Aliey Faizal

'Isy Kariiman Aw Muth Syahiidan

Menyikapi Ahli kitab

Posted by Aliey Faizal pada 18 Juni 2012

VII. PENUTUP
Jangan percaya Ahli Kitab…!

tapi jangan kau ingkari…!

ARUS BALIK

Menyikapi Ahli kitab.

Saat mau menulis buku ini kami mendapat nasehat dari seorang Kyai, dengan sebuah hadits yang sering diucapkan para ulama’ :

 

Jangan percaya ahli kitab, dan jangan mengingkari mereka.

 

Pesan pertama ini agak sulit kami cerna, karena di satu sisi tidak boleh mempercayai mereka tapi di sisi lain tidak boleh mengingkari mereka. Setelah melihat realitas yang ada di depan mata, kami baru memahami isi pesan tersebut. Yaitu bersikap tegas terhadap propaganda yang menyesatkan umat. Sebagaimana yang diingatkan oleh Allah pada awal-awal surat al-Qur’an.
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya) “. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.

 

Peringatan al-Qur’an ini dibarengi dengan alasan-alasan di dalam surat al-Baqarah kemudian Ali Imran hingga al-Maidah, yang telah kita singgung pada awal buku ini. Kemudian pada surat-surat terakhir dari al-Qur’an kita diperingati lagi dengan ayat yang sangat tegas dan yang mengarah pada sikap praktis, yaitu di surat Al-Kafirun.

Katakanlah: “Hai orang-orang kafir!”

aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah

Dan kamu bukan penyembah Ilah yang aku sembah

Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Ilah yang aku sembah

Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku

 

Tidak ada kompromi untuk masalah akidah tauhid sekecil apapun. Namun demikian kita juga tidak boleh mengingkari keberadaan mereka. Sebab mereka adalah makhluq Allah juga. Al-Qur’an sendiri melarang sikap membenci dan memusuhi umat lain, sebagaimana firman Allah Swt. berikut ini :

“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya”. (Yunus, 99).

 

Namun begitu kita tidak boleh hanya berhenti di sini saja. Sebab risalah tauhid harus disebarkan, hanya caranya bukan dengan kebencian dan permusuhan. Cara-cara hantam kromo sudah ketinggalan jaman, tapi mestinya dengan strategi terencana. Rasulullah selalu menggunakan pentahapan dalam dakwahnya. Berhasil atau tidak tergantung kehendak Allah, tapi usaha kita itulah yang akan dinilai, bukan hasilnya.

Nasehat Rasulullah yang menempatkan kita pada posisi ditengah (tidak menerima dan tidak menolak), adalah nasehat untuk berhati-hati dan teliti -lazimnya posisi tengah diantara dua hal yang bersebrangan-, maka dalam kajian lintas agama sikap hati-hati dan teliti harus dikedepankan dengan mengacu pada rambu-rambu seperti “bagimu agamamu dan bagiku agamaku”. Jika rambu-rambu itu terlanggar maka kita wajib bertanya kepada hati kita sendiri, adakah ilmu dari kajian itu membawa kita pada kedekatan kepada Allah atau malah menjauhkan diri kita dariNya, jika yang kedua yang terjadi maka lebih baik kita berhenti sampai Allah menunjukkan jalan yang lebih baik. Hati tidak akan bohong, Rasulullah bahkan mengulang tiga kali dalam menasehati kita agar selalu bertanya pada hati.

Setelah itu beliau mengomentari buku Dr. Robert Morey : “Kamu harus jawab, -beliau berhenti sebentar- tapi kalau kamu jawab kamu sudah kalah”. Nasehat yang kedua ini tambah sulit dicerna, sampai kami melihat ramainya perdebatan buku the Islamic Invasion di internet. Ternyata buku tersebut telah disebarkan dalam beberapa bahasa, buku yang senada berjudul “Islam Unveiled” malah sudah diterbitkan Paramadina dengan nama pengarang yang hampir sama Robert Spencer. Buku yang kedua ini lebih argumentatif sehingga mungkin akan dilirik akademisi. Buku-buku lainnya yang senada juga banyak bahkan dijual bebas dipinggir jalan dengan harga yang sangat murah. Di sini kami baru memahami pesan agar kita melihat apa yang tersirat dari yang tersurat. Melihat gencarnya propaganda yang semacam, maka jika hanya terpaku pada kedua buku tersebut – juga mungkin propaganda-propaganda lain- maka secara tidak langsung kita sudah kalah.

Saat ini dunia Islam secara umum sedang ditampar, difitnah bahkan diinvasi secara kejam. Sensitifitas masyarakat modern tentu saja menolak prilaku arogan negara-negara yang mayoritas Kristen tersebut, untuk meredam kemarahan masyarakat International maka dibuatlah isu anti semit Arab dan Islam dengan membonceng agama pagan untuk mengatakan orang lain pagan. Pengaruh kepada masyarakat umum, tidak kami sorot disini, yang penting justru pengaruh terhadap umat Islam itu sendiri. Mari kita melihat sebentar :

  1. Setelah invasi yang mereka lakukan, umat muslim dituduh rasis imperialis? Jika umat muslim hanyut maka sikap `toleran-lugu’ yang akan ditunjukkan dengan segala dalil dari al-Qur’an dan hadits tentang kasih sayang, kemudian menyimpan seluruh ayat yang menyuruh kita bertindak adil dan memerangi kedzaliman. Dengan alasan yangsama, menghindari sensitifitas modern yang dipraktekkan dengan standar ganda.
  2. Umat Islam dituduh pagan. Tuhan umat muslim, bukanlah Tuhan masyarakat barat agar masyarakat international membenarkan tindakan mereka. Sementara itu umat muslim sibuk mencari jawaban.
  3. Setelah itu seluruh isi tong sampah kebencian orientalisme yang pada masa lalu sudah terkubur dibuka kembali untuk disuguhkan kepada umat Muslim -kajian orientalis yang tidak objektif jumlahnya ribuan-. Kalaupun banyak orientalis yang sudah menulis secara jujur, tapi dengan dibukanya kembali sampah kebencian itu, sedikit banyak berpengaruh pada keimanan umat Islam.
  4. Kalau tidak disikapi secara proporsional umat muslim akan segera menunjukkan sikap menyerahnya, agar tidak terkena dampak sensitifitas modern, yang mungkin berpengaruh bagi umat muslim yang sudah terkotak-kotak. Kata “teroris” sudah menghilangkan sekian banyak nyawa umat, menghancurkan keimanan sekian juta umat, yang takut tidak diberi pinjaman. Itulah hebatnya isu yang diterapkan dengan standar ganda.
  5. Rasulullah dihujat, agar umatnya ragu, sehingga ajarannya dilupakan.
  6. Al-Qur’an yang merupakan urat nadi dunia Islam disudutkan dan dimanipulasi agar umat muslim ragu untuk menggunakan pusaka andalannya.
  7. Hadits dan riwayat kehidupan nabi didistorsi dan dimanipulasi agar umatnya ragu menggunakan wasiat kedua dari Nabinya.
  8. Hati nurani, dan cara pandang umat muslim dikekang dengan isu-isu pluralisme yang tidak ditempatkan pada tempatnya. Sekali lagi, karena takut sensitivitas masyarakat modern.

Maka kalau kita hanya bisa menjawab saja, berarti kita sudah kalah. Oleh sebab itu jangan terjebak dengan isu dan isme yang berstandar ganda. Jawaban materi tetap perlu tapi jawaban sikap lebih dibutuhkan. Maka kalau mereka bilang Islam mengajarkan jihad? Ya, untuk melawan arogansi seperti yang mereka lakukan. Islam mengajarkan kasih sayang? Ya, karena sejak dulu umat muslim bisa berdampingan dengan siapa saja. Justru barat yang tidak bisa, lihat saja umat Yahudi pun pernah mengalami kekejaman masyarakat pagan ini. Dalam hal ini agama hanya mereka jadikan alat. Tidak ada minoritas yang tertindas dinegara mayoritas muslim, tapi justru sebaliknya.

Propaganda menyesatkan seringkali disampaikan secara tersamar, kata-kata toleransi, hak-hak azasi bahkan yang menyangkut akidah seperti istilah pluralisme serta isme-isme lain menjadi senjata ampuh untuk menyesatkan umat Islam.. Untuk meruntuhkan kultur budaya Islami mereka menggunakan senjata “toleransi” yang diartikan sepihak. Nama dan istilah – sekali lagi- bisa menjadi momok yang sangat membahayakan tidak hanya akidah dan ajaran tapi bahkan menyerang umat Islam secara fisik. Sayangnya umat kita sendiri terperosok dengan sensitivitas modern yang diartikan ganda. Dengan seenaknya satu negara dihancurkan hanya bermodal kata “teroris” padahal tanahnya dirampas dan dijajah, warganya dikekang dan nyawanya selalu terancam. Keahlian memanipulasi yang tidak dapat disaingi oleh bangsa manapun. Jadi siapa sebenarnya yang rasis? Siapa sebenarnya yang intoleran? Siapa sebenarnya yang imperialis? Siapa sebenarnya yang TERORIS ?

Toleransi dan keterbukaan umat Muslim yang -kadang terkesan lugu- seringkali dijadikan sasaran ketidak adilan, dan tindakan sewenang-wenang umat lain. Lebel “teroris” kini dengan segala cara ditempelkan dikening umat Muslim bahkan dengan alasan yang sangat dibuat-buat, apalagi yang dianggap menghambat jalannya `perekrutan’ anggota keagamaan umat lain. Di Indonesia sendiri, setiap ada hajat nasional umat Muslim lebih dulu kena getahnya, entah pembunuhan karakter atau pembunuhan fisik (isu santet, teroris, konflik di daerah dll), memang benar Muslim Indonesia adalah mayoritas sehingga kesalahan individu dan kelompok kecil dari komunitas yang mayoritas ini mungkin saja terjadi, namun demikian jika memang arahnya adalah nasionalisme maka kata dan istilah yang menyudutkan agama tertentu tidak perlu dipakai. Anehnya jika ada ide dan usulan dari kelompok Muslim yang walaupun untuk kepentingan nasional -seperti undang-undang- segera saja istilah nasionalisme mengganjal aspirasi tersebut. Bukankah ini standar ganda?

 

Artikel Terkait :

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: