Aliey Faizal

'Isy Kariiman Aw Muth Syahiidan

Keluarga Muslim Ideal: Dua Anak Cukup?

Posted by Aliey Faizal pada 16 Juni 2012

Di era orde baru, zaman pemerintahan Pak Harto, program Keluarga Berencana (KB) begitu digalakkan. Slogan “Dua Anak Cukup” banyak terpampang di spanduk maupun iklan, baik di media cetak maupun media elektronik. Bahkan salah satu cara yang digunakan pemerintah untuk mensukseskan program KB adalah dengan membatasi tunjangan untuk anak Pegawai Negeri Sipil (PNS) hanya untuk dua anak saja.

Meski sekarang desakan-desakan dari pemerintah kepada masyarakat agar melakukan KB sudah tidak segencar dulu, bukan berarti anjuran untuk ber-KB bagi pasangan suami-istri tidak dilakukan. Dalam hal ini Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang memainkan peran.

Jika yang dimaksud sebagai Keluarga Berencana (KB) adalah gerakan untuk membentuk keluarga yang sejahtera dengan membatasi kelahiran, tentu saja hal tersebut bertentangan dengan anjuran Rasulullah SAW agar umatnya menikah dan memperbanyak keturunan. Lihatlah bagaimana Rasulullah SAW bersabda:

“Nikahilah wanita yang penyayang dan subur keturunannya karena sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian di hadapan para nabi yang lain pada hari kiamat nanti”.

Dan yang penting yang harus kita ketahui, bahwa pengaturan atau pengendalian kelahiran yang  digalakkan oleh pemerintah kita merupakan konspirasi dari orang-orang kafir yang sengaja dibuat untuk melawan kaum muslimin, sebab mereka takut kalau-kalau pertumbuhan umat Islam akan mengancam tujuan, dominasi atau pengaruh dan kepentingan mereka.

Dua Anak Cukup?

Dua anak cukup. Tiga anak lebih dari cukup. Empat anak? Baik. Lima anak, baik sekali. Enam ke atas, istimewa. Demikian dikatakan oleh Mohammad Fauzil Adhim, seorang penulis buku-buku best seller dan pakar parenting, dalam bukunya “Positive Parenting”.

Benar! Sebab kita adalah seorang muslim dan juga pejuang Islam yang memiliki cita-cita besar. Diantara yang harus kita siapkan dalam berjuang untuk sebuah tujuan yang besar adalah generasi yang banyak dan berkualitas.

Pikiran kita tentang berapa anak yang ingin kita punya, sangat berpengaruh pada perilaku. Kalau kita ingin memiliki anak dua saja karena tidak mau repot mengurusi mereka, kita justru akan merasa peka dan terbebani pada setiap kerepotan. Sehingga apapun perilaku mereka, terasa sangat merepotkan.

Jika kita mencukupkan dua anak karena alasan biaya pendidikan cukup mahal di negeri ini, maka kita baru saja jatuh pada sikap yang menyebabkan cara asuh kita menjadikan jiwa anak akan lemah dan rapuh. Tidaklah kita menghalang-halangi anak kita lahir  kecuali karena lemahnya iman dan rapuhnya keyakinan pada Allah Yang Maha Menciptakan. Ingatlah firman Allah SWT,

“Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu Yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).” (QS. Al An’am : 151)

Banyak pelajaran yang hadir di hadapan kita, bagaimana orang besar yang memberikan pengaruh pada jalannya sejarah terlahir bukan dari gedung-gedung megah dengan harta berlimpah. Di antara mereka justru lahir dan dibesarkan dalam keadaan kekurangan, tetapi mereka dipenuhi kasih sayang, perhatian yang tulus, doa yang tak putus-putus dari orang tua mereka. Imam Syafi’i salah satu contohnya.

Tentu tidak salah jika kita ingin mengatur jarak kelahiran antar anak. Kita juga boleh merencanakan bagaimana membesarkan anak-anak kita. Jangankan lima anak, satu saja harus kita rencanakan dengan sungguh-sungguh agar kita tidak meninggalkan generasi yang kita khawatir nasibnya setelah kita tiada. Tetapi pada saat yang sama kita harus selalu ingat, bahwa jika Allah berkehendak, maka tak ada yang dapat menghalangi meski seribu cara sudah kita jalani.

Idealnya prinsip sebuah keluarga muslim mengenai jumlah anak adalah dua anak cukup, tiga anak lebih dari cukup, empat anak baik, lima anak baik sekali, enam ke atas istimewa. Maka, jika hari ini kita memutuskan untuk cukup memiliki dua anak, tidak kurang tidak lebih, bertanyalah pada diri kita, apakah niat kita? Semoga bukan karena takut repot, karena boleh jadi ketakutan itu yang justru membuat mereka sangat merepotkan. Semoga juga bukan karena takut miskin, karena boleh jadi kekhawatiran itulah yang membuat kita tidak sanggup mengantarkan mereka pada kesuksesan dan kemuliaan. Padahal mereka yang lebih miskin, mampu mengantarkan anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Wallahu’alam Bi Showwab.

Artikel Terkait :

2 Tanggapan to “Keluarga Muslim Ideal: Dua Anak Cukup?”

  1. Schulamt maikl said

    Hallo

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: