Aliey Faizal

'Isy Kariiman Aw Muth Syahiidan

Masa Kenabian

Posted by Aliey Faizal pada 16 Juni 2012

VI. RASULLULLAH DAN HADITS
Kenapa kalian membunuh

para utusan Allah…?

KEHIDUPAN NABI MUHAMMAD

Masa Kenabian

Tempat suci Ka’bah saat itu masih dipenuhi dengan berhala-berhala, yang berjumlah sekitar 360 berhala. Ajaran tauhid murni Nabi Ibrahim telah hilang, bercampur dengan khurofat dan adat jahiliyah untuk mengunjungi tempat suci Ka’bah, serta beberapa tamu dari berbagai tempat, yang memakainya untuk penyembahan berhala-berhala. Pada saat itu, masih ada kelompok kecil yang terdiri dari pria maupun wanita yang menghindari tercemarnya peribadatan di tempat suci Ka’bah clan menjaga kemurnian agama Ibrahim (lihat Bab Sejarah Peradaban Islam). Selama waktu ziarah tersebut mereka menjauhkan diri dari keramaian orang, berkhalwat dan mendekatkan diri kepada tuhan mereka dengan bertapa dan berdoa, mengharapkan diberi rezeki dan pengetahuan. Pengasingan untuk beribadat semacam ini mereka namakan tahannuf dan tahannuth.

Nabi Muhammad adalah termasuk golongan tersebut, berkhalwat di gua, untuk mendalami pikiran dan renungan yang berkecamuk dalam dirinya. Juga ditempat ini beliau mendapatkan ketenangan dalam dirinya.

Dipuncak Gunung Hira’-sejauh dua farsakh sebelah utara Mekah terletak sebuah gua yang baik sekali buat tempat menyendiri dan tahannuth. Sepanjang bulan Ramadlan tiap tahun beliau pergi kesana dan berdiam ditempat itu, cukup hanya dengan bekal sedikit yang dibawanya, beliau bertekun dalam renungan dan ibadat, jauh dari segala kesibukan hidup clan keributan manusia, untuk mencari Kebenaran.

Tatkala Nabi sedang dalam keadaan tidur dalam gua itu, seorang diri di tengah malam yang gelap gulita. Datanglah malaikat Jibril dengan suara yang keras, terkejutlah beliau, apalagi selama ini beliau belum pernah mengenalnya, sehingga beliau terbangun dengan perasaan terkejut dan takut, hati berdebar-debar, tubuh gemetar, apalagi pada saat beliau dipeluk erat-erat seraya berkata kepada beliau : iqra’ “bacalah” dengan ketakutan beliau menjawab: “ma aqra” saya tidak dapat membaca. Kemudian malaikat Jibril berkata lagi : iqra’ “bacalah” masih dalam keadaan ketakutan beliau kemudian menjawab “madzh aqra”‘ apa yang akan saya baca. Seterusnya malaikat itu berkata:

“Bacalah! Dengan nama Tuhanmu Yang rnenciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah. Dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajarkan dengan pena. Mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya. ” (Qur’an, 96:1-5)

 

Lalu beliau mengucapkan bacaan itu. Malaikat Jibril pun pergi, setelah kata-kata itu terpateri dalam kalbunya. Kemudian beliau terbangun ketakutan, sambil bertanya-­tanya kepada dirinya : Gerangan apakah yang dilihatnya? Beliau menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi tak melihat apa-apa. Beliau diam sebentar, gemetar ketakutan. Kuatir akan apa yang terjadi dalam gua itu. Beliau lari dari tempat itu. Semuanya serba membingungkan. Beliau tak dapat menafsirkan apa yang telah dilihatnya itu. Cepat-cepat beliau pergi sambil menyusuri celah­celah gunung, beliau memasuki gunung masih dalam ketakutan, masih bertanya-tanya. Tiba-tiba beliau mendengar ada suara memanggilnya. Dahsyat sekali rasanya. Beliau melihat ke permukaan langit. Tiba-tiba yang terlihat adalah malaikat dalam bentuk manusia. Dialah yang memanggilnya. Beliau makin ketakutan sehingga tertegun di tempatnya. dipalingkannya muka beliau dari apa yang dilihatnya itu, tetapi masih juga melihatnya di seluruh ufuk langit. Sebentar melangkah maju, tapi rupa malaikat yang sangat indah itu tidak juga berlalu dari hadapan beliau. Karena lamanya beliau dalam keadaan demikian, pada saat itu Khadijah telah mengutus orang untuk mencarinya ke dalam gua tapi tidak menjumpai beliau. Jadi bukan kecemasan yang dialami oleh beliau, sehingga beliau ingin mencoba bunuh diri seperti tuduhan Dr. Robert Morey.5

Setelah rupa malaikat itu menghilang Nabi Muhammad pulang sudah berisi wahyu yang disampailcan kepadanya. Jantungnya berdenyut, hatinya berdebar-debar. Dijumpainya Khodijah sambil berkata: “Selimuti aku! Selimuti aku!” beliau segera diselimuti. Tubuhnya menggigil seperti dalam demam. Setelah rasa ketakutan itu berangsur reda dipandangnya istrinya sambil bertanya : “Khadijah, kenapa aku?” katanya, dan menceritakan apa yang terjadi tadi. Dengan tenang dan pandangan penuh hormat Khadijah menatap beliau, seraya berkata:

“O putra pamanku. Bergembiralah, dan tabahkan hatimu. Demi dia yang memegang hidup Khadijah, aku berharap kiranya engkau akan menjadi Nabi atas umat ini. Samasekali Allah takkan mencemoohkan kau; sebab engkau yang mempererat tali kekeluargaan, jujur dalam kata-kata, kau yang mau memikul beban orang lain dan menghormati tamu dan menolong mereka yang dalam kesulitan atas jalan yang benar.”

Kemudian Nabi pun merasa tenang kembali. Untuk lebih meyakinkannya, Khadijah menyarankan agar mereka berkonsultasi pada sepupunya Waraqah, yang telah mempelajari kitab suci dan dapat memberi mereka nasehat yang lebih pasti. Waraqah tidak ragu sedikitpun. “Suci! Suci!” dia berseru seketika: `Jika kau telah berkata yang sebenarnya padaku, oh Khadijah, telah datang dalam dirinya Namus terbesar yng pernah mendatangi Musa sebelumnya, dan benar, dialah Nabi dari masyarakatnya.” Lain kali ketika dia menjumpai Muhammad di Ka’bah, orang Kristen itu berlari menghampiri Nabi baru dari Tuhan yang Maha Esa itu dan mencium keningnya.

Artikel Terkait :

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: