Aliey Faizal

'Isy Kariiman Aw Muth Syahiidan

15.TERJAGANYA SELURUH WAHYU ITU DENGAN HAFALAN PARA PEMELUKNYA DARI AWAL DIWAHYUKAN SAMPAI KIAMAT.

Posted by Aliey Faizal pada 18 Juni 2012

15.TERJAGANYA SELURUH WAHYU ITU DENGAN HAFALAN PARA PEMELUKNYA DARI AWAL DIWAHYUKAN SAMPAI KIAMAT.

Dalam Al Qur’an telah menjamin keaslian firmanNya yang diwahyukan kepada nabi Muhammad saw. dan Dia pun memelihara keasliannya sampai kapanpun. Sebagaimana firmanNya :
9. Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (Qs 15 Al Hijr 9)

Firman Allahh tersebut diakui oleh  dunia, sebab kenyataannya Al Qur’anh itu benar-benarh dihapal oleh jutaan orang du dunia. Bahkan anak kecil pun banyak yang hapal LA Qur’an. Ini merupakan suatu bukti yang tak terbantahkan oleh umat beragama lainnya, sebab tidak ada satu kitab suci dari agama lainnya di dunia ini yang benar-benar dihapal di luar kepala oleh pemeluknya selain kitab suci Al Qur’an. Oleh sebab itu Al Qur’an adalah mu’jizat Rasulullah SAW yang tak terbantahkan.

Bagaimana dengan Alkitab? Ternyata tidak ada satu pun orang di dunia ini yang hapal Alkitab di luar kepala. Bahkan Paus yang ada di Roma mustahil hapal Seluruh Alkitab tersebut. Kenapa Alkitab tidak mungkin bisa dihapal seluruhnya? Jawabannya karena Alkitab tidak murni lagi sebagai firman Allah, tapi sudah bercampur dengan tulisan manusia biasa. Dan di dalam Alkitab tidak ditemukan ayat pun dimana Allah menyatakan bahwah Alktab tersebut dia yang menurunkan atau yang mewahyukan dan Dia yang menjaganya.

Dari 15 point yang menjaadi syarat sebuah kitab dikatakan suci, ternyata tidak ada satupun yang memenuhi syarat terhadap Alkitab (Bible). Pada dasarnya ayat-ayat yang memenuhi syarat dalam Alkitab (Bible), memang ada, tapi tidak kami muat. Sebab dalam buku ini bukan membahas yang benar atau yang memenuhi syarat. Sengaja dimuat ayat-ayat Alkitab (Bible) yang tidak memenuhi syarat, sebab dengan bercampurnya ayat-ayat yang tidak memenuhi syarat tersebut ke dalam Alkitab, membuat kitab itu tidak suci lagi, karena bercampur antara yang haq dan yang bathil. Bercampurnya antara yang haq dan yang bathil dalam Alkitab, sejak hampir 15 abad yang lalu telah diingatkan oleh Allah Swt. di dalam kitab suci Al Qur’an yaitu pada surat Al Baqarah 79 sebagai berikut :
79. Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan. (2)(Qs 2 Al Baqarah 79)

Informasi yang diberikan Al Qur’an tersbeut terbukti bahwa memang benar bahwa Alkitab (Bible) benar-benar telah dikotori oleh tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab. Oleh sebab itu mengimani Alkitab (Bible) sebagai 100% firman Tuuhan, adaah suatu kebodohan yang sangat merugikan manusia dalam memilih mana agama yang benar, mana agama yang sudah tidak benar. Makanya agar manusia bisa memperoleh keselamatan dunia dan akhirat, Allah Swt mengutus seorang Rasul terakhir (Muhammad) dengan membawa kitab suci yang sempurna (Qur’an) sebagai petunjuk kepada manusia, dan agama yang benar (Islam), sebagaimana firman Nya dalam surat 61 (Ash Shaff) 9 sebagai berikut :
9. Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.  (Qs 61 ash Shaff 9)

Setelah diutusnya Nabi Muhammad saw. dengan membawa Al Qur’an dan agama Islam, maka Allah Swt memerintahkan kepada Muhamamd saw. untuk mengajak para Ahli Kitab (Yahudi dan Nashara) agar mereka masuk ke dalam agam Islam supaya mereka selamat, sebagaimana firman Nya dalam surat 3 ( Ali Imran ) ayat 20 sebagai berikut :

20. Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: “Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku.” Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi[190]: “Apakah kamu (mau) masuk Islam.” Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.  (Qs 3 Ali Imran 20)

Ayat di atas ini sebenarnya merupakan perintah Allah kepada Nabi Muhammad untuk mengajak umat Kristen agar masuk Islam. Dan hal itu benar-benar beliau lakukan dalam dakwahnya selama beliau masih hidup. Untuk itu agar umat Kristiani tidak tersesat, maka Allah wahyukan kepada Rasulullah Muhammad untuk mengajak mereka kembali kepada kalimat Tauhid yaitu laa ilaaha illallaahu, jangan mempersekutukan Allah, jangan menjadikan tuhan-tuhan lain selain Allah, sebagaimana firmanNya dalam surat 3 (Ali Imran) ayat 64 sebagai berikut :
64. Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (Qs 3 Al Baqarah 64)

Ayat di atas ini dimulai dn3gan kata “Qul” yang artinya “katakanlah”. Maksud dari kata “Qul” (katakanlah) yaitu Rasulullah saw. diperintahkan untuk katakan, sampaikan, ajak atau dakwahkan kepada Ahli Kitab.

Rasululllah Muhammad saw. adalah seorang yang amanah, ketika dia menerimawahyu Allah yang intinyah berupa perintah kepadanya “Qul” atau “katakanlah”, maka perintah tersebut benar-benar beliau lakukan, beliau sampaikan, beliau laksanakan, beliau dakwahkan. Sebagai contoh ketika Rasulullah saw. masih hidup, beliau berkirim surat kepada Heraclius yaitu seorang raja Romawi di Syam sebagai berikut :

“Bismilaahir Rahmaanir Rahiim”

“Dari Muhammad hamba Allah dan rasul Nya kepada Heraclius orang agung bangsa Romawi. Selamatrlah atas barang siapa yang sudi mengikuti kebenaran.”

“Maka dengan ini aku mengajak engkau dengan seruan Islam. Islamlah supaya kamu selamat, dan Allah akan memberikan pahalaNya atas engkau dua kali. Tetapi jika engkau berpaling, maka dosa seluruh penduduk Erisiyin tertanggung atas pundak engkau.”

“Katakanlah: “Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”.

Surat Rasulullah saw. ini membuktikan kepada kita bahwa setiap wahyu Nya yang dimulai dengan “Qul” yang artinya “Katakanlah”, benar-benar beliau katakan atau sampaikan. Sekarang beliau sudah tiada, sahabatnya sudah tiada, tabi’in dan generasi selanjutnya pun semuanya sudah tiada. Yang ada sekarang ini adalah kita-kita umat Muhammad. Ini berarti kitalah yang harus meneruskan risalah beliau. Kitalah yang meneruskan perintah Allah tersebut, kitalah pewaris semua yang Allah perintahkan kepada beliau.

Kalau begitu pertanyaannya; sudajkah kita mengatakan, menyampaikan, mendakwahkan serta mengajak mereka yang non muslim agar mau masuk Islam? Kalau belum, maka berarti ada suatu kewajiban yang mestinya kita tunaikan, kita lakukan, sebagai wujud kecintaan kita kepada Allah dan RasulNya.

Tetapi ada sebagian umat Islam dengan entengnya mengatakan “Lakum dinukum wa liyadiin.” (bagi kamu agama kamu dan bagiku agamaku). Mereka idak menyadari bahwa “lakum dinukum wa liya diin” berada pada ujung ayat, padahal awal surat tersebut dimulai dengan “Qul” yang artinya “katakanlah”. Ini bermakna bahwa hendaklah disampaikan dulu, didakwahkan dulu, diajak dulu mereka masuk Islam. Setelah kita berusaha sampaikan, lalu mereka tetap tidak mau, berarti kita telah menunaikan kewajiban kita. Setelah kita tunaikan kewajiban, kita berserah diri kepada Allah, sebab hanya Allah pemilik hidayah. Sebab jika Allah mengehndakinya, isnya Allah mereka masuk Islam.

Oleh sebab itu bagi orang – orang yang mengatakan “lakum dinukum wa liya diin” pada dasarnya ibarat belum perang sudah menyerah, belum berbuat sudah kalah duluan. Mudah-mudahan dengan hadirnya buku kecil ini, diharapkan khususnya kepada para da’i, atau aktifis Islam lainnya, amrilah berdakwah Islam pada mereka yang non muslim.kita ajak merea agar masuk Islam supaya mereka juga biusa merasakan nikmatnya Islam, bisa menyelamatkan mereka dunia akhirat. Dengan demikian insya Allah Islam ini benar-benar akan menjadi agama yang ‘rahmatan lil ‘aalamiin”

Bagaimana sikap kaum muslimin terhadap Ahli Kitab?

“Apabila ada Ahli Kitab (Yahudi dan Nashara) berbicara kepadamu, maka janganlah kamu benarkan semuanya dan kangan pula kamu dustakan semuanya. Tetapi katakanlah kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kami beriman kepada apa yang diturunkan sebelumnya. Apabila yang dikatakannya benar, maka janganlah kamu mendustakannya. Tetapi apabila yang dikatakannya itu bathil (bukan berasal dari Allah), maka janganlah kamu benarkan.” (HR Muslim,Abu Dawud dan Tirmidzi).

Hadits tersebut memberikan makna kepada kita kaum muslimin, bahwa Alkitab (Bible) sudah tidak murni lagi. Sudah bercampur antara yang haq dengan yang bathil. Oleh sebab itu apa saja yang disampaikan oleh Yahudi dan Nasrani, jika tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits, kita terima. Tetapi bila bertentangan, kita tolak.



(2). Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ayat ini
(S. 2: 79) turun tentang ahli kitab yang memalsukan Taurat.
(Diriwayatkan oleh an-Nasa’i yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa turunnya ayat ini (S. 2: 79) tentang padri-padri bangsa Yahudi yang mendapatkan sifat-sifat Nabi SAW tertulis dalam kitab Taurat yang berbunyi: Matanya seperti yang selalu memakai cela, tingginya sedang, rambutnya kriting, mukanya cantik.” Akan tetapi mereka hapus (kalimat tersebut dari Taurat) karena dengki dan benci serta menggantinya dengan kalimat: “Badannya tinggi, matanya biru, rambutnya lurus.”
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Ikrimah yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

[190]. Ummi artinya ialah orang yang tidak tahu tulis baca. Menurut sebagian ahli tafsir yang dimaksud dengan ummi ialah orang musyrik Arab yang tidak tahu tulis baca. Menurut sebagian yang lain ialah orang-orang yang tidak diberi Al Kitab. 

 

Artikel Terkait :

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: