Aliey Faizal

'Isy Kariiman Aw Muth Syahiidan

5. TIDAK MENGAJARKAN YANG KEJAM DAN SADIS

Posted by Aliey Faizal pada 18 Juni 2012

5. TIDAK MENGAJARKAN YANG KEJAM DAN SADIS

Marilah kita baca Alkitab I Samuel 15 : 2 – 3 yang berbunyi sebagai berikut :

2. Beginilah firman Tuhan semesta alam : Aku akan membalas apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalangi mereka, ketika orang Israel pergidari Mesir. 3. Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai.”

Kalau kita cermati ayat tersebut, betapa kejam dan sadisnya Tuhan yang digambarkan dalam Alkitab tersbeut. Kalau benar Tuhan mengajarkan ajaran kasih, mengapa justru Tuhan menyuruh membunuh tanpa belas kasihan? Dimanakah ajaran kasih yang selama ini selalu digembar-gemborkan, sementara Tuhan sendiri yang memerintahkan untuk menumpas tanpa belas kasihan terhadap perempuan, anak-anak, dan bahkan terhadap anak yang menyusu?

Tuhan menulis sepuluh perintah Allah (Ten Comandments) di dalam Alkitab, diantaranya yaitu “jangan membunuh” (Ulangan 5 : 17), tetapi mengapa Dia sendiri yang menyuruh dan memerintahkan untuk membunuh dengan kejam dan sadis bahkan tanpa belas kasihan? Bukankah ini merupakan ayat-ayat teroris? Hanya para teroris yang melakukan seperti itu! Kalau begitu darimana asal mula ,sumber ajaran teroris tersebut?

Selanjutnya marilah kita baca Ulangan 20 : 12 – 16 sebagai berikut:

12. Tetapi apabila kota itu tidak mau berdamai dengan engkau, melainkan mengadakan pertempuran melawan engkau, maka haruslah engkau mengepungnya; 13. dan setelah Tuhan, Allahmu, menyerahkannya ke dalam tanganmu, maka haruslah engkau membunuh seluruh penduduknya yang laki-laki dengan mata pedang. 14. Hanya perempuan, anak-anak, hewan dan segala yang ada di kota itu, yakni seluruh jarahan itu, boleh kau rampas bagimu sendiri, dan jarahan yang dari musuhmu ini, yang diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allahmu, boleh kau pergunakan. 15. Demikianlah harus kau lakukan terhadap segala kota yang sangat jauh letaknya dari tempatmu, yang tidak termasuk kota-kota bangsa-bangsa di sini. 16. Tetapi dari kota-kota bangsa-bangsa itu yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu, janganlah kau biarkan hidup apa pun yang bernafas…”

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan benar-benar sangat kejam dan sadis. Dan ayat-ayat ini serta ayat-ayat sebelumnya, sepertinya berbicara dalam kondisi perang. Namun demikian walaupun dalam keadaan perang, sifat Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun, tidak akan hilang begitu saja walaupun dalam kondisi perang.apakah sekejam dan sesadis itu sifat Tuhan di dalam Alkitab (Bible) terhadap hamba-hambaNya yang tidak berdaya ketika mengalami kekalahan dalam peperangan? Dan pelajaran serta hikmah apa yang bisa kita abil dari ayat-ayat tersebut? Apakah ayat-ayat tersebut mendidik manusia ke jalan yang benar? Bagaimana mungkin Tuhan memerintahkan kepada manusia untuk melakukan perbuatan keji, sadis dan biadab tanpa batas, sementara Dia sendiri melarang hambanya berbuat seperti itu? Bagaimana mungkin Tuhan akan menghukum para pelaku keji, sadis dan biadab seperti itu, padahal Dia sendiri yang menyuruh melakukannya? Kalau begitu dimana letak ajaran kasih yang selama ini dipropagandakan oleh Kristen dalam menyebarkan ajaran agamanya?

Mari kita bandingkan dengan Al Qur’an, apakah Allah dalam Al Qur’an, apakah Allah dalam Al Qur’an memerintahkan manusia untuk berbuat kejam dan sadis? Dan apakah dalam memerangi musuh-musuh Allah, lalu sifat Allah yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun akan berobah menjadi kejam dan sadis terhadap musuh-musuh yang sudah tidak berdaya?

Kemudian bagaimana etika yang diatur oleh Allah dan RasulNya ketika dalam memperlakukan lawan-lawan yang tidak berdaya maupun terhadap para tawanan perang dan makhluk lainnya. Mari kita lihat beberapa ayat dan hadis sebagai berikut :
190. Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (1) (Qs 2 Al Baqarah 190)

4. Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.  (Qs 47 Muhammad 4)

Hadits Shahih Muslim No 1726 menyebutkan, dalam peperangan Rasulullah saw. melarang membunuh wanita dan anak-anak.

Hadits Shahih Muslim No 1728 menyebutkan larangan menebang /merusak tanaman.

Subhanallah, sungguh mulia etika yang diatur oleh Allah dan Rasul Nya ketika menghadapi musuh-musuh yang memrangi kita, baik secara perorangan maupun ketika dalam peperangan. Bayangkan saja, terhadap tanaman saja tidak boleh ditebang atau dirusak begitu saja tanpa alasan yang benar, apabila terhadap manusia. Oleh sebab itu membunuh wanita, anak-anak dan orang yang sudah tidak berdaya, itu dilarang  dalam ajaran Islam.

Nah dengan demikian kita manusia bisa mengambil hikmah dan pelajaran atas apa saja yang telah diatur dan ditentukan oleh Allah dan rasul-Nya dalam Al Qur’an dan Hadist Rasulullah saw.

Jadi tuduhan selama ini yang sering dilontarkan oleh mereka yang benci terhadap Islam  bahwa katanya Islam ajaran  Teroris dan Kristen ajarannya Kasih, sama sekali tidak beralasan karena tidak ada satu dalil atau ayat di dalam Al Qur’an dan Hadits yang menyuruh atauh memerintahkan untuk melakukan Teroris. Justru ayat-ayat kejam dan sadis (teroris) begitu banyak kita jumpai di dalam Alkitab. Para Pendeta pun mengakui bahwa banyak ayat-ayat dalam  Alkitab Perjanjian Lama dimana banyak terdapat  firman-firman Allah yang kejam dan berat yang sulit diikuti oleh Umat Kristiani.


(1). Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan “perdamaian di Hudaibiah”, yaitu ketika Rasulullah SAW dicegat oleh kaum Quraisy untuk memasuki Baitullah. Adapun isi perdamaian tersebut antara lain agar kaum Muslimin menunaikan umrahnya pada tahun berikutnya. Ketika Rasulullah SAW beserta shahabatnya mempersiapkan diri untuk melaksanakan umrah tersebut sesuai dengan perjanjian, para shahabat khawatir kalau-kalau orang-orang Quraisy tidak menepati janjinya, bahkan memerangi dan menghalangi mereka masuk di Masjidil Haram, padahal kaum Muslimin enggan berperang pada bulan haram. Turunnya “Waqatilu fi sabilillahil ladzina (S. 2: 190) sampai (S. 2: 193)” membenarkan berperang untuk membalas serangan musuh.
(Diriwayatkan oleh al-Wahidi dari al-Kalbi, dari Abi Shaleh yang bersumber dari Ibnu Abbas.) 

Artikel Terkait :


Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: