Aliey Faizal

'Isy Kariiman Aw Muth Syahiidan

Majaz (Metafora)

Posted by Aliey Faizal pada 13 Juni 2012

V. KITAB SUCI
Kenapa kalian mengingkari

ayat-ayat Allah…?

Majaz (Metafora)

Interpretasi terhadap sebuah teks dalam bahasa apapun dibutuhkan kemampuan bahasa yang baik, agar sebisa mungkin terhindar dari misinterpretasi, apalagi terhadap teks semacam Qur’an yang menjadi sumber utama ajaran Islam. Dalam tradisi keilmuan Islam untuk menjadi seorang mufassir (interpretator) syarat kemampuan yang harus dimiliki amat ketat. Selain kemampuan bahasa dengan segala cabang keilmuannya seperti gramatika, retorika; juga diperlukan ilmu-ilmu pendukung lain seperti Hadits dan Mushthalah al-Hadits, Fiqh dan Maqasid as. Syar’ dan yang tidak kalah penting adalah Ulum al-Qur’an, Tajwid, Qiroat, juga ilmu-ilmu pendukung lain.

Majaz yang merupakan salah satu bahasan dalam retorika bahasa Arab, tentu tidak bisa diabaikan dalam memahami makna teks al-Qur’an. Apalagi bahwa majaz adalah gejala bahasa yang

lazim dikenal oleh pengguna bahasa manapun. Dua kata metaforis dalam Qur’an -telah dipahami salah oleh Dr.Robert Morey. la sendiri mengakui telah menerjemahkan secara literal. Berikut ini kutipan dari pernyataannya tentang rasisme :

Menuruf terjemahan bahasa Arab secara literal dari Surat 3:106-107, pada Hari Penghakiman, hanya orang-orang dengan wajah pufih yang diselamatkan. Orang-orang dengan wajah hitam akan dihukum. Ini merupakan rasisme dalam bentuknya yang paling jelek. 52

 

Kata hitam dan putih dengan makna metaforisnya “susah” dan “senang” hingga saat ini masih dipakai dalam bahasa keseharian masyarakat Arab. Mereka sering menggunakan kata khabar aswad (literalnya- kabar hitam) untuk menyatakan berita/keadaan yang tidak menyenangkan, dan khabar abyadl (literalnya-kabar putih) untuk mengungkapkan makna berita/keadaan gembira. Memaknai dua kata dalam ayat yang dimaksud Robert Morey, akan terdengar lucu jika dimaknai secara literal, sehingga terkesan adanya unsur kesengajaan, demi menuduh adanya rasisme dalam Islam.

Dengan memperhatikan kebiasaan masyarakat Arab dalam mengungkapkan makna senang dan sedih seperti contoh di atas, pembaca akan segera tahu apa yang dimaksud oleh Qur’an dengan wajah putih dan hitam. Makna wajah putih dalam ayat tersebut adalah wajah yang gembira karena selamat dalam penghakiman (hisab) sedang yang kedua adalah wajah yang sedih karena tidak selamat dan akan dihukum. Dan itu bisa terjadi atas siapa saja, termasuk mereka yang terlalu bangga dengan ras kulit putihnya. Jika hanya hitam dan putih saja yang masuk penghakiman, maka berbahagialah orang Indonesia yang berkulit coklat sawo matang.

 

NOTES

52 ibid., ha188-189 

Artikel Terkait :

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: