Aliey Faizal

'Isy Kariiman Aw Muth Syahiidan

Wahyu dan pewahyuan

Posted by Aliey Faizal pada 13 Juni 2012

V. KITAB SUCI
Kenapa kalian mengingkari

ayat-ayat Allah…?


WAHYU DAN MUKJIZAT

 

Wahyu dan pewahyuan

Pada awal pembahasan buku ini kita pernah membahas adanya kesinambungan wahyu sejak Nabi-nabi terdahulu hingga yang terakhir. Pesan-pesan Tauhid dan dua prinsip kehidupan sesama manusia, yang tergambar dalam prinsip kasih sayang dan prinsip keadilan, terlestarikan pada masing-masing kitab.

Untuk menyajikan kajian tentang wahyu ini, kami akan menggunakan berita-berita nubuat dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru (Injil). Kalau kami membahasnya dari kacamata Bibel bukan berarti mempercayai seluruh isi Bibel, ayat-ayat Bibel yang menyalahi konsep tauhid dan dua konsep kemanusiaan akan kami kesampingkan apalagi ayat-ayat yang porno dan tidak masuk akal. Hal ini berdasarkan prinsip yang dipakai Dr. Robert Morey dalam banyak hujatannya terhadap al-Qur’an, yaitu “Yang lama mencocokkan yang baru”. Dan sudah kita bahas pada awal buku ini. Pendapat kami tersebut tidak bisa disebut inkonsisten, di mana menyatakan ada penyelewengan dalam Bibel di satu pihak sementara beberapa dalil memakai Bibel. Inkonsistensi bisa dikatakan jika tidak ada aturan yang jelas, sementara bahasan kami ini berdasarkan aturan yang ditetapkan sendiri oleh Dr. Robert Morey seperti prinsip tersebut di atas. Dengan prinsip ini sebenarnya secara logika kami boleh menggunakan ayat-ayat al-Qur’an untuk menunjang semua bahasan sehingga kita akan mendapatkan pengertian yang benar dari permasalahan yang dilontarkan.

Banyak sekali ayat-ayat Bibel yang menubuatkan akan adanya seorang Nabi baru yang datang setelah Nabi Isa As, (Yesus). Dan perlu kami tegaskan bahwa tidak ada nabi lain setelah masa Yesus, sebab Yohanes Pembabtis (Nabi Yahya) adalah hidup sezaman dengan Yesus. Namun kami hanya memfokuskan pada nubuat Musa yang tercantum pada Kitab Ulangan 18:18. (kitab ulangan masuk dalam perjanjian lama/ Taurat). Ayat tersebut berbunyi :

“Bahwa aku akan menjadikan bagi mereka itu seorang nabi dari antara segala saudaranya, yang seperti engkau (Musa), dan Aku akan mernberi segala firman-Ku dalam mulutnya dan iapun akan mengatakan kepadanya segala yang Kusuruh akan dia” (Kitab: Ulangan 18:18).

 

Dalam mencermati ayat di atas Ahmed Deedat membuktikan dengan sangat baik bahwa yang dimaksud dalam kitab ulangan tersebut adalah Nabi Muhammad Saw walaupun kebanyakan sarjana Kristen menyatakan tidak mengakui hal itu10. Alasan yang dikemukakan Ahmed Deedat secara ringkas sebagai berikut :

  • …….antara segala saudaranya : Isyarat untuk keturunan IsmaEL saudara IsraEL keturunan Ibrahim dari Ishaq. Bibel juga mengakui bahwa Ibrahim berputra Ismael dan Ishaq.
    …...yang seperti engkau (Musa) : Isyarat untuk nabi yang perihalnya seperti Musa yaitu Muhammad dengan alasan sebagai berikut :
  • Musa dan Muhammad dilahirkan melalui ibu dan bapak. Yesus tidak.
  • Musa dan Muhammad menikah dan mempunyai anak. Yesus tidak.
  • Musa dan Muhammad diterima kaumnya -bani Israel­Yesus tidak.
  • Musa dan Muhammad membawa hukum agama baru. Yesus hanya meneruskan. 11(Sampai hari ini pun Taurat dan Injil dalam satu paket yang disebut Alkitab/Bibel, atau perjanjian lama dan perjanjian baru12).

Dalam menjelaskan ayat di atas -… dan aku akan memberi segala firman-Ku dalam mulutnya- Ahmed Dedat mencontohkan dalam perdebatannya dengan pendeta Dominee sebagai berikut :

Apakah artinya jika dikatakan, “Saya akan menaruh firman saya dalam mulut Anda?’ Perhatikan, ketika mula-mula saya meminta Anda (Dominee) untuk membuka Ulangan 18: 18 dan jika saya meminta Anda untuk membacanya, lalu Anda telah membacanya, apakah itu berarti saya telah menaruh firman saya dalam mulut Anda?”

Dominee menjawab, “Tidak”

Tetapi, saya melanjutkan, “Jika saya mengajari Anda sebuah bahasa yang Anda tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, seperti bahasa Arab, dan bila saya meminta Anda untuk rnembaca atau mengulangi sesudah saya”, apa yang saya ucapkan yaitu: 

“Katakanlah, ‘Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan, tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia. (QS. Al-Ikhlas : 1-4).

Tidakkah saya sedang menaruh kata-kata asing yang belum pernah didengar dan telah kamu ucapkan, ke dalam mulut Anda?” Dominee tentu saja setuju.

Dengan cara yang sama, saya berkata, “Kata-kata kitab suci Al-Qur’an, wahyu yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa kepada Muhammad diungkapkan.”

Ilustrasi Ahmed Deedat dalam menjelaskan kalimat di atas menjadikan gambaran tentang proses pewahyuan semakin dapat dinalar. Al-Qur’an sendiri memberikan gambaran yang sama sebagai berikut :

 

“Sesungguhnya kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat”. (QS. Al-Muzammil : 5).

 

“Kami akan membacakan (al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa “. (QS. Al-A’laa: 6).

 

Dan seperti yang kita lihat bahwa ayat dalam kitab Ulangan 18:18 di atas adalah wahyu yang diberikan kepada Nabi Musa, -yang tentunya dengan bahasa Ibrani.13

Proses penurunan wahyu dengan cara ‘dibacakan’ – menurut Qur’an- atau ‘memberi segala firmanku kedalam mulutnya’ menurut gaya bahasa Taurat, secara tegas menunjukkan bahwa wahyu tersebut atau al-Qur’an bukan dari Nabi Muhammad Saw atau Nabi Musa, baik materi maupun bahasa. Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa Rasulullah pernah tergesa-gesa menggerakkan bibirnya untuk menirukan wahyu yang dibacakan.

Bibel yang diyakini kebenarannya oleh Dr. Robert Morey telah menyatakan kebenaran Nabi Muhammad Saw. dan al­Qur’an, bahkan dengan penjelasan tentang proses pewahyuannya. Satu proses pewahyuan al-Qur’an kepada Muhammad yang dijelaskan secara lebih gamblang dan bisa dinalar. Maka ketika disebut dalam hadits-hadits nabi tentang proses pewahyuan yang melalui Malaikat Jibril hal itu bukanlah hal yang mengada-ada. Para sahabat pun menurut riwayat hadits ada menyaksikan kedatangan Jibril. Namun demikian proses pewahyuan melalui pembacaan oleh Jibril lebih masuk akal ketimbang penjelasan Injil tentang pewahyuan Yesus :

 

“Maka Yahyapun menyaksikan serta herkata : ‘Aku sudah nampak Roh Allah turun dari langit, seperti seekor burung merpati, lalu hinggap di atasNya“. (Yahya 1: 32).

Jika dibaca melalui kaca mata Muslim, maka ….. di atasnya”, dengan memakai ‘n’ dengan huruf kecil. Itu berarti Allah mengutus Jibril datang kepada Yesus sehingga “seekor burung” sebagai suatu kiasan. Mungkin bahasa manusia abad I masehi memakai cara tersebut. Ayat ini secara tidak langsung menyatakan bahwa Roh (Qudus) adalah utusan, dan Yesus adalah nabi, di sini istilah wahyu baru ada.

Tapi kalau dibaca menurut kaca mata Kristen Trinitas, maka ayat tersebut sekedar bacaan tanpa makna. Cerita tiga tuhan sedang bersilaturrahmi. Bagaimana mungkin tuhan mewahyukan firman kepada tuhan. Yah begitulah Ajaran Nabi Isa telah dibajak oleh Paulus.

Proses pewahyuan al-Qur’an seperti di atas adalah salah satu tingkatan pewahyuan. Al-Qur’an diturunkan secara bertahap selama 23 tahun, bukan diturunkan satu kitab secara langsung. Prosesnya pun berbeda-beda dari tingkat yang terendah hingga yang tertinggi yaitu pertemuan dengan Pencipta, seperti yang dialami Nabi Muhammad ketika Isra’ mi’raj dan mendapat perintah shalat, juga Nabi Musa yang disebut al-Qur’an sebagai Nabi yang kepadanya Allah berbicara.

Proses pewahyuan yang secara bertahap inilah yang dipahami salah oleh Dr. Robert Morey dan dijadikan alasan bahwa ada kontradiksi dalam masalah pewahyuan.14Sebab umat Kristen secara umum tidak memiliki pandangan yang tepat masalah pewahyuan. Seperti pewahyuan Nabi Musa misalnya Selalu digambarkan satu buku turun dari langit, apalagi pewahyuan Nabi Isa As. jelas sulit mereka jelaskan karena Nabi Isa sendiri mereka lantik menjadi ‘tuhan’, karena itu mereka Sering menggunakan bahasa kiasan burung merpati yang mungkin sering kita lihat di gambar-gambar Yesus. Kalangan Kristen yang mengerti tentu saja enggan menjelaskan burung merpati tersebut, tapi yang tidak tahu ditelan mentah-mentah karena disajikan dengan gambar yang indah.

 

NOTES

10.  Ahmed Deedat, The Choise, Pustalca al-Kautsar, th. 1999, hal.20-26.

11. Ahmed Deedat menyertakan 8 bukti, tapi disini hanya kami sertalcan 4 saja.

12. Tambahan dari penulis.

13. Penulisan kitab ulangan berdasarkan dokumen yang disebut “Deuteronomy” yang berbahasa Ibrani

14. Dr. Robert Morey, The Islamic Invasion – confronting the World’s Fastest Growing Religion , Scolars Press, Las vegas, 1991, hal.175.

Artikel Terkait :

Iklan

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: