Aliey Faizal

'Isy Kariiman Aw Muth Syahiidan

Berinteraksi dengan al-Qur’an (upaya mencari petunjuk)

Posted by Aliey Faizal pada 13 Juni 2012

V. KITAB SUCI
Kenapa kalian mengingkari

ayat-ayat Allah…?

BERINTERAKSI DENGAN AL-QUR’AN

Berinteraksi dengan al-Qur’an (upaya mencari petunjuk)

Petunjuk sangat berhubungan dengan kesiapan penerima petunjuk, baik akal maupun mental, lebih dari itu, petunjuk tidak lepas dari kehendak si pemberi petunjuk. Seseorang yang bersikap arogan dan apriori akan sulit menerima suatu petunjuk bahkan mungkin sulit untuk mencerna isinya. Sebaliknya seorang yang berlapang dada akan lebih cermat memahami isi petunjuk dan bahkan bisa menerimanya.

Apalagi untuk memahami petunjuk dari yang mencipta kehidupan, tidak hanya kesiapan mental tapi juga kesiapan akal (daya nalar dan bekal keilmuan). Namun demikian kesiapan mental adalah yang paling mendasar, sebab -tanpa niat baik­setinggi apapun ilmu dan IQ seseorang tidak akan mampu memahami apalagi menyerap pesan al-Qur’an. Kesiapan mental inilah yang menjadi password untuk dapat mengakses al-Qur’an, tanpanya jangan harap bisa masuk sebab akan ada “dinding penghalang” seperti yang termaktub dalam surat Al-Isra’ 17: 45-46 yang kami terjemahkan seperti berikut:

 

“Dan apabila kamu membaca AI-Qu’an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup, Dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut nama Tuhanmu saja dalam Al-Qur’an niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya”  (al-Isra’ 17: 45-46).

Untuk dapat mengakses al-Qur’an tentu saja dengan sikap mental yang baik (niat baik) setidaknya sikap jujur dan objektif. Jika sudah masuk maka ia akan dihadapkan pada sekian banyak ajaran yang mengacu pada tema sentral yaitu Tauhid. Mereka akan lebih mudah mencerna dan menerima petunjuk tersebut. Berikut ini adalah contoh pengalaman beberapa dari mereka.

Maryam Jamilah (Amerika) yang lahir dan dibesarkan di keluarga Yahudi reformis, menceritakan pengalamannya sebagai berikut :

“Suatu kali ayah saya berkata bahwa tidak ada nilai yang bersifat tetap di dunia ini. Karena itu, kita harus mengubah diri kita sesuai dengan situasi yang terus berubah. Namun, saya tidak pernah menerima pernyataan ini. Dahaga saya terhadap Kebenaran semakin meningkat. Dengan kasih-sayang Allah saya menemukan tujuan berharga saya setelah mengkaji Al-Quran. Saya menjadi yakin bahwa apa yang dilakukan untuk mencoba mencari Karunia Allah tidak pernah sia-sia; apabila imbalannya tidak diperoleh di dunia ini, maka ganjarannya di Hari Kemudian adalah suatu keharusan “.70

 

Dr. Murod Hofman, duta besar Jerman di Maroko. Perkenalannya dengan Islam bermula saat berada di Al-Jazair tgl. 28 Mei 1962, saat melihat kegigihan dan semangat pejuang al-Jazair dalam melawan penjajah. la tidak dapat memahami dari mana datangnya dukungan yang tersembunyi ini, sampai ia dapatkan jawabannya dalam Al-Qur’an. 18 tahun kemudian, tepatnya tanggal 25 September 1980 beliau masuk Islam.

Kenyataan seperti ini seringkali terjadi, beberapa diantaranya terjadi atas Maurice Buchael yang dikritik oleh penulis buku “Islamic Invasion”, Roger Garaudy yang mendapat tekanan dari Zionis, Muhammad Asad (Leopold Wais), dan banyak tokoh lain yang tidak mungkin kami sebut satu persatu. Bahkan penulis (Irena) sendiri sangat bersyukur, mendapatkan jawaban tentang masalah ketuhanan dari al­Qur’an, bahkan ketika masih menjadi biarawati. Petunjuk inilah yang mengantarkan penulis masuk Islam.

Al-Qur’an adalah kebenaran, sesuatu yang haq/benar tidak perlu diperdebatkan, sebab seseorang yang ingin mendebat kebenaran dapat dipastikan menghendaki kebenaran tersebut agar berkurang atau hilang; sama halnya seseorang yang ingin mendebat sesuatu yang haram, bisa dipastikan ingin agar menjadi halal, minimal setengahnya.71 Toh al-Qur’an tidak pernah memaksa seseorang, [Dan katakanlah:”Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”.] (QS. Al-Kahfi: 29), jika ingin mengambil petunjuk dari al-Qur’an silahkan. Jika tidak juga silahkan, tapi Segala akibat ditanggung sendiri lho.

NOTES

70 Badar Azimabadi, Akhirnya Kupilih Jalam Selamat, Penerbit Marja’, ha1.125.

71 Nasehat KH. Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Gontor Ponorogo.

Artikel Terkait :

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: