Aliey Faizal

'Isy Kariiman Aw Muth Syahiidan

Dari Nama, Harapan Kita Bermula

Posted by Aliey Faizal pada 16 Juni 2012

Seorang sahabat datang kepada Rasulullah saw dengan menggandeng anaknya, lalu dia bertanya, “Ya Rasulullah, apa hak anakku ini atasku?” Rasulullah saw menjawab, “Membaguskan namanya, memperbaiki adabnya, dan menempatkannya pada kedudukan yang baik.” (HR. Ath-Thusi)

What’s the meaning of name, demikian diungkapkan oleh Shakespeare. Namun tentu saja kita bukanlah penganut Shakespeare yang menganggap nama bukanlah sebuah persoalan penting. Islam, agama kita, justru menempatkan urusan pemberian nama sebagai hal yang penting dan harus diperhatikan. Begitu pentingnya, sampai-sampai dalam riwayat yang telah disebutkan di atas, Rasulullah saw menempatkan memberi nama yang bagus (baik) kepada anak dalam urutan pertama diantara hak-hak anak yang harus dipenuhi.

Nama dalam Pandangan Islam

Islam memiliki pandangan yang begitu luar biasa dalam soal pemberian nama. Mengenai arti penting dari sebuah nama, Allah swt menegaskan dalam firman-Nya:

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”. Mereka menjawab: “Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Baqarah : 31-32)

Dalam kisah yang mengawali perintah Allah swt kepada jin agar bersujud kepada Adam tersebut, ilmu yang diajarkan kepada Adam adalah pengetahuan tentang nama-nama (benda).

Begitu tinggi Islam menempatkan kedudukan sebuah nama. Sebab, ketika orang tua memberikan nama kepada anaknya, sesungguhnya hal itu merupakan cerminan harapan dan doa untuk sang anak.  Oleh karena itu, seorang muslim dianjurkan agar memberi nama anaknya dengan nama yang baik, indah, dan mengandung makna yang mulia.

Pengaruh Nama Terhadap Pemiliknya

Al Imam Ibnu Qoyyim Al Jauziyah berpendapat bahwa antara nama dengan sifat orangnya berkaitan dalam makna dan hikmah. Setidaknya nama dapat menimbulkan sugesti (pengaruh yang dapat menggerakkan hati) dan sifat optimisme (memberi harapan yang baik).

Dari sisi lain, nama juga dapat memberikan dampak psikologis yang cukup besar kepada anak. Dan pada kenyataannya, nama sering menjadi penentu keberhasilan hidup seseorang. Beberapa pengaruh psikologis itu antara lain:

1.    Pencitraan Diri

Tidak salah jika nama sering diartikan sebagai sebuah doa atau pengharapan. Ya, sebab nama adalah sesuatu yang sering disebut ketika seseorang memanggil orang lain, dan itu menyebabkan nama terekam dengan sangat baik di otak. Jika nama yang diberikan mengandung makna positif, hal tersebut memudahkan alam bawah sadar untuk memunculkan karakter positif. Tapi jika nama yang diberikan mengandung makna negatif, hal itu juga dapat membentuk pencitraan negatif seseorang terhadap dirinya sendiri.

2.    Menarik Perhatian

Memberi nama yang mudah diplesetkan, atau nama yang menggunakan bahasa asing akan cenderung menarik perhatian. Bagi anak yang memang dipersiapkan dengan baik untuk menjadi pusat perhatian, nama-nama yang demikian dapat meningkatkan rasa percaya dirinya. Namun bagi anak yang sejak awal kurang memiliki rasa percaya diri, nama-nama yang kedengarannya aneh di lingkungan sekitar, justru akan menjadikannya semakin minder.

3.    Konotasi Negatif Yang Menyakitkan

Hati-hati memberi julukan pada orang lain, terutama kepada anak. Sebagai contoh, sering kita dapati dengan mudahnya kita memanggil anak yang kepalanya botak dengan panggilan “Botak” atau anak yang berkulit hitam dengan panggilan “Item” dan lain sebagainya. Jika panggilan tersebut membuat mereka merasa malu, maka hal itu dapat membunuh rasa percaya dirinya.

4.    Ketidaksesuaian Nama

Meski terdengar indah, namun memberi nama seperti “Ayu” atau “Arjuna” dan semisalnya pada anak yang ternyata memiliki wajah yang tidak terlalu cantik atau tampan dapat menyebabkan pemilik nama memiliki konflik batin akibat ketidak sesuaian nama dengan penampilan yang diciptakan Allah swt.

Tuntunan Islam Dalam Memberi Nama

Dalam Islam, memberi nama harus memenuhi adab-adab tertentu. Ada nama-nama yang dianjurkan, ada pula nama-nama yang tidak dianjurkan, bahkan dilarang.

Rasulullah saw bersabda:

“Sebaik-baik nama bagi Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman. Nama yang paling sesuai adalah Harits dan Hammam. Sedangkan nama yang paling buruk adalah Harb dan Murrah.” (HR. Abu Daud dan An Nasai)

Dalam hadits yang diriwayatkan dalam Musnad Al Harits bin Usamah, disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Barang siapa yang mempunyai tiga orang anak dan tidak ada seorang pun diantara mereka yang dinamakan Muhammad, maka dia adalah orang yang bodoh.”

Agar kita terhindar dari memberikan suatu nama yang buruk pada anak, tentu kita harus mengikuti tuntunan Islam dalam memberi nama bagi anak, diantaranya:

1.    Pilih Yang Baik

Dalam sebuah riwayat yang bersumber pada Ali ra, dijelaskan bahwa beliau berkata, “Ketika Hasan sudah lahir, Rasulullah datang seraya berkata, ‘Perlihatkanlah anakmu kepadaku. Dengan apa kamu menamainya?’ Maka saya menjawab, ‘Saya menamainya Harb (perang).’ Beliau berkata, ‘Namailah dia Hasan.’ Dan ketika Husain lahir, kami menamainya Harb, lalu Rasulullah menamainya Husain. Dan ketika anak yang ketiga lahir, beliau berkata, ‘Namanya Muhassin.’ Kemudian beliau berkata lagi, ‘Aku menamai mereka dengan nama anak-anak Harun as: Syabr, Syubair, dan Musyabbir.”

2.    Tidak Mengotori Kehormatan

Diriwayatkan oleh Abu Daud, Rasulullah saw mengganti nama-nama buruk seperti Al-‘Ashi (orang yang bermaksiat), ‘Utullah (orang yang kasar), Habab (sejenis ular atau setan) dan lain sebagainya.

3.    Jauhi Makna Yang Membuat Anak Pesimis

Sa’id bin al-Musayyab menceritakan kakeknya dari bapaknya: Rasulullah saw bertanya kepadaku, “Siapa namamu?” Aku menjawab, “Hazn (susah)”. Beliau bersabda, “Kamu Sahl (mudah)”. Aku berkata bahwa aku tak akan mengubah nama yang telah diberikan kepadaku. Ibnul Musayyab berkata, “Kesusahan itu masih saja terus bersama kami.”

4.    Tidak Menyamai Nama Allah

Rasulullah saw bersabda:
“Orang yang paling dibenci dan buruk di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang dinamakan Malikal Amlak (raja di atas raja). Karena tidak ada raja selain Allah. (HR. Muslim)

Larangan pun berlaku bagi nama-nama Allah yang lain, seperti Ash-Shamad, Al-Khaliq, dll.

Nama Anak Cermin Harapan Orang Tua

Tentu kita menginginkan anak kita menjadi anak yang baik. Menjadi anak sholeh dan sholehah. Juga menjadi pejuang agama Allah. Selain doa-doa yang harus selalu  kita panjatkan kepada Allah swt dan pendidikan yang sesuai dengan tuntunan Al Qur’an dan Sunnah, yang tidak kalah penting adalah berikanlah nama yang baik untuk anak kita. Sebagaimana pesan Rasulullah saw, bahwa memberi nama yang baik adalah merupakan bagian dalam menunaikan hak-hak anak.

Tuangkanlah harapan kita pada nama yang akan kita berikan pada anak. Sebab itu adalah bagian dari doa-doa kita. Yang terpenting, harapan baik kita jangan sedikitpun lepas dari tuntunan syariat Islam. Agar anak kita menjadi berkah bagi dirinya, berkah bagi kita, berkah bagi orang-orang di sekelilingnya, dan di atas semua, agar anak kita menjadi berkah bagi zamannya. Amiin.

Artikel Terkait :

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: