Aliey Faizal

'Isy Kariiman Aw Muth Syahiidan

Hijrah Ke Madinah

Posted by Aliey Faizal pada 16 Juni 2012

VI. RASULLULLAH DAN HADITS
Kenapa kalian membunuh

para utusan Allah…?

KEHIDUPAN NABI MUHAMMAD

Hijrah ke Madinah

Meskipun Rasulullah diterima di Mekah, ini bukan solusi jangka panjang. Pada saat itu Rasulullah mulai berkhotbah pada peziarah Badui yang datang untuk musim haji, sambil berharap menemukan pelindung yang lebih permanen di antara mereka. Beliau mulai memperluas misinya dengan memasukkan suku­suku Badui sangat kasar dan menghina, clan tak menampakkan minat sedikitpun pada agama Islam.

Pada musim haji tahun 620, ketika Rasulullah berkunjung dari satu kemah ke kemah lainnya, beliau menjumpai 6 orang dari Yatsrib. Rasulullah duduk bersama mereka, menceritakan kepada mereka tentang misinya dan membacakan al Quran. Kali ini, bukannya mendapat kekasaran dan penolakan, beliau mend apati orang Arab yang penuh perhatian clan bersemangat. Ketika beliau selesai berbicara, mereka saling memandang satu dengan yang lainnya dan berkata bahwa ini pasti sang Nabi yang sering dibicarakan orang-orang Yahudi di Yastrib. Selama bertahun-tahun orang-orang Yahudi itu telah mencela tetangganya, kaum penyembah berhala, dengan kisah-kisah seorang Nabi yang akan menghancurkan mereka, seperti suku­suku kuno Arab Ad clan Aram dibinasakan. Jika Muhammadlah Nabi yang dimaksudkan itu, sangat penting untuk mencegah para Yahudi itu menemukannya terlebih dahulu. Seketika itu luga mereka melihat bahwa Muhammad dapat memecahkan banyak masalah yang tak dapat diatasi di Yatsrib.15

Adapun keenam orang tersebut itu adalah As’ad bin Zurarah dari bani an Najjar, Rafi bin Malik dari bani Zuraik, Auf bin Harits dari Bani an Najjar, Quthbah bin Amir dari Bani slamh, Uqbah bin Amir dari Bani Hiram, clan Jabir bin Abdiwah dari Bani Ubaid. Setelah enam orang tersebut menerima dakwah Islam, Rasulullah mengajak mereka pindah ke tempat yang lebih sunyi, yakni suatu tempat yang terletak di bawah bukit Aqabah. Di tempat itulah mereka menerima Islam. Setelah berunding mereka menyatakan percaya dengan sungguh-sungguh terhadap kerasulan Nabi Muhammad saw. dan mengharapkan mereka untuk bersatu dan saling menolong untuk menyiarkan agama Islam.

Setelah keenam orang tersebut kembali ke Madinah, mereka menyiarkan keislamannya kepada seluruh penduduk Madinah sekaligus mengembangkan seruan Rasulullah ke tengah-tengah masyarakatnya. Mereka menceritakan adanya seorang Nabi dan Rasul terakhir yang dibangkitkan di kota Mekah. Oleh sebab itu, nama Nabi Muhammad menjadi terkenal di kalangan penduduk Madinah, padahal beliau belum pernah datang kesana.

Pada musim haji berikutnya, yaitu tahun ke 12 dari kenabian, sebagaimana telah mereka janjikan sendiri, lima dari enam orang tersebut datang lagi ke Mekah bersama dengan kawan-kawan mereka dari Yatsrib sebanyak tujuh orang. Jadi, mereka berjumlah dua belas orang. Kedua belas orang ini kemudian di bai’at oleh Nabi. Mereka akhirnya menjadi penolong dan pembela Rasulullah.

Demikian juga pada musim haji berikutnya ada 75 orang lagi yang datang, 73 laki-laki dan dua perempuan. Nabi membai’at 75 orang tersebut. Dan mereka juga siap untuk melindungi Rasulullah.

Sejak kembalinya orang-orang yang telah dibaian oleh Nabi saw ke Madinah, makin hari makin banyak penduduk Madinah yang masuk Islam. di setiap kampung di kota Madinah pasti ada penduduknya yang telah memeluk agama Islam walaupun hanya satu orang sehingga dapat dikatakan bahwa tidak ada satu kampungpun di Madinah yang tidak ada ruh Islam.

Akan tetapi, kaum muslimin yang tinggal di Mekah terutama Rasulullah sangatlah menderita. Mereka mengalami kesulitan dan kesengsaraan akibat perbuatan kaum musyrikin Quraisy. Setelah kaum musyrikin Quraisy mendengar berita bahwa orang-orang dari golongan Aus dan Khazraj di Madinah telah banyak yang mengikuti seruan Nabi saw dan mengadakan perjanjian tolong-menolong dengan beliau, bertambah hebat perbuatan mereka merintangi dan mengancam kaum muslimin di Mekah. Setiap hari, Nabi terus-menerus menerima berita dari sahabat-sahabatnya, baik laki-laki maupun perempuan, yang dianiay oleh kaum musyrikin Quraisy. Oleh sebab itu, beliau memerintahkan kepada sahabat-sahabatnya supaya hijrah ke Madinah. Hanya sahabat Abu Bakar dan Ali serta keluarga Nabi yang tidak beliau perintahkan untuk pindah. Mereka menemani dan menjaga beliau di Mekah sebelum beliau mendapat perintah hijrah dari Allah. Kaum muslimin segera berkemas-kemas untuk pindah ke Madinah. Seorang demi seorang, sepasang demi sepasang, dengan diam-diam berangkat pada tengah malam menuju Madinah.16

Di bulan Agustus, pelindung Muhammad, Muth’im bin Adi, meninggal dunia. Sekali lagi hidup Rasulullah terancam bahaya. Ada pertemuan khusus mengenai beliau di Majelis, dan Abu Lahab secara hati-hati tidak hadir. Beberapa kepala keluarga ingin Muhammad keluar dari kota, namun lainnya menyadari, akan lebih berbahaya bila Rasulullah bergabung dengan emigran (Muhajirin) lain. Semua yang telah melakukan hijrah adalah para pengkhianat yang tidak berprinsip dan sangat kesulitan. Mereka telah memutuskan ikatan sacral persaudaraan. Mereka tak akan berhenti, dan dengan Rasulullah sebagai pimpinan, mereka dapat menjadi ancaman bagi keamanan Mekkah. Abu Jahl akhirnya mengusulkan untuk menyingkirkan Rasulullah tanpa menyebabkan pertumpahan darah. Setiap klan/keluarga akan memilih laki-laki muda yang kuat dan punya hubungan luas sebagai wakil. Anak-anak muda ini akan membunuh Muhammad bersama-sama. Ini berarti bahwa semua klan tersangkut, sehingga Hasyim akan cukup puas dengan uang pengganti darah. Mereka (klan Hasyim) tak akan sanggup memerangi seluruh Quraisy.

Gerombolan anak-anak muda itu segera direkrut. Mereka berkumpul di luar rumah Rasulullah. Namun mereka terganggu mendengar suara Saudah dan anak-anak perempuan Rasulullah dari jendela. Sangat memalukan untuk membunuh seorang laki­laki di hadapan anak-anak dan istrinya. Mereka memutuskan untuk menunggu sampai dia meninggalkan rumah di pagi hari.

Salah seorang anggota konspirasi itu melongok melalui jendela dan melihat Rasulullah sedang berbaring di tempat tidurnya, terbungkus selimut. Mereka tidak menyadari bahwa beliau, mengetahui rencana mereka melalui malaikat Jibril, beliau telah melarikan diri melalui jendela belakang. Beliau meninggalkan Ali, yang menunda hijrahnya untuk membantu Rasulullah menyelesaikan urusannya. Ali lah yang berbaring di tempat tidur mengenakan pakaian Muhammad. Ketika Ali keluar rumah keesokan harinya dalam selimut Rasulullah, para anak muda itu menyadari bahwa mereka telah tertipu. Suku Quraisy menawarkan hadiah seratus unta betina kepada siapapun yang dapat membawa kembali Muhammad, dalam keadaan mati atau hidup.

Sementara itu Rasulullah dan Abu Bakar tengah bersembunyi di sebuah gua di salah satu pegunungan di luar kota. Mereka tinggal di persembunyian itu selama tiga hari. Dari waktu ke waktu para pendukung mereka menyelinap keluar kota membawakan mereka kabar dan kebutuhan.

Setelah tampak aman, Rasulullah dan Abu Bakar keluar gua, dengan hati-hati agar tak mengganggu merpati gunung. Mereka segera menunggu unta yang telah disiapkan Abu Bakar. Abu Bakar bermaksud memberikan unta terbaiknya untuk Rasulullah, namun beliau mendesak untuk membayarnya. Ini hijrah pribadinya, persembahannya kepada Tuhan, jadi penting baginya untuk melakukan semuanya dengan usaha sendiri. Beliau memanggil untanya Qaswa dan unta itu menjadi tunggangan kesukaannya hingga akhir hidupnya.

Perjalanan yang mereka tempuh sangat berbahaya, karena dalam keadaan seperti itu Rasulullah tidak di bawah perlindungan resmi siapa pun. Pemandu membawa mereka melalui rute yang berputar-putar, agar pengejarnya kehilangan jejak. Sementara itu, ummat Muslim di Madinah telah sangat mengharapkan kedatangan mereka. Pada pagi hari tanggal 4 September 622, seorang Yahudi melihat rombongan Nabi dan berteriak kepada kaum Anshar:” Putra-putra Qailah! Dia datang, dia datang! Seketika itu laki-laki, perempuan dan anak-anak, bergegas keluar menjumpai sang pengelana, yang tengah beristirahat di bawah pohon palem.

Sejak saat itu terbentuklah suatu kelompok suku yang tidak terikat oleh hubungan darah, tetapi oleh persamaan ideology, sebuah inovasi mengagumkan dalam masyarakt Arab. Tidak seorangpun dipaksa masuk agama berkitab suci al Qur’an, tetapi orang-orang Islam, para pemuja berhala, dan Yahudi, yang semuanya menjadi anggota dari satu masyarakat tidak bisa menyerang satu sama lain dan berjanji untuk saling melindungi. Berita tentang “suku super” baru yang luar biasa ini segera menyebar, dan walaupun pada permulaannya tidak seorang pun yang berharap akan mempunyai kesempatan untuk bertahan, namun suku baru tersebut membuktikan telah menjadi inspirasi yang akan membawa perdamaian di Arab sebelum wafatnya Nabi pada ahun 632, hanya 10 tahun setelah hijrah.17

NOTES

15. Karen Amstrong, Ibid., hal 194

16. Munawar Cholil, sejarah nabi, hal 109

17. Karen Amstrong, a short History, hal 17 

Artikel Terkait :

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: