Aliey Faizal

'Isy Kariiman Aw Muth Syahiidan

Interaksi total

Posted by Aliey Faizal pada 13 Juni 2012

V. KITAB SUCI
Kenapa kalian mengingkari

ayat-ayat Allah…?

BERINTERAKSI DENGAN AL-QUR’AN

Interaksi total

 

Sebagai petunjuk bagi umat manusia, maka al-Qur’an berbicara kepada manusia secara total, mencakup dimensi materi dan non-materi, berikut peran mereka sebagai hamba sekaligus kholifah. Itulah sebabnya Al-Qur’an berbicara kepada manusia melalui hati dan akalnya. Materi yang dibicarakan juga mencakup seluruh aspek kehidupan, maka dalam penyajiannya juga tidak lepas dari ciri totalitas. Dimensi mated dan non-materi tidak disampaikan secara terpisah. Posisi manusia sebagai hamba dan khalifah juga disampaikan dalam satu kesatuan. Totalitas inilah yang sering disalah-artikan orang sebagai hal yang “campur aduk”.

Totalitas interaksi nalar menghendaki pemahaman al­-Qur’an secara utuh dari segala segi. Tidak bisa diambil sebagian untuk kemudian dilupakan bagian yang lainnya. Bukankah al­-Qur’an sendiri melarang tindakan separo-separo semacam itu. Pengalaman umat terdahulu adalah ibrah bagi kita, seperti ayat berikut ini -yang artinya-

[Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu-membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebagian dari AI-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.] (QS aI-Baqarah : 85).

Tokoh kajian Islam kontemporer Muhammad Arkoun dalam telaahnya terhadap al-Qur’an mengutip hadits Rasulullah -sebagai pijakan kajiannya- yang artinya : “Al-Qur’an hanya bisa dipahami secara mendalam setelah memandang berbagai seginya” (al-Hadits).

Totalitas interaksi kalbu, menghendaki keimanan dan kesadaran seperti yang diisyaratkan pada kelanjutan dari ayat-ayat pertama surat al-Baqarah yang telah kita bahas sebelumnya. arti ayat tersebut adalah

[(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan-nya, dan merekalah orang-orang yang beruntung.] (al-Baqarah : 3-S).

 

Tentang bagaimana tata caranya, filosof dan penyair kenamaan Muhammad Iqbal menceritakan pengalaman interaksinya dengan al-Qur’an sebagai berikut :

I used to read the holy Qur’an every morning. My father saw me reading and often heard my recitation. It gave him immense pleasure. He came to me once and said how he would like to tell me two things when the occasion arose.

I had waited long for the fulfillment of my father’s promise. When one day, after I had passed my B.A., he came to me. I was then reciting the holy Qur’an as usual after my morning prayers. He reminded me of his promise, but wished to be assured that I would carry out his instructions to the best of my ability. On my promising to do so, he wanted me to try and feel while reciting the Holy Qur’an that the almighty God was talking to me, and secondly to try and carry his message to the humanity.72

Saya selalu membaca al-Qur’an setiap pagi. Ayah melihatku membaca dan seringkali mendengarkan bacaan saya. Hal itu memberikan kepuasan yang berarti baginya. Suatu saat beliau datang kepadaku seraya mengatakan bahwa ia ingin sekali memberitahuku dua hal jika saatnya tiba.

Saya lama menunggu pemenuhan janji Ayahku. Hingga suatu hari, setelah saya menyelesaikan B.A., Beliau datang kepadaku, saat itu saya sedang membaca al-Qur’an sebagaimana biasa setelah shalat shubuh. Beliau mengingatkan saya akan janjinya. Tapi beliau hendak memastikan dulu bahwa saya akan memegang nasehatnya sebaik yang saya mampu. Dengan janji saya untuk melakukannya, beliau memintaku untuk berusaha merasakan bahwa saat membaca al-Qur’an Tuhan yang Mahakuasa sedang berbicara kepada saya, dan yang kedua agar berusaha membawa pesanNya kepada umat manusia.

Penulis biografi M. Iqbal, prof. Masud-ul-Hasan, mengomentari penuturan Iqbal di atas sebagai berikut : Bahwa implikasi dari nasehat tersebut, al-Qur’an hendaknya tidak dibaca dengan cara yang biasa; ia harus dianggap seperti dialog antara Tuhan dan manusia. Kedua, pesan dari al-Qur’an tersebut harusnya tidak hanya untuk memuaskan diri sendiri; tapi harus disampaikan kepada masyarakat dengan cara yang cocok.73

Muhammad Iqbal sangat bersungguh-sungguh memegang nasehat sang ayah sepanjang hidupnya. Dan nasehat inilah yang membuatnya menjadi seorang Muhammad Iqbal seperti yang kita kenal. Maka tidaklah mengherankan jika dia sampai mengatakan : “None knows the secret that momin. Though he looks to be the reader, is really the Qur’an”74.

Imam Al-Qhazali mengajarkan password untuk sebuah akses yang maksimal, namun seberapa jauh seseorang dapat melakukannya tergantung masing-masing individu. Password tersebut adalah sikap yang oleh Imam al-Ghozali dibagi dalam tiga tingkatan interaksi sebagaimana berikut :

 

Tingkatan terendah             :

Seorang pembaca dalam posisi seakan membaca al-Qur’an di hadapan Allah, melihat dan mendengarkan dari pada-Nya.Maka kondisinya dalam tingkatan ini seperti seorang yang sedang bertanya, meminta dan memohon.

Tingkatan menengah         :

Menyaksikan dengan hatinya seakan Allah melihat dan berbicara kepadanya dengan segala kelembutan, serta memberikan kepadanya segala kenikmatan dan kebaikan. Maka posisinya adalah: malu, mengagungkan, mendengarkan, dan memahami.

Tingkatan tertinggi              :

Kondisi dimana seseorang mampu melihat Pembicara dalam dialog tersebut, ia juga mampu melihat sifat-sifat didalam kalimatNya. Maka ia tidak melihat kepada dirinya sendiri maupun bacaannya, atau kepada segala macam keni’matan yang diberikan kepada. la menjadi tidak menginginkan apa­apa dari sang Pembicara, segenap pikirannya tertuju kepadaNya, seakan hanyut dalam menyaksikan Pembicara tanpa ada yang lainnya. Inilah derajat para muqorrobin, dan yang sebelumnya adalah derajat ashabul yamin, sedang yang diluar ini adalah orang-orang yang lalai.75

Sikap seperti inilah yang seharusnya dilakukan oleh seorang Muslim dalam membaca firman-firman Allah Swt. terlepas dari hujatan dan cemoohan umat lain yang memang sejak dulu sudah sering mereka lakukan. Sebab yang paling ditakutkan oleh mereka adalah jika umat Muslim benar-benar memahami dan menjalankan petunjuk Allah yang ada dalam al-Qur’an. Coba anda bayangkan kalau umat Muslim mau perpegang pada ajaran al-Qur’an tentang persaudaraan sesama mu’min, mungkin penindasan terhadap umat Muslim tidak akan terjadi, minimal bisa terkurangi.

Kekuatan ayat-ayat al-Qur’an dalam memberikan petunjuk dan bimbingan telah dibuktikan oleli Rasulullah Saw. dengan keberhasilan dakwah beliau dalam tempo 23 tahun, Hal Yang sama telah dibuktikan oleh para sahabat dan penerusnya hingga mampu menciptakan suatu peradaban yang telah memberikan sumbangan besar bagi kemajuan peradaban manusia, termasuk didalamnya kemajuan Eropa. Hal ini secara ddak langsung telah membuktikan bahwa al-Qur’an adalah suatu mukjizat yang paling besar dan bisa dirasakan tidak hanya oleh Sang Nabi tapi juga oleh pengikutnya, bahkan oleh siapapun yang ingin merasakan kehebatannya. Pantas saja jika al-Qur’an menantang manusia untuk membuat satu atau sepuluh surat semisalnya, tanpa bantuan Allah.

Sejarah telah membuktikan kebenaran al-Qur’an sebagai petunjuk, lantas bagaimana dengan ayat-ayat buatan manusia yang katanya nongkrong di situs Internet menunggu Juri?, apa sumbangsih yang telah diberikan bagi umat manusia? hujatan ataukah provokasi ? yang pasti salah satu dari keduanya.

NOTES

72 Masud-ul-Hasan, Prof. Live of Iqbal. A. Salam Ferozsons Ltd. Lahore. Vol I. Ha1.15.

73 Ibid.

74 Ibid.

75 Imam Al-Ghozali. Ihya’ Ulumiddin. Jilid I. Hal. 287. 288. Lihat juga Yusuf Al-Qordlowi, Kaifa nata’amalu ma’a al-Qur’an. Dar as ­Syuruq, cet I, th.1999, ha1.180.

Artikel Terkait :

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: