Aliey Faizal

'Isy Kariiman Aw Muth Syahiidan

Susunan al-Qur’an

Posted by Aliey Faizal pada 13 Juni 2012

V. KITAB SUCI
Kenapa kalian mengingkari

ayat-ayat Allah…?

BAHASA AL -QUR’AN

Susunan al-Qur’an

 

Hadits Nabi yang menyatakan “Al-Qur’an hanya bisa dipahami secara mendalam setelah memandang berbagai seginya” (al-Hadits). Seperti yang dikutip oleh Muhammad Arkoun dalam kajian ulum Qur’an-nya.

Jika ada yang mengeluh kesusahan memilah ayat untuk mencari membahas satu tema, saat ini sudah banyak sarana mencarinya. Tapi melihat al-Qur’an dengan cara memilah-milah saja akan menghilangkan banyak makna. Coba anda bayangkan jika seseorang hanya mengambil ayat jihad saja. Atau sebaliknya ayat-ayat kasih sayang saja. Jika kita kembali pada konsep tauhid dan konsep kemasyarakatan yang tertulis dalam ketiga kitab, seperti yang disampaikan al-Qur’an. Satu konsep tauhid, dan dua konsep kemasyarakatan. Dua konsep kemasyarakatan yang dijabarkan oleh masing-masing rasul, yaitu kasih sayang dan keadilan. Konsep kasih sayang digambarkan dengan mengasihi fakir miskin, yatim piatu, orang tertindas, musafir dll. Serta konsep keadilan yang digambarkan dengan ‘Qisas’, nyawa dengan nyawa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, gigi dengan gigi, luka ringan dengan luka ringan (mohon tidak dicampur dengan pandangan praktisnya); bukankah konsep kedua ini menggambarkan rasa keadilan yang paling mendasar, Kesalahan berat diganjar berat, ringan diganjar ringan. Bukan berat diganjar ringan karena seorang tokoh, dan ringan diganjar berat karena rakyat jelata.

Satu konsep tauhid dan dua konsep kemasyarakatan untuk dua makhluq dari dua dimensi berbeda -materi dan non-materi­yaitu manusia dan jin. Semua itu disajikan oleh al-Qur’an dalam satu kesatuan, dan bukan dipisah. Sebab jika dipahami terpisah pasti akan ada yang ditinggalkan. Jika dipisah maka keseimbangan akan goyah. Kita tidak bisa menyalahkan rakyat palestina karena memang mereka sedang ditekan, secara mental dan fisik-telpon saja tidak bisa keluar dari wilayahnya-. Justru salah kalau mereka hanya menerapkan prinsip kasih sayang saja, sementara prinsip keadilan tidak ditegakkan. Born bunuh diri yang mereka lakukan lebih merefleksikan kondisi ketertindasan mereka dari pada sekedar ajaran-seperti yang sering dituduhkan selama ini-. Dunia barat sudah kehilangan keseimbangan akal dan perasaannya hingga tidak mampu melihat gajah dipelupuk matanya. Mereka menindas seenaknya kemudian menimpakan kesalahan pada orang yang ditindas ?

Kembali pada susunan al-Qur’an juga harus dilihat sama seperti melihat isinya. Ajaran yang sangat membutuhkan keseimbangan juga harus disampaikan dengan cara yang seimbang. Kita tidak bisa melihatnya dengan kaca mata kita yang suka melihat sesuatu menurut kehendak kita. Melihat susunan al-Qur’an secara parsial seakan kita memilah warna dari sekian banyak susunan bangunan yang berwarna pelangi. Kita kadang menginginkan yang merah saja, atau hijau saja tanpa memperhatikan bahwa kombinasi dari semuanya adalah keindahan. Yang jika dipisah maka hanya ada hamparan menjemukan seperti padang pasir dan lautan. Bahkan lautan pun dihiasi pelangi dan hamparan pasir dihiasi fatamorgana. Kita kadang harus memperhatikan para seniman dan sastrawan yang lebih bisa melihat keindahan hidup tanpa batasan teori yang kadang menghilangkan prinsip keseimbangan.

Novelis Inggris E.M. Foster dalam karyanya Aspects of the Novel mengejek upaya-upaya klasifikasi dalam melihat perkembangan sastra seraya menyatakan hal itu sebagai upaya pseudo-ilmiah (pseudo-scientific). Klasifikasi secara kronologis ataupun kecendrungan -tematis.67Cara pandang Foster tersebut mungkin layak untuk kita terapkan dalam melihat susunan dan gaya bahasa al-Qur’an. Melihat susunan al-Qur’an yang dilandasi pemikiran parsial, tidak dapat menangkap sisi keindahan dari prinsip keseimbangan.

Coba kita telaah sekilas, Al-Qur’an yang dimulai dengan al-Fatihah dan di akhiri dengan an-Nas. Jika Al-fatihah disebut sebagai ummul kitab, hal itu tidak lah terlalu berlebihan, sebab disitulah inti ajaran tauhid. Setelah mengagungkan nama Allah kemudian menyatakan bahwa hanya kepada-Nya-lah menyembah dan memohon. Setelah itu memohon jalan orang­orang yang telah selamat memegang konsep dasar tauhid, jalan orang-orang yang mendapat ni’mat. Kemudian memohon agar terhindar dari kesalahan mereka yang telah menentang dan menghapuskan konsep itu.

Konsep tauhid ini kemudian mewarnai semua surat. Dalam setiap pembahasan baik ibadah dan kehidupan sosial selalu dikaitkan dengan Tauhid. Interaksi fertikal dan horizontal yang disimbolkan dengan “hamba” dan “khalifah” dalam dua dimensi kehidupan -materi dan nonmateri-, selalu ada dalam setiap surat. Bukankah itu suatu keseimbangan yang jika diubah maka keseimbangan itu akan hilang dan kehilangan ciri khasnya. Meninggalkan satu dimensi saja seseorang sudah tidak seimbang, kemudian mengatakan bahwa redaksi al-Qur’an melayang­layang. Dimensi non materi inilah yang sering dilupakan masyarakat modern, yang padahal mereka seringkali membuktikan keberadaannya, melalui kemajuan teknologi. Tidakkah kita melihat dalam dimensi non-materi seseorang bisa melakukan kontak tanpa media materi, kini hal itu dapat dinikmati orang banyak dengan adanya Handphone.

Setelah dua tujuan dalam dua dimensi itu disajikan, kemudian dalam surat-surat terakhir mu’awidzatain, konsep tauhid itu dinyatakan dengan sangat tegas lagi. Allah hanya Satu dan Allah lah tempat memohon -lihat makna ini dalam al­fatihah-. Lantas ditutup dengan permohonan agar keimanan diselamatkan dari gangguan makhluq dari dimensi non-materi, dan makhluq dari dimensi materi. Gangguan dari dimensi nonmateri mungkin tidak bisa diindera oleh manusia tapi bisa dirasakan, sedang yang dari dimensi materi/manusia kita bisa melihat dan mendengar (tayangan yang mencerminkan hedonisme -misalnya), membaca (Buku Islamic Invasion – contohnya), bahkan merasakan (gangguan fisik seperti yang dialami rakyat Palestina).

Secara Umum tidakkah itu merupakan suatu susunan yang indah dan sangat baligh-menurut istilah retorika Arab. Dimulai dari prinsip pokok yang singkat lalu dijabarkan kemudian ditutup dengan penekanan pada prinsip pokok yang disampaikan. Sehingga penekauannya lebih terlihat. Tidakkah kita melihat jika kita ingin menyampaikan sesuatu nasehat kepada anak misalnya : “Nak belajar lah”, kemudian kita memberikan banyak alasan bahkan contoh dari orang-orang yang berhasil dan gagal, kemudian terakhir kita menekankan, ‘Jadi ingat ya, BELAJAR”. Bukankan itu cara penyampaian yang tidak hanya bagus tapi tepat dan mendidik. Tidak otoriter, tapi dengan alasan dan ada penekanan di akhir. Itulah gaya al-Qur’an semua disertai dengan bukti, baik tertulis maupun contoh nyata kehidupan. Inilah gaya penulisan untuk mengungkap misteri kehidupan dari manusia yang suka memandang sesuatu sesuai yang diingini. Sehingga tidak bisa melihat sisi keseimbangan yang bahkan kita lihat dalam kehidupan nyata. Suatu saat mungkin orang mulai menggunakan cara-cara penulisan seperti yang dicontohkan al-Qur’an.

Coba kita renungkan berapa buku yang bisa bertahan lebih dari dua tiga kali baca secara lengkap? sebab ketika membaca yang kedua kita merasa sudah tahu isi dan maksud seperti judulnya kemudian bosan. Tapi al-Qur’an, tiap hari dibaca tanpa ada kejenuhan sedikitpun. Setiap kali dibaca kita menangkap satu pengertian yang tidak kita tangkap sebelumnya. Dalam situasi kejiwaan yang mandeg dan jumud kadang kita menangkap makna isyarat yang menjadi kata penentu dari sikap yang harus diambil. Dalam menghadapi situasi yang rumit dan seakan tak ada solusi kita menemukan kata kunci dari permasalahan yang dihadapi. Kita bahkan merasakan seakan setiap ayat berdiri sendiri jalin jalin menjalin dengan ayat lain, bahkan setiap kata kalau kita melihat rinci, masing-masing memiliki perannya. Sangat berbeda dengan tulisan manusia yang kadang menggunakan kata seenaknya, sehingga ada istilah kata sisipan yang kalau dihapus tidak berpengaruh pada yang lain.

Gothe menyatakan dalam Noten und Abhandlungen :

“Gaya bahasa al-Qur’an adalah, sesuai dengan isi dan tujuan-tujuannya, bersifat agung, mengagumkan, dan dalam beberapa tempat benar-benar sublim”..68

NOTES

67 59 E.M. Foster, Aspect of Novel, 19. dalam J.J.G Jansen Diskursus Tafsir Al-Qur’an Modern. Tiara Wacana-Jogja, th.1997, hal.

68 Annemarie Schimmel, Islam Interpretatif, Inisiasi Press, th. 2003, hal. 36.

Artikel Terkait :


Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: