Aliey Faizal

'Isy Kariiman Aw Muth Syahiidan

Dakwah Secara Terang-terangan

Posted by Aliey Faizal pada 16 Juni 2012

VI. RASULLULLAH DAN HADITS
Kenapa kalian membunuh

para utusan Allah…?

KEHIDUPAN NABI MUHAMMAD

Dakwah secara terang-terangan

Setelah kurang lebih tiga tahun lamanya Rasulullah melakukan dakwahnya secara sembunyi-sembunyi, sampai orang yang telah beriman dan mengikuti seruan beliau berjumlah 39 orang. Semuanya taat clan patuh kepada agama yang dibawa oleh Rasulullah saw., Beliau menerima wahyu yang berbunyi:

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokan (kamu). (al Hijr: 94-95).

 

Kemudian diterima lagi wahyu yang berbunyi:

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah, “sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan. ” (asy Syu’ara’ : 214-216).

 

Setelah menerima ayat-ayat tersebut, Nabi saw senantiasa tinggal di rumah satu bulan lamanya. Sepertinya beliau berpikir agak panjang, merasa belum kuat atau sangat berat mengerjakan perintah-perintah itu. Sehingga beliau disangka sedang sakit oleh famili (sanak saudara, terutama oleh paman beliau Abu Thalib) karena setiap hari selama satu bulan beliau tidak pernah keluar dari rumahnya. Oleh sebab itu, pada suatu hari beliau didatangi oleh pamannya yang tercinta, Abu Thalib dengan istrinya dan saudara-saudara dekatnya. Oleh pamannya, beliau ditanya tentang sakitnya. Beliau terperanjat setelah mendengar pertanyaan tersebut. Beliau lalu menerangkan apa yang sedang dihadapinya sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut, yaitu bahwa dirinya tidak sakit. Penyebab beliau tidak keluar rumah adalah karena beliau menerima wahyu dari Allah yang berisi perintah agar beliau menyeru famili (sanak saudara yang terdekat) supaya beriman kepada Allah Yang Maha Esa dan mempercayai seruan beliau. Oleh paman-paman beliau, laki­laki dan perempuan, beliau diizinkan dan diberi kesempatan menjalankan kewajiban beliau dengan seluas-luasnya. Hanya saja mereka berpesan kepada beliau, jika berdakwah kepada famili, hendaklah Abdul Uzza (Abu Lahab) jangan sampai diberi kabar dan jangan pula sampai diikutkan agar dia tidak mendengar seruan beliau.

Sesudah beliau diizinkan dan mendapatkan kesempatan seluas-luasnya dari paman-pamannya, keesokan harinya beliau keluar dari rumah dan pergi ke kampung-kampung yang didiami oleh famili beliau yang terdekat. Beliau memanggil sekalian sanak saudara untuk berkumpul di kaki Gunung Shafa. Ketika itu Abu Lahab ikut beliau panggil, karena dia masih termasuk famili dekat. Beliau memahami bahwa wahyu yang telah diterimanya itu harus disampaikan kepada siapa saja.

Kemudian setelah mereka berkumpul di kaki bukit Shafa, termasuk Abu Lahab, beliau membuka pertemuan dan berbicara di muka yang hadir. Adapun permulaan pembicaraan beliau adalah demikian:

“Bagaimana menurut pendapat kalian jika aku mernberitahukan kepada kalian bahwa ada seekor kuda kelrrar dari dalam gunung irri, lalu ia berkehendak mengubah kamu sekalian, adakah kalian membenarkan aku?.”

 

Sekalian yang hadir menjawab:

“Ya, kami percaya, kami tidak pernah mengetahui engkau (Muhamnrad) bahwa engkau itu dusta. “

 

Tetapi kemudian pertemuan itu dikacaukan oleh Abu lahab. Oleh sebab itu, Nabi saw. membubarkan pertemuan itu. Sesudah hadirin bubar, sebagian dari mereka menyesalkan perbuatan Abu Lahab. Mereka kemudian meminta Nabi saw. untuk mengadakan pertemuan kedua pada hari yang lain, dengan catatan Abdul Uzza (Abu Lahab) tidak dipanggil dan tidak diberi tahu karena jika dikabari sudah tentu dia akan datang dan selanjutnya akan mengacaukan pertemuan lagi.

Pertemuan kedua pun diadakan, tetapi Nabi tetap saja mengundang Abu Lahab. Dan pertemuan kedua inipun juga dikacaukan oleh Abu Lahab, dan oleh Nabi pertemuan pun dibubarkan. Meskipun demikian pada saat itu beliau mendapat banyak dukungan, terutama dari Abu Thalib.

Artikel Terkait :

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: