sebagai petunjuk, penawar (yaitu segala yang baik, lembut, indah) bagi orang yang beriman dan kegelapan (yaitu segala yang menyeramkan, ancaman) bagi orang yang tidak beriman.

Di ayat lain Al Qur’an pun bisa kita temui dua sisi ini misalnya.

Al Kahfi 56 Dan tidaklah Kami mengutus rasul-rasul melainkan sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan;

Saba 28 Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.

Al Furqon 1 Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam,

Al Baqoroh 119 Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka.

Al A’raaf 188 Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”.

Al Isro 105 Dan Kami turunkan (Al Qur’an itu dengan sebenar-benarnya dan Al Qur’an itu telah turun dengan (membawa) kebenaran. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.

Al Fath 8 Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan,

Semua ayat di atas menunjukkan adanya sisi basyiran (Risalah sebagai pemberi kabar gembira) bagi orang yang beriman kepada Alloh, hari akhir, kitab-Nya, Rasul-Nya. Sekaligus menunjukkan adanya sisi nadziron (Risalah sebagai pembawa peringatan atau ancaman) bagi orang yang tidak beriman.

Bahkan ada satu ayat lagi yang bentuknya persis sama dengan Al Anbiya 107 yaitu pada Al Qur’an surat Al Furqon 56 yang berarti “Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan hanya sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.” Perhatikan bahwa awal ayat tersebut sama Al Anbiya 107. Hanya saja kata rahmat bagi semesta alam diganti dengan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.

Hal tersebut sekali lagi menyiratkan bahwa rahmat yang dimaksud memiliki dua sisi yaitu bagi kaum yang beriman dan menerima kenabian Muhammad (berupa kabar gembira) dan bagi yang tidak beriman (berupa ancaman). Jadi salah besar kalau rahmat bagi seluruh alam itu hanya diartikan sebagai sikap lemah lembut dan lembek pada semua orang apapun agamanya, apapun manhajnya, meskipun orang itu memusuhi Alloh dan Rasul-Nya, meskipun orang itu berbuat kemungkaran.

Seperti yang dikatakan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya bahwa siapapun yang menerima rahmat risalah Muhammad dan bersyukur atas karunia dari Alloh ini, maka akan bahagia di dunia dan di akhirat. Tapi siapa yang kafir terhadap rahmat risalah kenabian Muhammad maka akan rugi dunia dan akhirat.

Wallahu a’lam.

 

Artikel Terkait :

Posted in Risalah Islam | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »