Aliey Faizal

'Isy Kariiman Aw Muth Syahiidan

Terjemah al-Qur’an

Posted by Aliey Faizal pada 13 Juni 2012

V. KITAB SUCI
Kenapa kalian mengingkari

ayat-ayat Allah…?

Terjemah al-Qur’an.

Menerjemahkan al-Qur’an atau teks apapun kedalam bahasa lain tanpa mengurangi makna yang terkandung di dalamnya adalah mustahil, belum lagi masalah estetikanya. Karena setiap bahasa memiliki ciri khas pengungkapan tersendiri. Sebagai contoh masyarakat Arab memiliki sekian banyak perbendaharaan kata dalam masalah unta karena memang tempatnya. Bahasa Indonesia kaya dengan kosa kata untuk menunjukkan makna padi karena memang berbudaya agraris. Bahasa Arab tidak memiliki satu persatu padan kata untuk kata : gabah, padi, beras, nasi; yang ada hanya ar-ruzuntuk keempat kata dalam bahasa Indonesia di atas. Begitu juga sebaliknya.

Sebagian ulama menempatkan terjemah al-Qur’an sebagai tafsir (interpretasi). Tapi mayoritas sepakat bahwa otoritas tetap Pada teks dengan bahasa aslinya. Sebab ketika seorang penerjemah mengartikan suatu kalimat, secara tidak langsung dia telah menetapkan bahwa itu adalah makna dari kalimat dalam teks aslinya. Sedang penerjemah lain bisa saja menulis makna lain sesuai pemahamannya. Oleh sebab itu al-Qur’an terjemah tidak seotoritatif al-Qur’an dengan bahasa aslinya. Maka dalam setiap terjemah al-Qur’an selalu disertakan teks aslinya sehingga pembacanya bisa langsung merujuk kepada teks asli tersebut. Upaya tersebut bukanlah pengekangan atau klaim bahwa al-Qur’an tidak dapat diterjemahkan, namun lebih merupakan kebijakan yang jenius dan sesuai dengan semangat penjagaan al-Qur’an yang telah dilakukan selama empat belas abad. Lain dari pada itu ritual ibadah dalam Islam juga menggunakan al-Qur’an dan bahasa Arab.

Buku Islamic Invasion seringkali menampilkan terjemahan dari ayat-ayat al-Qur’an yang kemudian dengan membandingkan hasil penerjemahan tersebut ia mengambil kesimpulan adanya pertentangan internal dalam al-Qur’an.58 Pandangan semacam ini tentu saja tidak lepas dari tradisi dikalangan Kristen yang tidak memandang adanya perbedaan antara teks asli dan terjemahan sebab mereka tidak memiliki teks yang asli ditulis pada masa kenabian. Umat Kristiani mengambil sepenuhnya dari Injil dalam bahasa apapun tanpa langsung merujuk kepada teks yang tertua. Teks tertua Bibel tidak pernah dimuat bersamaan dengan terjemahnya, seperti yang dilakukan umat Muslim ketika menerjemahkan al-Qur’an. Oleh sebab itu ketika terjadi perbedaan makna terjemahan umat Muslim dapat langsung merujuk kepada teks aslinya. Dengan demikian otoritas utama tetap pada teks aslinya, dan terjemah hanya berperan menjelaskan tanpa mempunyai otoritas seperti aslinya.

Sebagai perbandingan agaknya kita perlu menyimak pernyataan J.J.G. Jansen, dalam disertasi doktornya di Rijk suniversitiet Leiden tahun 1972, seorang yang memiliki otoritas dalam bidang al-Qur’an dikalangan Orientais, ia mengatakan :

Dibandingkan dengan kalangan Kristen, khotbah­khotbah -yang kadang-kadang mendatangkan perbaikan luar biasa-, yang didasarkan pada pengembangan yang cerdas dan kebetulan terhadap penyusunan terjemahan Injil, kadang sangat berlawanan dengan makna teks aslinya. Seseorang tidak bisa tidak kecuali memuji sikap Muslim terhadap masalah ini.59

Berdasar pernyataan di atas tradisi penyikapan wahyu dikalangan Muslim sangat berbeda dengan penyikapan umat Kristen. Pengembangan yang tentunya memuat perubahan yang bahkan sampai berlawanan dengan makna teks aslinya, dianggap sebagai kreatifitas yang cerdas. Sementara tradisi Islam sejak masa Rasulullah hingga saat ini melarang perubahan dalam bentuk apapun terhadap teks al-Qur’an. Sebab umat Muslim tidak perlu menyesuaikan teks al-Qur’an dengan perkembangan zaman karena memang tidak bertentangan.

Itulah sebabnya sangat sulit diterima jika ada ungkapan bernada mempertanyakan keaslian teks al-Qur’an sementara pernyataan itu keluar dari mereka yang dengan bangga telah merubah kitabnya sendiri. Pihak Gereja -yang berwenang atas terjemah Injil- boleh saja berkilah bahwa itu tidak merubah, tapi menerjemahkan. Tapi siapapun maklum bahwa ketika teks terjemah tidak disertai teks aslinya, maka umat yang memakainya tentu menjadikan terjemah tersebut sebagai satu­satunya sumber. Ketika otoritas terjemah dianggap sama dengan aslinya, maka perubahan terjemah akan merubah hukum ajaran yang dianut. Jika pada tahun 1976 umat kristen, dilarang makan babi. Maka setelah tahun 1999 mereka boleh memakannya, karena yang dilarang adalah babi hutan. Bagaimana jika pada tahun mendatang kecendrungan masyarakat akan konsumsi makanan berubah lagi. Semacam inilah yang termasuk dalam peringatan al-Qur’an, agar manusia tidak merubah ayat-ayat yang diturunkan kepada mereka.

 

NOTES

58 Robert Morey, op. cit., hall42

59 J.J.G Jansen, The Interpretation of the Qoran in Modern Egypt. Terjemah. Diskursus Tafsir Al-Qur’an Modern, Hairussalim, Syarif Hidayatullah. PT. Tiara Wacana, Jogja, tahun :1997, hal.l7.

Artikel Terkait :

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: