Aliey Faizal

'Isy Kariiman Aw Muth Syahiidan

Shalat

Posted by Aliey Faizal pada 13 Juni 2012

IV. SYARI’AT ISLAM
Kalian tiada berarti sebelum

menjalankan Taurat dan Injil

Shalat

Selain dianggap sebagai hasil adopsi ritual penyembah berhala, shalat yang menghadap kiblat dianggap sebagai ketundukan kepada saudi Arabia?. Tuduhan ini memang agak berlebihan, apalagi bahwa bentuk Ibadah Yesus dan Musa juga memiliki gerakan yang sama, seperti yang telah kita singgung dan akan kita bahas lebih lanjut. Sedang masalah kiblat maka akan lebih jelas dalam bahasan tentang Haji, walaupun dalam bahasan ini juga kami singgung.

Shalat ialah suatu bentuk komunikasi antara makhluq dan Penciptanya. Dengan demikian yang dimaksudkan dengan shalat bukanlah sekedar ruku’ dan sujud saja, membaca ayat-ayat al­-Quran atau mengucapkan takbir dan ta’zim demi kebesaran Allah tanpa mengisi jiwa dan hati sanubari dengan iman, dengan kekudusan dan keagungan-Nya. Tetapi yang dimaksudkan dengan shalat atau sembahyang ialah arti yang terkandung di dalam takbir, dalam pembacaan, dalam ruku’, sujud serta segala keagungan, kekudusan dan iman itu. Maka beribadat secara demikian kepada Allah ialah suatu ibadat yang ikhlas.


“Kebaikan itu bukanlah karena kamu menghadapkan muka ke arah timur dan barat, tetapi kebaikan itu ialah orang yang sudah beriman kepada Allah, kepada Hari Kemudian, rnalaikat-malaikat, Kitab, dan para Nabi serta mengeluarkan harta yang dicintainya itu untuk kerabat-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang terlantar dalam perjalan, orang-orang yang meminta, untuk melepaskan perbudakan mengerjakan sembahyang dan mengeluarkan zakat, kemudian orang-orang yang suka memenuhi janji bila berjanji, orang-arang yang tabah hati dalam rnenghadapi penderitaan dan kesulitan dan di waktu perang. Mereka itulah orarng-orang yang benar dan rnereka itu orang-orang yang dapat memelihara diri. 8

Orang mukmin yang benar-benar beriman ialah yang menghadapkan kalbunya kepada Allah ketika ia sedang sembahyang, disaksikan oleh rasa takwa kepada-Nya, serta mencari pertolongan Allah dalam menunaikan kewajiban hidupnya. la mencari petunjuk, memohonkan taufikAllah dalam memahami rahasia dan hukum alam ini. Orang mukmin yang benar-benar beriman kepada Allah tengah ia sembahyang akan merasakannya sendiri, selalu akan merasa, dirinya adalah sesuatu yang kecil berhadapan dengan kebesaran Allah Yang Maha Agung.

Dalam kita menghadapkan seluruh kalbu kita dengan Penuh ikhlas kepada Kebesaran Allah Yang Mahasuci, kita mengharapkan pertolongan kepada-Nya untuk memberikan kekuatan atas kelemahan diri kita ini, memberi petunjuk dalam mencari kebenaran – alangkah wajarnya bila kita dapat melihat Persamaan semua manusia dalam kelemahannya itu, yang dalam berhadapan dengan Allah tak dapat ia memperkuat diri dengan harta dan kekayaan, selain dengan imannya yang teguh dan tunduk hanya kepada Allah, berbuat kebaikan dan menjaga diri. Persamaan ini dilambangkan dengan satu kesatuan kiblat ke Baitullah, sebagai rumah Allah yang pertama kali di bangun. Persamaan di hadapan Allah ini menuju kepada persaudaraan yang sebenarnya, sebab semua orang dapat merasakan bahwa mereka sebenarnya bersaudara dalam beribadat kepada Allah dan hanya kepada-Nya mereka beribadat. Persaudaraan demikian ini didasarkan kepada saling penghargaan yang sehat, renungan serta pandangan yang bebas seperti dianjurkan oleh al-Quran. Adakah kebebasan, persaudaraan dan persamaan yang lebih besar daripada umat ini di hadapan Allah, semua menundukkan kepalanya kepada­Nya, bertakbir, ruku’ dan bersujud. Tiada perbedaan antara satu dengan yang lain – semua mengharapkan pengampunan, bertobat, mengharapkan pertolongan. Tak ada perantara antara mereka itu dengan Allah kecuali amalnya yang saleh (perbuatan baik) serta perbuatan baik yang dapat dilakukannya dan menjaga diri dari kejahatan. Persaudaraan yang demikian dapat membersihkan hati dari segala noda materi dan menjamin kebahagiaan manusia, juga akan mengantarkan mereka dalam memahami hukum Allah dalam kosmos ini, sesuai dengan petunjuk dalam cahaya Allah yang telah diberikan kepada mereka.

Dari dasar pijakan umat Islam dalam melakukan shalat di atas, maka pemindahan kiblat dari Yerussalem ke Mekkah bisa kita maknai sebagai sejarah pelembagaan peribadatan agama monoteisme, yang mana Islam secara ritual menjadi terlepas dari monoteisme sebelumnya.

Pada prinsipnya, satu sistem peribadatan sama baiknya dengan yang lain; ke mana saja seseorang menghadapkan wajahnya, seperti ayat di atas, di sana ada Allah. Sebuah sistem peribadatan dilembagakan hanya untuk memenuhi tuntutan­tuntutan manusia; yang penting adalah, seperti yang ditekankan Al Quran, adalah penerimaan seseorang pada Penciptanya, bukan pada penyembahan apapun yang lebih kecil.

Bila Dr. Robert Morey memaknaitindakan sujud menyembah dalam sembahyang sehari lima kali Menghadap arah Mekkah Arabia hanyalah suatu tanda ujud pemaksaan cultural, adalah terlalu naif. Dalam bibel sendiri disebutkan bahwa peribadatan Yesus dan Musa ternyata sama dengan yang dilaksanakan oleh umat Islam, yaitu ada berdiri, ruku’, sujud yang jika dirangkai maka menjadi “shalat”. Hal mana yang tidak dilakukan oleh umat Kristiani sekarang.

Dalam Taurat kitab ulangan disebutkan :

Segera Musa berlutut ke tanah, lalu sujud menyembah  (Keluaran 34:8).

 

Dalam Injil disebutkan :

 

Jika kamu berdiri untuk berdo’a,……(Markus 11:25); ,……. lalu ia berlutut dan berdo’a (Lukas 22: 41); la maju sedikit,lalu sujud ke tanah dan berdo’a…. (Markus 14:35).

 

Jika kita memakai bahasa Arab -yang tentunya lebih dekat kepada bahasa Aramaik-, maka kata: berdiri, berlutut, sujud, serta berdo’a; akan menjadi qiyam, ruku’, sujud, dan shalat. Dalam Arabic/Englis Bible yang diterbitkan oleh International Bible Society tahun 1999, kalimat berlutut dan berdoa tertulis wa raka’a yushalli. Raka’a beram ruku’ dan yushalli adalah shalat sebagaimana yang dipakai oleh kaum Muslim dalam mengungkapkan hal tentang peribadatan mereka.

Orang mungkin bertanya-tanya mengapa gerakan shalat yang diajarkan oleh para nabi ternyata sama? Banyak yang mencari hikmah dibalik gerakan shalat, namun alasan kenapa kita melakukan bukanlah karena hikmah tersebut, tapi yang pasti karena adanya perintah Allah untuk melakukan shalat dengan gerakan semacam itu. Namun demikian mencari hikmah dibalik bentuk gerakan shalat diharapkan dapat menambah keikhlasan kita dalam melakukan shalat.

Kami mencoba melihat dari sisi perlambang dari setiap gerakan pokok, yaitu : berdiri, ruku’ dan sujud. Ketika seseorang dalam keadaan berdiri maka otak yang merupakan lambang akal dan logika berada di atas, sedangkan hati sebagai lambang kalbu berada di tengah. Pada saat ruku’ maka otak dan hati berada pada posisi yang sama, melambangkan kesetaraan posisi akal dan kalbu. Dan ketika sedang sujud maka akal berada di bawah, sedang hati berada di atas.

Perlambang di atas, menggambarkan keadaan manusia dalam mencari Tuhannya. Saat awal pencarian maka akal adalah yang pertama kali dipergunakan, Nabi Ibrahim sendiri memulai dengan melihat bintang-bintang. Namun akal yang sering kali tertipu perlu dikuatkan dengan kalbu, seperti nasehat Rasulullah kepada Wabishah :

Wahai Wabishah, tanyakanlah kepada kalbumu dan nafsmu (akalmu) -tiga kali-, kebaikan itu jika akal merasa tenang (ketika melakukan perbuatan-pen), dan kejelekan jika akal merasa bergolak sedang (kalbu) rnerasa ragu di dalam dada, walaupun seseorang atau semua manusia menasehatirnu. (HR. Ahmad).

 

Keseimbangan antara kalbu dan akal akan mengantarkan manusia lebih mendekat kepada Penciptanya. Dan ketika sudah mendekat maka yang mampu menerima hanyalah kalbu, sedang akal dan indera materi manusia tidak mampu mengidera wujud Yang Maha Kuasa. Tidakkah kita lihat akal hanya mampu melihat perwujudan Allah melalui ciptaanNya, dan selalu terpeleset ketika mencoba menerobos hakekatNya, hingga ada manusia yang menyebutnya beroknum tiga, seperti dewa-dewa purbakala yang selalu `bertiga’. Itulah sebabnya maka tahap terakhir adalah sujud, ketika akal diletakkan sejajar dengan organ paling bawah ketika berdiri yaitu kaki. Sebagaimana nasehat Rasulullah:

Dari Abi Hurairah: bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Sedekat-dekatnya seorang hamba dari Tuhannya ketika dia sedang sujud, maka perbanyaklah do’a”. (HR. Muslim).

 

Jika dalam al-Qur’an disebutkan atsar as-sujud (bekas sujud), maka kemungkinannya adalah perbuatan baik dari seorang yang mendekat kepada Allah. Agak naif jika sebagian orientalis menerjemahkan kalimat tersebut sebagai kulit yang menghitam dijidat karena kebanyakan sujud. Kalau hanya dengan kulit jidat yang menghitam seseorang dianggap dekat kepada Allah, maka ibadah lain akan ditinggalkan orang, mereka cukup mencari tembok yang kuat.

NOTES

8. Robert Morey, Op. cit., hal 183.

Artikel Terkait :


Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: