Aliey Faizal

'Isy Kariiman Aw Muth Syahiidan

MILATU IBRAHIM

Posted by Aliey Faizal pada 13 Juni 2012

II. ARABIA PRA ISLAM
Ajaran Ibrahim Adalah Agama yang Lurus dan Kepasrahan…

MILLATU IBRAHIM

Menurut sejarah biblical Ibrahim As. lahir pada masa antara abad 20-19 SM di Ur-Kaldea.1 Lahir dari seorang ayah yang masih menyembah berhala, bahkan pembuat patung berhala yang disembah oleh manusia. Pemuda Ibrahim yang merasa aneh dengan penyembahan berhala, berusaha mencari Tuhan yang sebenarnya, yang dapat memberi manfaat dan dan menghilangkan mudlarat tidak seperti patung. Ibrahim (Abraham) oleh para peneliti diduga merupakan salah satu pemimpin kafilah yang membawa rakyatnya dari Mesopotamia menuju Laut Tengah pada akhir milenium ke tiga SM.2 Terlepas dari kebenaran dugaan tersebut, namun berita tentang pengembaraan Ibrahim dari Kaldea menuju Kan’an agaknya sudah umum diketahui pemeluk ketiga agama samawi. Oleh sebab itu kami hanya menyorot pengembaraannya sebagai individu Ibrahim yang digambarkan oleh al-Qur’an berusaha mencari hakekat Allah. Penelitian Ibrahim As. terhadap kepercayaan masyarakat sekelilingnya, baik di tempat asalnya -Kaldea- maupun negeri yang dilewatinya dalam pengembaraan, menghendaki dirinya untuk menganalisa bentuk kepercayaan Yang berkembang.

Banyak pendapat tentang asal mula kepercayaan manusia, ada yang berpendapat bahwa kepercayaan itu dimulai dari rasa takut yang kemudian manusia menyandarkan pada apa yang dapat membuatnya tenang, ada yang mendasarkan pada kepercayaan terhadap roh hingga menimbulkan kepercayaan Totemisme, ada yang mendasarkan pada kepentingan individu dan umum, serta macam-macam perkiraan lain yang bukan dimaksudkan untuk dibahas disini. Apapun yang mendasarinya, kepercayaan terhadap penyembahan berhala adalah termasuk kepercayaan kuno. Suatu kepercayaan yang menurut penganutnya dapat mendekatkan dirinya dengan sesembahan yang diyakininya.

Selain kepercayaan terhadap berhala, kepercayaan lama yang ada pada masa Ibrahim diwilayah timur tengah kuno, adalah kepercayaan terhadap benda-benda luar angkasa, seperti bintang-bintang, bulan, dan matahari. Kaldea yang masuk wilayah Mesopotamia-Babilonia mengenal penyembahan bintang-bintang seperti dewa Marduk yang mereka anggap sebagai dewa perang, adalah planet Mars, serta dewa-dewa lain hingga 12 dewa, yang nama-namanya dipakai dalam astronomi hingga sekarang.3

Mesir kuno, mengenal penyembahan dewa Matahari sebagai dewa Re, yang adalah Matahari itu sendiri. Kepercayaan terhadap Re (dewa matahari) bertahan dari dinasti ke II (+- 3000 SM) raja-raja Mesir Kuno hingga dinasti Khofo (1400 SM). Hal dikuatkan dengan ditemukannya tulisan di makam salah satu raja dinasti II, yang menyebut dewa matahari dengan sebutan “Nabire”.4 Kepercayaan ini pada masa-masa selanjutnya berkembang menjadi banyak dewa seiring perkembang perebutan kekuasaan yang menjadikan dewa sebagai alat propaganda paling mujarab, maka tidak heran jika dewa-dewa kemudian didatangkan dari luar.

Kepercayaan-kepercayaan yang berkembang pada masa Ibrahim ini, penyembahan berhala, bintang-bintang, bulan, dan matahari, diisyaratkan oleh al-Qur’an dalam surat al-An’am ayat 76-80.
Tatkala gelap malam mencungkupnya, ia (Ibrahim) pun dapat melihat bintang-bintang. Maka katanya: “Ini adalah Tuhanku.”Ketika bintang itu hilang, ia berkata: Aku tidak suka kepada apa-apa yang hilang.”

 

Tatkala ia melihat bulan muncul, ia berkata: “Inilah Tuhanku.” Ketika bulan itu terbenam, ia berkata: “Kalau Tuhanku tidak menunjuki aku, tentulah aku termasuk orang yang sesat. ”

Ketika ia melihat matahari terbit, ia berkata: “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.”Tetapi setelah matahari terbenam, ia berkata: ” Wahai kaumku! Aku berlepas tangan dari apa yang kalian sekutukan.

Aku menghadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi, dengan kecenderungan kepada agama yang benardan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.”

Kaumnya menyangkalnya, maka katanya:; ‘Adakah kalian menyangkal aku tentang Tuhan, sedang Dia telah menunjuki aku dan aku tidak takut terhadap apa yang kalian sekutukan, kecuali jika Tuhanku menghendaki sesuatu. Tuhanku meliputi segala sesuatu dengan ilmuNya. Adakah kalian tidak dapat mengambil pelajaran?”

 

Jika dilihat adanya upaya akal yang kemudian dibarengi pengembaraan yang cukup jauh, agaknya Ibrahim juga menggunakan media lain selain akal dalam upayanya, yaitu hati. Seperti yang diceritakan oleh Qur’an bahwa beliau memiliki hati yang lembut dan santun. Kriteria hati yang semacam ini hanya didapat dari olah batin yang serius. Dengan upaya akal dan hati serta usaha yang sangat bersungguh-sungguh inilah maka Allah memberikan petunjuk kepadanya. Penemuannya yang secara otodidak inilah yang menjadikan Ibrahim menjadi orang yang sangat pasrah kepada Tuhannya. Sebab beliau sudah membuktikan keberadaan Tuhan yang dicarinya itu melalui mata batinnya. Pertemuannya dengan Tuhan ini tentu saja dengan sarana hati, sebab otak hanya sebagai sarana awal dari pencariannya. Kepasrahan inilah yang menjadi ajaran Ibrahim sehingga ia menamakan dirinya muslim (orang yang pasrah).

Ajaran Ibrahim pada masa itu tentu saja sangat bertentangan dengan pandangan manusia tentang konsep ketuhanan. Di mana penyembahan berhala clan dewa dewi lebih dapat mereka pahami dari pada pengesaan Allah. Adat kekeluargaan yang kuat menjadi sarana untuk mempertahankan ajaran beliau. Itulah sebabnya maka Nabi-nabi yang datang setelah nya kebanyakan dari keturunan beliau -khususnya para nabi dan rasul yang diceritakan oleh Taurat, Injil clan al-Qur’an­. Nabi Musa yang datang setelahnya juga masih mempertahankan keluarga besar Bani Israel sebagai benteng ajaran Tauhid, walaupun pada masa itu paham umat manusia secara umum belum mampu menalar ajaran Tauhid. Maka tidak heran jika beliau harus berhadapan dengan Fir’aun yang menuhankan dirinya. Bahkan sebagian umatnya pun pernah tergelincir mengikuti penyembahan berhala. Hingga pada masa Uzair (Ezra) pun sistem kekeluargaan masih sangat ketat, dimana bangsa Yahudi tidak boleh mengawini orang pagan.

Ajaran ini terus berlanjut hingga masa menjelang kenabian Isa. Pada masa itu ajaran dipegang erat oleh kelompok Esenes, sementara kelompok bani Israel yang lain lebih memilih bergabung dengan masyarakat pagan Romawi yang kala itu menguasai bangsa Yahudi. Dari kelompok inilah (Esenes) muncul nabi Yahya (Yohanes pembabtis) yang berjuang melawan Romawi hingga akhirnya tertangkap dan dibunuh akibat pengkhiatan sekte Yahudi lain yaitu Farisi dan Saduki. Dua kelompok ini juga dicela oleh Yesus dalam Injilnya. Nabi Isa As. yang melanjutkan perjuangan pendahulunya ternyata mengalami hal yang sama. Pengkhiatan bangsanya yang berkomplot dengan Romawi membuatnya hanya bertahan selama tiga tahun dalam masa dakwahnya. Berkomplotnya sebagian bangsa Yahudi dengan Romawi inilah yang mengakibatkan ajaran tauhid Yesus menjadi terasimilasi dengan kebudayaan Romawi hingga menjadikan Tuhan yang Satu dipahami sebagai tiga, walaupun masih tetap mengatakan “Esa”. Pada masa nabi Isa paham `keluarga’ masih sangat kental, hingga beliau mengatakan : “…aku diutus hanya kepada domba­domba yang hilang dari umat Israel” . Hal ini bukanlah tanpa alasan, sebab pada masa itu bangsa lain masih belum mampu menalar paham monoteisme. Apalagi bangsa Romawi yang menguasai bangsa Israel, mitos dewa-dewi mereka masih sering diceritakan hingga saat ini.

Melihat kesinambungan ini, mestinya ajaran Kristen yang mengaku pengikut Yesus (Isa) adalah monoteisme. Yudaisme yang ada sekarangpun tetap berpaham monoteisme, walaupun syariatnya menjadi syariat nasionalisme. Kenapa Yudaisme tetap bertahan dengan monoteismenya? Hal ini mudah ditebak karena hingga saat ini pun agama Yudaisme hanya milik bangsa Yahudi. Artinya faktor “keluarga yang mampu mempertahankan tradisi” sangat berpengaruh sebagai benteng ajaran Monoteisme. Hanya saja ketika tradisi keluarga itu terlalu diunggulkan maka jadilah ajarannya nasionalisme buta yang menganggap bangsa lain sebagai budak.

Doa Nabi Ibrahim yang menginginkan agar keturunannya menjadi para pemimpin agama terwujud melalui kesinambungan peran keluarga dalam menjaga ajarannya. Keluarga dari keturunan Nabi Ibrahim tidak saja yang dari Ishaq, tapi juga Isma’il yang kelak menurunkan Muhammad.

Jika bangsa Yahudi/Israel memiliki silsilah nasab hingga sampai kepada Nabi Ibrahim melalui Nabi Ishaq, maka bangsa Arab khususnya keluarga nabi Muhammad juga memiliki nasab hingga sampai kepada Nabi Ibrahim melalui nabi Isma’il. Kita tidak perlu mengupas tentang nasab ini secara panjang lebar, sebab jika ada yang mempertanyakan keotentikannya, maka hal itu juga berlaku pada nasab nabi-nabi Israel (termasuk Yesus) kepada Ibrahim As. Maka yang akan kita bahas adalah tradisi ajaran Ibrahim As, yang berada di tanah Hejaz, lebih khususnya di tanah Makkah.

Pada masa jahiliyah, jazirah Arab -sebagaimana peradaban lainnya- masih dipenuhi dengan paham-paham penyembahan berhala, pohon, hewan, fenomena alam, dan benda-benda angkasa seperti bintang, matahari, dan bulan; seperti yang telah kita bahas sebelumnya. Namun demikian ada diantara mereka yang masih memegang tradisi Ibrahim. Mereka inilah yang disebut kaum Ahnaf,(literal-orang-orang yang lurus). Tradisi Ibrahim ada pada mereka karena memang mereka masih satu keturunan dengan umat Israel yaitu bangsa Semit. Sebagian mereka menganut ajaran Yudaisme karena bersinggunangan dengan bangsa Yahudi yang menempati daerah-daerah pertanian yang subur seperti Yasrib (Madinah). Keturunan semit lainnya disekitar jazirah Arab sudah mengenal ajaran Nasrani yang berkembang sejak abad 4 M. melalui Siria. Paham yang mereka anut adalah monoteisme karena rata-rata mereka mengikuti ajaran Ya’kubi (di Ghassan dan Syam), walaupun sebagian mengikuti paham Nestorian yang menuhankan Yesus (di wilayah Hirah).5

Secara umum, di Jazirah Arab, paham monoteisme bukanlah hal sangat baru. Maka disini kita melihat bahwa faktor `keluarga’ masih berperan dominan dalam penjagaan ajaran tauhid. Tidak mengherankan jika ajaran Nasrani yang mereka anut terdapat ajaran yang tidak mengakui ketuhanan Yesus, yang dianggap gereja sebagai bid’ah.

Nabi Muhammad dilahirkan dari keluarga ahnaf yang memegang tradisi Ibrahim. Kakek Nabi -Abdul Muntalib­misalnya pernah berujar mengorbankan putranya -Abdullah ayah Nabi Saw-, seperti yang pernah dilakukan oleh nabi Ibrahim. Keponakan Rasulullah Waraqah bin Noufal juga seorang tokoh ajaran ahnaf yang kemudian masuk nasrani -sebelum kenabian Muhammad-. Beberapa ajaran Ibrahim dengan tradisi Hanifiyah yang dicemooh oleh masyarakat Makkah pagan, adalah: puasa Asyura, haji, menjauhi minum khamr (seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar), menyambung tali persaudaraan, shadaqah, memerdekakan budak (ketiga hal ini pernah dilakukan oleh sahabat Hakim bin Hizam sebelum Islam),6 dan berkhalwat (menyepi-seperti yang dilakukan oleh Nabi); keseluruh ajaran ini mereka sebut tahannuts atau tahannuf.7 Tahannuf dalam bentuk khalwat adalah ibadah mengasingkan diri (`uzlah) dengan hitungan tertentu. Dan ibadah semacam ini dilakukan oleh para nabi seperti yang termaktub dalam Bibel (lihat bab Ibadah).

Satu hal yang sangat penting dari tradisi Ibrahim yang dipegang teguh oleh para Ahnaf, adalah penyembahan kepada Allah saja, seperti yang pernah dinyatakan oleh Rasulullah pada masa sebelum kenabian, saat ditanya oleh Khadijah, beliau menyatakan, “Aku tidak akan menyembah ‘Uzza selamanya”. Satu pernyataan yang membedakan antara penyembahan kepada Allah dan penyembahan lain dari kepercayaan Arab. Itulah sebabnya maka kata Allah hanya menunjuk kepada Allah saja sebagai Tuhan yang tidak disekutukan oleh para Ahnaf, Nazarean, dan Esenes. Masyarakat pagan Arab adalah masyarakat yang terkontaminasi kepercayaan nenek moyang, hingga mereka menempatkan ilah-ilah lain selain Allah, sepert Uzza, lata, dan Manat. Itulah sebabnya maka nama-nama mereka pun mencerminkan kepercayaan mereka, ada Abd Syams (hamba/penyembah matahari), ada Abdul Uzza (hamba uzza), dan ada juga Abdullah (hamba Allah). Maka nama Abdullah (ayah Nabi) merujuk pada nama Allah seperti yang disembah oleh para Ahnaf pengikut ajaran Ibrahim.

Ajaran monoteisme yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim yang sudah islam (pasrah kepada Allah saja) kini dipertegas lagi oleh kenabian Muhammad, dengan menghancurkan seluruh kepercayaan lama yang menyimpang dari ajaran Ibrahim. Hal yang sama dilakukan oleh Yahya As. dan Isa As. yang ingin membersihkan ajaran Musa As. dan Ibrahim As. serta nabi-nabi bani Israel sebelumnya. Maka tidak mengherankan jika kedua nabi yang hidup sezaman mendapat pertentangan dari Yahudi dari sekte Saduki dan Parisi, hingga menyebabkan kematian YahYa dan penganiayaan terhadap Isa As. dan pengikut keduanya.

 

NOTES

1. Karen Armstrong, Sejarah Tuhan, terj. Zaimul Am, Penerbit Mizan, Bandung, 2002, hal 37.

2. Ibid.

3. Abas Mahmud al-‘Aqod, Allah, Nahdlatu Mihr-Cairo, 1998, hal. 74

4. Mu’jam al-Hadlarah al-Mashriyah al-Qadimah (Insklopedi Peradaban Mesir Kuno), hal. 170.

5. Dr. Husain al-Haj Hasan, Hadarah al-Arab fi Shadr al-Islam, al-Muassasah al-Jami’iyyah-Beirut,

Cet. I 1992, hal. 27.

6. HR. Bukhari.

7. Menurut Ibnu Hisyam, tahannut adalah tahannuf, pemakaian tsa’ setelah nun bersyidah rupanya berat bagi lesan Arab, maka bergeser merljadi fa’. Maka makna tahannuf jika dirujuk keakar katanya ha, nun, fa; kembali pada nama ajaran Ibrahim yaitu hanifiah. Kata tahannuf juga berarti tabarrur (berbuat kebaikan) sebab ajaran Ibrahim (hanifiah) mengajarkan kebaikan.

 

Artikel Terkait :

Iklan

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: