Aliey Faizal

'Isy Kariiman Aw Muth Syahiidan

Gharaniq (Ayat-ayat Setan)

Posted by Aliey Faizal pada 16 Juni 2012

VI. RASULLULLAH DAN HADITS
Kenapa kalian membunuh

para utusan Allah…?

KEHIDUPAN NABI MUHAMMAD

Gharaniq (Ayat-Ayat Setan)

Kaum Muslimin tinggal disana hanya tiga bulan lamanya, setelah dilihat bahwa gangguan dari kaum Quraisy agak surut, mereka kembali lagi ke Mekkah. Tetapi sesampainya mereka di Mekkah, ternyata pihak Quraisy kembali menyiksa kaum Muslimin.

Setelah Rasulullah melihat pihak Quraisy menjauhinya dan sahabat-sahabatnya disiksa. Pada keadaan yang demikian ini timbullah cerita gharaniq -yang dikarang-karang oleh Dr. Robert Morey dan para Orientalis, mereka yang ingin memasukkan racun ke dalam kaum Muslimin, tentang nabi-nabi, al Quran, dan ajaran-ajaran Islam -. Dia mengatakan” Untuk menenangkan para anggota keluarganya yang menyembah berhala dan juga para anggota suku Quraisy, dia memutuskan bahwa hal yang terbaik yang dapat dilakukannya adalah mengakui bahwa adalah pantas-pantas saja jika orang-orang bersembahyang dan menyembah ketiga puteri Allah: Al Lata, Al Uzza, dan Manat. Diceritakan bahwa Rasulullah berharap-harap sambil mengatakan : Coba aku tidak mendapat perintah apa-apa yang kiranya akan menjauhkan mereka dari aku. la mengumpulkan golongannya dan mereka bersama-sama pada suatu hari duduk­duduk dalam sebuah tempat pertemuan di sekitar Mekah. Kepada mereka dibacakan Surat an Najm sampai pada firman Allah :

“Adakah kamu perhatikan Lat dan `Uzza. Dan itu Manat ketiga, yang terakhir?”

Sesudah itu dibacakan pula: ‘Itu gharaniq yang luhur, perantaraanya sungguh dapat diharapkan’: Secara penyelidikan ilmiah ternyata ini tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Yang pertama sekali sebagai bukti ialah adanya bebarapa sumber yang beraneka ragam. Pernah diceritakan bahwa ungkapan itu ialah “Itu gharaniq yang luhur, perantaraannya sungguh dapat diharapkan”. Sumber lain menyebutkan: “Gharaniqa yang luhur, perantaraannya dapat diharapkan”. Sumber selanjutnya menyebutkan: “Perantaraannya dapat dlharapkan”, ; tanpa menyebutkan gharaniqa atau gharaniq. Sumber keempat mengatakan: ‘Dan sebenarnya itulah gharanaiq yang luhur”. Sumber kelima menyebutkan: ‘Dan sebenanya mereka itulah gharaniq yang luhur, dan perantaraan mereka bagi mereka yang diharapkan’: Dalam beberapa buku hadits disebutkan adanya sumber-sumber lain di samping yang lima tadi. Adanya keaneka­ragaman dalam sumber-sumber tersebut menunjukkan, bahwa hadist itu palsu adanya, dan bikinan golongan atheis, seperti kata Ibn Ishaq, dan tujuannya ialah hendak menanamkan kesangsian tentang kebenaran ajakan Nabi Muhammad clan risalah Tuhan itu.

a. Segi Semantik

 

Argumen yang dikemukakan oleh Syaikh Muhammad Abduh membantah cerita ini, yaitu bahwa belum pernah ada orang Arab menamakan dewa-dewa mereka dengan gharaniq, baik dalam sajak-sajak atau dalam pidato-pidato mereka. Juga tak ada berita yang dibawa orang mengatakan bahwa nama demikian itu pernah dipakai dalam percakaan mereka. Tetapi yang ada ialah sebutan ghurnuq dan ghirniq sebagai nama sejenis burung air, entah hitam atau putih, clan sebutan untuk pemuda yang putih dan tampan. Dari semua itu, tak ada yang cocok untuk diberi arti dewa, juga orang-orang Arab dahulu tak ada yang menamakannya demikian

b. Konteks surat an-Najm

Bukti lain yang lebih kuat dan pasti, ialah konteks atau susunan Surah an-Najm yang sama sekali tidak menyinggung soal gharaniq ini. Konteks itu seperti dalam firman Allah surat an­ Najm, 53:18-23,11 menggambarkan jelas sekali bahwa Lat dan “Uzaa adalah nama-nama yang dibuat oleh kaum musyrik, mereka dan nenek moyang mereka, sedang Allah tidak memberikan kekuasaan untuk itu. Bagamaina mungkin susunan itu akan berjalan sebagai berikut: Adakah kamu perhatikanh Lat dan ‘Uzza. Dan Manat yang ketiga, yang terakhir. Itu gharaniq yang luhur, perantaraannya dapat diharapkan. Adakah untuk kamu itu yang laki-laki dan untuk Dia yang perempuan ? kalau begit! u ini adalah pembagian yang tak seimbang. Ini hanyalah nama-nama yang kamu buat sendiri, kamu dan nenek-moyang kamu. Allah tidak memberikan kekuasaan karenanya.”

Susunan ini rusak, kacau dan bertentangan satu sama lain. Dari pujian kepada Lat, ‘Uzza dan Manat ketiga yang terakhir dan celaan dalam empat ayat berturut-turut tak dapat diterima akal dan tak ada orang yang akan berpendapat begitu.

Yang demikian ini sudah tak dapat diragukan lagi, dan bahwa hadis tentang gharaniq itu adalah palsu dan bikinan golongan atheis dengan maksud-maksud tertentu. Orang yang suka pada yang aneh-aneh dan berpikir logis, tentu percaya akan hadis ini.

 

c. Kejujuran Nabi Muhammad

 

Masih ada lagi sebuah argumen yang dapat kita kemukakan sebagai bukti bahwa cerita gharaniq ini mustahil akan ada dalam sejarah hidaup Nabi Muhammad sendiri. Sejak kecilnya, semasa anak-anak dan semasa mudanya, belum pernah terbukti ia berdusta, sehingga ia diberi gelar Al Amin, « yang dapat dipercaya, » pada waktu usianya belum lagi mencapai dua puluh lima tahun. Kejujurannya sudah merupakan hal yang tak perlu diperbantahkan lagi di kalangan umum, sehingga ketika suatu hari sesudah kerasulannya ia bertanya kepada Quraisy:

“Bagaimana pendapatmu sekallan kalau kukatakan, bahwa Pada permukaan bukit ini ada pasukan berkuda. Percayakah kamu ? “Jawab mereka: “Ya engkau tidak pernah disangsikan. Belum pernah kami melihatkau berdusta. “

Jadi orang yang sudah dikenal sejak kecil hingga tuanya begitu jujur, bagaimana orang akan percaya bahwa ia mengatakan sesuatu yang tidak dikatakan oleh Allah, ia akan takut kepada orang dan bukan kepada Allah ! hal ini tidak mungkin. Mereka yang sudah mempelajari jiwanya yang bergitu kuat, begitu cemerlang, jiwa yang begitu membentang mempertahankan kebenaran dan tidak pula pernah mencari mukadalam soal apa pun, akan mengetahui ketidakmungkinan cerita ini. Betapa kita meliha Nabi Muhammad berkata: Kalau Quraisy meletakkan matahari di sebelah kanannya, dan meletakkan bulan di sebelah kirinya dengan maksud supaya ia melepaskan tugasnya, akan mati sekalipun dia tidak akan melakukan hal itu – bagaimana pula akan mengatakan sesuatu yang tidak diwahyukan Allah kepadanya, dan mengatakan itu untuk meruntuhkan sendi agama yang oleh karenanya ia diutus Allah sebagai petunjuk dan berita gembira bagi seluruh umat manusia !

Dan mengapa pula ia kembali kepada Quraisy guna memuji-muji dewa dewa mereka ? ataukah sesudah sepuluh tahun atau sekian tahun dari kerasulannya, demi tugas yang besar itu ia sanggup memikul pelbagai macam siksaan, berupa­rupa pengorbanan, sesudah Allah memperkuat Islam dengan Hamzah dan Umar dan sesudah kaum Muslimin mulai menjadi kuat di Mekah, dengan berita yang sudah meluas pula ke seluruh jazirah, ke Abisinia dan semua penjuru ?!

Mereka yang menciptakan cerita ini sebenarnya sudah merasakan bahwa hal ini akan mudah terbongkar. Mereka lalu berusaha menutupinyadengan mengatakan, bahwa begitu Nabi Muhammad mendengar kata-kata Quraisy bahwa dewa-dewa mereka sudah mendapat tempat segai perantara, hal itu berat sekali dirasanya, sehingga ia kembali kepada Tuhan bertobat, dan begitu ia pulang ke rumah sore itu Jibril pun datang. Tetapi tabir ini akan terbuka juga kiranya. Kalau hal itu oleh Nabi Muhammad sudah sangat luar biasa, ketika ia mendengar kata­kata Quraisy itu, apalagi ia sampai akan mengoreksi wahyu pada waktu itu juga.

Jadi masalah ayat-ayat setan ini memang samasekali tidak punya dasar, dan samasekali tak ada hubungannya pula dengan kembalinya Muslimin dari Abisinia. Seperti disebutkan di atas, mereka kembali karena Umar sudah masuk Islam dan dengan semangatnya yang sama seperti sebelum itu ia membela Islam, sampai menyebabkan Quraisy terpaksa mengadakan perjanjian perdamaian dengan Muslimin. Juga mereka kembali pulang ketika di Abisinia sedang berkecamuk pemberontakan. Mereka kuatir akan akibatnya. Tetapi setelah Quraisy mengetahui mereka kembali, kekuatirannya makin bertambah akan besarnya pengaruh Nabi Muhammad di kalangan mereka. Quraisy pun lalu membuat rencana mengatur langkah berikutnya, yang berakhir dengan dibuatnya piagam yang menetukan di antaranya tidak akan saling mengawinkan, berjual beli dan bergaul dengan Banu Hasyim, dan yang juga sudah sepakat di antara mereka, akan membunuh Nabi Muhammad jika dapat.

Jadi sasaran mereka yang telah melakukan pemalsuan terhadap masalah yang begitu teguh menjadi pegangan Nabi Muhammad yang tak ada taranya itu, hanya menunjukkan suatu kecerobohan yang tidak rasional, dan yang sekaligus menunjukkan pula, bahwa mereka yang masih cenderung mau mempercayainya ternyata telah tertipu

 

NOTES

11. Sungguh dia telah melihat keterangan-keterangan yang amat besar dari Tuhan. Adakah kamu perhatikan Lat dan `Uzza? Dan Manat ketiga, yang terakhir? Adakah untuk kamu itu yang laki-laki dan untuk Dia yang perempuan? Kalau begitu ini adalah pembagian yang tak seimbang. Ini hanyalah nama-nama yang kamu buat sendiri, kamu dan nenek moyang kamu. Allah tidak memberikan kekuasaan karenanya ; yang mereka turuti hanyalah prasangka dan kehndak nafsu belaka. Dan pada mereka pimpinan yang benar dari Tuhan sudah pernah ada. 

Artikel Terkait :

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: