Aliey Faizal

'Isy Kariiman Aw Muth Syahiidan

Keduanya tak terpisahkan

Posted by Aliey Faizal pada 13 Juni 2012

IV. SYARI’AT ISLAM
Kalian tiada berarti sebelum

menjalankan Taurat dan Injil

Keduanya tak terpisahkan

 

Moralitas individu dan sosial, selain demi kenyamanan hidup manusia, merupakan sarana pembersihan jiwa agar fitra manusia tidak terkikis oleh hiruk-pikuk keduniaan, seperti halny ibadah vertikal. Maka tidak heran jika Rasulullah mengajarkan bahwa memotong kuku termasuk fitrah4, dan memungut pak dan sejenisnya dari jalanan adalah sebagian dari iman, seper dalam hadits berikut ini:

Dari Abu Hurairah mengatakan, bersabda Rasulullah Saw.: “Iman itu ada tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih macamnya, yang paling baik adalah mengatakan tiada ilah selain Allah, dan yang terendah adalah rnernungut adza (hal­hal yang rnembahayakan pejalan) dari jalan; dan malu adalah bagian dari pada iman”. (HR. Muslim) 5

Penyebutan angka tujuh puluh dan enam puluh lebil adalah gaya bahasa hiperbol yang sering dipakai oleh bahasa Arab (Semit) untuk menyatakan banyaknya sesuatu. Dari hadit di atas kita mendapat gambaran bahwa keimanan kepada Allah dijabarkan dalam ibadah vertikal seperti syahadat, serta ibadal horizontal dengan menyempurnakan moral seperti memungut paku (dan sejenisnya) dari jalanan. Seperti halnya shalat dan puasa, maka berbuat baik pada diri sendiri clan orang lain adalal untuk menjaga fitrah manusia. Dan fitrah adalah universal merupakan anugrah Allah kepada makhluqnya, hanya saja manusia kadang tertutup fitrahnya oleh hawa nafsunya sendiri tidakkah kita melihat, jika ada seseorang tertimpa musibah – misalnya- kita akan merasa iba dan ingin menolong, namui perasaan itu bisa terkubur ketika nafsu mengatakan bahwa dia adalah “orang lain” dan mungkin berubah 180% menjadi sikap nyukurin ketika hawa nafsu mengatakan ia adalah “musuh” Maka dari itu perang terhadap hawa nafsu yang dihembuskan oleh Setan menjadi jihad terbesar dalam ajaran Islam.

Hal yang sama telah disampaikan oleh Nabi Isa dalan nasehatnya kepada murid-muridnya, ia mengatakan :

“Berjaga jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam percobaan; roh memang berniat baik, tetapi tabiat manusia lemah.” (Markus l4: 38).

 

Roh manusia menurut al-Qur’an dibekali dengan fitrah ilahiah6 maka cenderung lurus, namun tabiat manusia seringkali kalah menahan godaan setan, hingga hawa nafsu menguasi dirinya dan fitrahnya menjadi redup. Itulah sebabnya baik Nabi Muhammad maupun para nabi sebelumnya, mengajarkan disiplin diri dalam ritual peribadatan seperti shalat dan puasa, juga budi pekerti dan menjaga diri dari perbuatan tercela yang dapat mengotori fitrahnya.

Dari seluruh ibadah vertikal dan horizontal, pemungkasnya adalah mengunjungi bait Allah, dalam ajaran Islam disebut haji, yang dilakukan di Makkah dalam waktu

tertentu. Pembahasan tentang masing-masing ibadah di atas akan kami lengkapi pada bahasan tersendiri.

Apa yang diajarkan oleh para nabi dan rasul serta kitab­kitab yang diturunkan kepada masing-masing rasul, pada hakekatnya sama, hanya saja umatnya yang menyikapi berbeda.

Oleh sebab itu maka Allah memperingatkan agar hukum yang pernah diturunkan kepada masing-masing umat untuk dijaga dan ditegakkan. Dalam Al-Qur’an Allah menegur mereka yang telah diberi kitab:

 

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran­ajaran Taurat, Injil dan al-Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu”. Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.

 

Teguran Allah melalui nabi terakhirnya bukanlah tanpa alasan, kita saat ini dapat melihat apakah shalat, dan puasa dijalankan di dua agama samawi sebelum Islam? Kalaupun sebagian mereka menjalankan -khususnya puasa-, namun tata cara yang ada di dalam bibel hanya bersifat global, seperti wudlu’ misalnya, dalam perjanjian lama hanya disebutkan membasuh tangan dan kaki sebelum memulai peribadatan, demikian juga dengan shalat dan puasa; semuanya bersifat global tidak tidak ada rinciannya.

Apalagi pada masa sekarang, ketika panggung agama Yahudi dan Kristen beralih ke Amerika dan Eropa, sisi ibadah vertikal yang begitu sakral sudah berubah, apalagi ibadah horizontal. Pesan-pesan agama tentang aturan hidup sudah dianggap kuno, maka ajaran kitab suci kadang terpaksa diganti (lihat bahasan tentang kitab suci). Kemegahan duniawi yang dicapai oleh kiblat kedua agama di atas tidak disertai dengan kemajuan spiritual, yang membuat masyarakat keduanya menjadi kering dan bimbang, tanpa tujuan hidup yang berarti, maka tidak mengherankan jika tolak ukur keberhasilan adalah materi. Kekeringan ruhani yang menjurus kepada kehidupan tanpa aturan, akan lebih terlihat dalam jawaban atas hujatan buku Islamic Invasion pada kajian berikut :

NOTES

4. Dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw. bersabda: “Fitrah itu ada lima (atau lima macam dari fitrah): Khitan, bercukur, memotong kuku, mencabut (bulu) ketiak, dan memotong kumis”. Diriwayatkan oleh

Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Daar al-Fikr, Beirut, 1992, vol. l, hal. 135.

5. Al Bukhari, Op. cit., I/42.

6. Robert Morey, Robert Morey, The Islamic Invasion – confronting the World’s Fastest Growing Relegion, Scholars Press, Las Vegas, 1991′ ha1183.

Artikel Terkait :


Iklan

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: