Aliey Faizal

'Isy Kariiman Aw Muth Syahiidan

Mulai Berdakwah

Posted by Aliey Faizal pada 16 Juni 2012

VI. RASULLULLAH DAN HADITS
Kenapa kalian membunuh

para utusan Allah…?

KEHIDUPAN NABI MUHAMMAD

 

Mulai berdakwah

Setelah turun ayat dari wahyu pertama, mengawali kenabian beliau, wahyu itu mengalami masa vakum selama hampir dua tahun. Itulah waktu kesedihannya yang luar biasa, dan beberapa penulis Muslim menganggap masa ini adalah masa beliau ingin melakukan bunuh diri. Apakah beliau telah ditipu selama ini? Atau Tuhan mendapati dirinya sangat ingin menjadi pembawa wahyu lalu malah meninggalkannya? Kefakuman (ketenangan) itu tampak menghancurkan, sampai kemudian datang Surat al-Fajrdengan keyakinan yang melimpah.

“Demi terangrrya siang dan kesedihan malam! Tuhanmu tidak rnengabaikan atau membencimu dan yang Terakhir pasti lebih baik bagimu dari pada yang Pertama. Tuhanrnu senantiasa memberi, dan hendaknya engkau puas. Tidakkah Dia temukan dirirnu bersalah, dan membimbingmu? Tidakkah Dia rnenemukanrnu sangat membutuhkan, lalu rnencukupirnu?Karena untuk anak yatim, jangan kau tekan dia, untuk para pengemis, jangan  kau hardik dia; dan  untuk berkah Tuhan, muliakanlah!.

 

Nabi Muhammad memulai misinya. Beliau telah belajar mempercayai, bahwa pengalaman-pengalamannya datang langsung dari Allah. Keyakinan ini membutuhkan keberanian, namun beliau telah berketatapan untuk melangkah. Beliau menerima interprestasi Waraqah atas pengalaman­pengalamannya: Bahwa beliau dipilih sebagai Nabi orang Quraisy. Kini beliau harus memulai dakwahnya pada rakyatnya. Waraqah memperingatkan bahwa ini bukan hal yang mudah. Dia sudah tua dan mengkin hidup tak lama lagi, katanya pada Nabi Muhammad, namun dia berharap dapat terus hidup untuk menolong beliau bila orang-orang menolak seruan beliau. Nabi Muhammad ketakutan mendengar hal ini. Apakah benar-benar akan menolaknya tanyanya setengah putus asa. Waraqah dengan sedih mengatakan bahwa seorang Nabi selalu tidak mendapat penghargaan yang sepantasnya di negerinya sendiri. Akan kita lihat, bahwa Nabi Muhammad sangat berhati-hati ketika beliau mulai menyebarkan wahyu Allah. Beliau tahu apa yang diajarkannya akan dianggap aneh. Tetapi bagaimanapun juga Nabi Muhammad harus siap menerima misi berbahaya ini. Hal lni akan membawa beliau ke arah yang tak pernah beliau bayangkan sebelumnya.9

Pada tahun-tahun awal misinya, Nabi Muhammad hanya berbicara pada orang-orang tertentu, terutama pada keluarganya. Khadijah menerima kenabian beliau sejak awal dan semua anggota keluarga beliau mengikutinya: Ali, Zaid, dan empat anak perumpuan Nabi. Namun kekecewaan beliau yang paling besar adalah bahwa paman-pamannya Abu Thalib, Abbas clan Hamzah, tidak tertarik. Abu Thalib mengatakan pada Nabi Muhammad bahwa tak mungkin baginya meninggalkan agama kakek moyangnya, sebuah alasan umum suku Quraisy untuk menolak ajaran Nabi. Beliau menyadari bahwa, meskipun berakar pada tradisi penyembahan berhala kuno, wahyu Allah lebih mengancam suku Quraisy yang konservatif, salah satu alasan mengapa beliau tetap berdakwah secara sembunyi­sembunyi selama tiga tahun menjalankan misinya. Namun Abu Thalib menghormati Nabi Muhammad secara pribadi, meskipun kemudian menjadi semakin sulit, dia tetap bertindak sebagai pelindung resmi Nabi Muhammad. Sebagai kepala klan Hasyim, dukungan Abu Thalib sangat penting bagi beliau.

Namun anggota lain dalam keluarga Nabi benar-benar menerimanya sebagai Nabi, termasuk anak Abu Thalib, Ja’far teman dekat dan sepupunya Abdullah bin Jahsy, dan saudara perempuannya Zainab, serta saudara lelakinya Ubaidullah. Ubaidullah adalah seorang hanif yang telah lama mencari bentuk alternatif monoteisme. Para istri Abbas dan Hamzah tidak sabar dengan keragu-raguan para suami mereka: Ummu Fadhl dan Salamah segera menjadi Muslim, begitu pula istri Ja’far, Asma’, dan bibi Nabi, Shafiyah binti Abdul Muthalib. Ummu Aiman, perempuan yang dibebaskan oleh Nabi, juga bergabung dengan kelompok ini: dulu dia budak perempuan kecil yang diberikan ayah Nabi Muhammad, Abdullah, kepada Aminah bersama lima ekor unta.

Di masa-masa awal ini, Rasulullah mendapat pengikut yang sangat penting dari luar lingkup keluarganya, yaitu ketika temannya Attiq bin Utsman, yang lebih dikenal sebagai Abu Bakar, masuk Islam. Abu bakar membawa banyak orang muda di Mekkah ke agama Allah, termasuk dari klan-klan yang lebih berkuasa. Antara lain; Khalid bin Sa’id, putra seorang pemodal yang penting, Abdi Syams. Saudagar clan bangsawan muda Utsman bin Affan, clan Thalhah bin Ubaidullah dari klan Taim, yang adalah sepupu Abu Bakar.

Sejarawan Mekkah Ibnu Syihan az-Zuhri, yang lahir 40 tahun setelah kematian Rasulullah clan mengabdikan hidupnya melakukan penelitian tentang periode Muslim awal, mengatakan bahwa Rasulullah mencapai keberhasilan dalam waktu singkat.10

NOTES

9. Karen Amstrong, Muhammad Sang Nabi, terj. Sirikit Syah, Risalah Gusti, Surabaya, 2003, hal 108.

10. lihat Karen Amstrong, ibid., hal 130.

Artikel Terkait :

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: