Aliey Faizal

'Isy Kariiman Aw Muth Syahiidan

Ajarkan Anak Berjihad Sejak Dini

Posted by Aliey Faizal pada 16 Juni 2012

“Jadikanlah rumah kalian sebagai kandang singa. Bukan kandang ayam –yang setelah gemuk dijadikan sembelihan penguasa durhaka –. Tanamkanlah dalam jiwa anak-anak kalian kecintaan berjihad, mencintai lapangan pacuan kuda dan medan-medan pertempuran. Ikutkanlah dalam merasakan kesulitan kaum muslimin.” (DR. Abdullah Azzam)

Ada harap dan cemas, membayangkan akan tumbuh menjadi seperti apa anak-anak kita kelak. Apakah akan menjadi generasi yang sukses dalam pendidikan dan karir, tetapi tidak peduli bahkan tidak tahu kondisi Islam dan umatnya? Atau akan menjadi generasi yang tergilas zaman, membebek pada budaya kafir barat yang jauh dari nilai-nilai Islam? Na’udzubillahi min dzalik.

Tentu kita tidak berharap keduanya. Sudah pasti harapan dan doa yang siang malam kita panjatkan kepada Allah swt adalah agar anak kita tumbuh menadi generasi yang sholeh, yang dengan kekayaan ilmu dan hartanya ia dapat berkhidmad kepada Islam. Generasi yang cinta dan taat kepada Allah, istiqomah dalam menjalankan sunnah Rasulullah, serta mencintai aktivitas dakwah dan jihad di jalan Allah.

Mewujudkan harapan tersebut memang bukan perkara mudah, namun bukan pula sesuatu yang mustahil. Meski demikian, mendidik anak agar tumbuh menjadi pejuang di jalan Allah tidak dapat dilakukan secara instan. Ia butuh keteladanan, pengajaran dan kesabaran yang harus kita lakukan semenjak dini, bahkan sejak anak masih berada dalam kandungan.

Tanamkan Kekuatan Iman, Beri Pemahaman Menyeluruh Tentang Jihad

Mohammad Fauzil Adhim dalam bukunya “Positive Parenting” mengungkapkan bahwa, pada awalnya mengajarkan jihad kepada anak adalah dengan menanamkan iman yang kuat di dada anak-anak kita semenjak dini. Tidak akan pernah lahir generasi yang memiliki kepercayaan diri dan keberanian yang kokoh kecuali apabila mereka yakin kepada Rabb’nya, serta yakin bahwa agama ini adalah yang paling benar.

Ia mampu bersikap berani karena percaya diri yang tinggi, iman yang bersih, dan ilmu yang benar. Bukan karena keberingasan dan kerasnya hati. Kita perlu ajarkan kepada mereka bagaimana sikap tegas dan berani harus ditegakkan, agar kelak mereka dapat melindungi dirinya (hifzh al-nafs), melindungi hartanya (hifzh al-mal), dan membela agamanya (hifzh al-din). Inilah trilogi tujuan syariah, dan memahami jihad adalah pintu awal untuk menegakkannya.

Kita perlu menanamkan kepada anak-anak kita pemahaman tentang jihad secara utuh. Bukan mengajarkan tentang jihad yang benar dan jihad yang salah, sebab tidak ada jihad yang salah. Kalau kemudian ada yang salah memahami jihad sehingga melakukan tindakan yang keliru, maka ini sebenarnya berpangkal pada tidak utuhnya kita memahami jihad. Terlebih ketika hari ini, kita menjumpai banyak sekali istilah yang menggunakan kata jihad sebelum memahami istilah jihad yang sesungguhnya dengan benar, semakin jauhlah kita dari pemahaman tentang jihad secara utuh.

Lebih lanjut dalam bukunya tersebut, ustadz Fauzil Adhim memaparkan bahwa hari ini kita menjumpai ada jihad ekonomi, jihad intelektual, jihad pena, dan seribu atau semiliar istilah lain yang menggunakan awalan kata jihad. Jika siapa pun dapat menambahkan kata apa saja sesudah kata jihad, maka, apakah yang dapat kita ambil dari makna jihad? Tidak ada. Karena kita berjalan pada pikiran kita sendiri-sendiri, bukan dari petunjuk yang Allah jamin tidak ada keraguan di dalamnya. Dan jika itu merasuk ke dalam pemahaman anak-anak kita, maka jangan salahkan jika kelak dewasa ia akan merasa dirinya telah berjihad, meski  hanya duduk-duduk di belakang meja sambil jari-jarinya sibuk memainkan keyboard komputernya.

Maka sekali lagi, yang harus kita lakukan setelah menanamkan keimanan yang kokoh dalam diri anak kita adalah, tanamkan kepada mereka pemahaman tentang jihad secara utuh, sesuai yang diperintahkan dalam Al Qur’an dan sunnah Rasulullah saw.

Tumbuhkan Semangat Jihad Pada Anak

Setelah iman dan pemahaman tentang jihad terpatri kuat dalam diri anak kita, perlu usaha-usaha menumbuhkan semangat mereka untuk berjihad. Di antaranya:
1.    Memperbanyak Ibadah Kepada Allah

Seorang mujahid sangat membutuhkan kualitas keimanan yang tinggi untuk menghadapi nilai-nilai jahiliyah yang tersebar di muka bumi. Jika keimanan sudah mendominasi jiwa anak, maka akan muncul dalam dirinya ruhul istijabah atau bersegera menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya dalam setiap keadaan, baik ringan maupun berat. Sebagaimana firman Allah,

“Berangkatlah kamu baik dalam Keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”
 (QS. At Taubah-41)

Keimanan yang kuat ini hanya dapat diperoleh dengan intensitas hubungan yang juga kuat kepada Allah, yaitu melalui ibadah-ibadah mahdhoh. Diantaranya adalah shalat lima waktu, puasa , dzikir dan lain sebagainya. Tak kalah penting adalah ibadah-ibadah sunnah seperti shalat malam.

2.    Persiapkan Pola Pikir Anak Agar Selalu Siap Berjihad

Dengan cara menceritakan kepada anak tentang kejayaan Islam yang pernah kita raih dan kesedihan yang kita rasakan tentang kondisi sekarang. Menyampaikan kepada anak tentang sejarah perjuangan Rasulullah saw. Menjelaskan kepada anak tentang kedudukan orang yang mati syahid menurut Al Qur’an dan sunnah. Dan jangan lupa untuk sering membicarakan tentang surga yang merupakan tempat kembali bagi para syuhada.

3.    Kuatkan Hafalan Qur’an dan Hadits yang Berkaitan Dengan Jihad

Mintalah anak-anak agar menghafalkan – sesuai kemampuan mereka – ayat-ayat yang berkaitan dengan jihad dan kesyahidan, seperti surat Al Anfal dan At Taubah. Demikian juga dengan hadits-hadits yang berkaitan dengan jihad. Selain itu, tak ada salahnya sesekali mengajarkan nasyid bertema jihad pada anak. Agar mereka termotivasi untuk berjihad dan meraih syahid.

4.    Latih Fisik Anak Agar Siap Berjihad

Rasulullah saw bersabda: “Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah dari pada mukmin yang lemah” (HR. Muslim)

Diantara cara yang utama dalam menjaga kekuatan fisik adalah dengan mengatur pola makan dan tidur. Antara lain adalah mencontoh apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw, yaitu makan pada saat lapar dan berhenti sebelum kenyang. Disamping itu, melatih anak untuk tidur lebih awal agar dapat bangun lebih awal juga perlu dilakukan. Hal ini diharapkan dapat memudahkannya membiasakan diri melakukan shalat malam.

Selain pola makan dan tidur, olahraga juga perlu kita biasakan kepada anak demi menjaga kesehatan fisiknya. Diantara olahraga yang dianjurkan oleh Rasulullah saw kepada anak-anak kita adalah berenang, memanah dan berkuda.

5.    Latihan Jihad Melalui Materi

Upaya memerangi musuh-musuh Allah tidak akan berjalan efektif tanpa dukungan materi. Maka dari itu, membiasakan anak agar rela memberikan apa yang ia miliki untuk perjuangan Islam harus dilatih sejak dini. Biasakan anak untuk menabung dan tidak konsumtif. Yang dengan tabungannya tersebut, kita memotivasi anak menyumbangkan sebagian dari hasil tabungannya untuk perjuangan Islam dan kaum muslimin. Ajari anak agar terbiasa beramal, berinfaq, dan bersedekah.

Untuk Mereka, Kita Rintis Jalan Jihad

Seribu satu kiat melatih anak berjihad tidak akan memberikan manfaat apapun jika tidak ada satu hal dari kita, orang tuanya, yakni keteladanan. Sebab anak tak sekedar melakukan apa yang kita katakan. Lebih dari itu, ia akan mencontoh dengan sepenuh hati segala sesuatu yang kita lakukan. Maka benarlah kiranya sebuah ungkapan, bahwa memberi teladan adalah jalan pintas mengajarkan kebaikan.

Satu generasi habis dan akan digantikan oleh generasi berikutnya. Anak-anak kita sekarang –sebagiannya—memang ada yang masih kecil. Namun suatu keharusan bagi kita merintis jalan jihad bagi mereka dan anak-anak seusia mereka. Sebab, ketika kelak kita tiada, harapan ummat ini akan tertumpu pada generasi mereka. Jangan sampai estafet perjuangan kita terhenti sebab ketika kita sudah tiada yang kita tinggalkan hanya generasi yang lemah yang tidak memiliki keberanian dan kebulatan tekad untuk berjuang di jalan Allah swt. Sebagaimana firman Allah swt,

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar.”
 (QS. An Nisaa : 9)

Kita tidak akan tahu, apakah kelak kita akan bersama anak kita di medan pertempuran, menjadi prajuritnya yang memberi minum pasukan lain yang haus serta mengobati yang terluka. Atau barangkali ia akan berjuang tanpa kita, sebab kita sudah terkubur di bawah tanah. Apapun itu, Allah masih memberi kita waktu untuk menyelamatkan dunia dan akhiratnya, salah satunya adalah dengan mengajarkan padanya memilih jalan kematian melalui jihad fi sabilillah. Dan bagi kita, ia akan menjadi pahala yang tak akan putus. Sebagaimana sabda Rasulullah saw,

“Jika seseorang meninggal dunia maka terputuslah segala amalannya, kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang sholeh.”
 (HR. Muslim)

Semoga Allah swt senantiasa menjaga buah hati kita, menjadikannya anak yang sholeh dan senantiasa berkhidmad untuk agama ini di manapun ia berada. Dan kelak, jika telah tiba masanya ia harus menemui Rabb-nya, Allah akan memberikan rizki agung berupa mati syahid di jaln-Nya. Sebab ia terlahir untuk menjadi pejuang. Sebab ia ada untuk menjadi bagian dari orang-orang yang berjihad menegakkan kalimatullah di muka bumi. Aamiin..Aamiin..Ya Rabbal’alamiin.

Artikel Terkait :

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: