Aliey Faizal

'Isy Kariiman Aw Muth Syahiidan

AI-Qur’an Sumber Petunjuk

Posted by Aliey Faizal pada 13 Juni 2012

V. KITAB SUCI
Kenapa kalian mengingkari

ayat-ayat Allah…?

BERINTERAKSI DENGAN AL-QUR’AN

AI-Qur’an Sumber Petunjuk

Ketika seseorang ingin membaca al-Qur’an, setelah membaca surah al-Fatihah yang perupakan pembuka al-Qur’an, ia akan langsung mendapatkan tiga ayat pertama dari surat ke dua (Surat AI-Baqarah – Sapi betina) ketiganya berada di awal surat al-Baqarah yaitu :

 

Alif laatn miim, Kitab itu (al-Qur’an) tidak ada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. (al-Baqarah :1-2)

Setelah meyakinkan pembacanya bahwa al-Qur’an tidak ada keraguan di dalamnya, selanjutnya Allah menyatakan bahwa al-Qur’an sebagai Hudlan yang berarti hidayah/petunjuk bagl orang-orang yang bertaqwa. Di sini pembaca diingatkan bahwa al-Qur’an adalah petunjuk dan hidayah, oleh sebab itu yang mestinya dilakukan oleh pembaca/pengkaji al-Qur’an adalah istlhda’ (minta/mencari petunjuk/hidayah). Yang namanya mencari bisa dapat bisa tidak, juga meminta bisa diberi bisa tidak. Kalau yang mencari saja belum tentu dapat dan yang meminta belum tentu diberi bagaimana dengan yang membaca dengan niat menghujat ? Wow sehebat apa manusia di hadapan penciptanya.

Setiap bacaan pasti ada cara membacanya dan cara baca yang salah akan menghasilkan kesan dan kesimpulan yang salah pula, kan tidak mungkin anda membaca buku telpon seperti membaca cerita roman?. dan al-Qur’an kurang tepat jika dibaca seperti layaknya bacaan-bacaan yang lain, apalagi jika Allah sendiri telah menyatakan bahwa al-Qur’an merupakan petunjuk dan sumber hidayah.

Sebagai petunjuk dan mukjizat, sangat kecil artinya jika al-Qur’an hanya dianggap kitab sejarah, walaupun di dalamnya memuat fakta-fakta sejarah. Akan terasa kering jika al-Qur’an hanya dianggap kitab sastra, walaupun gaya bahasanya sangat tinggi dan diakui oleh masyarakat Arab dan non-Arab. Al-Qur’an juga bukan sekedar buku iptek, walaupun memuat isyarat-isyarat ilmu pengetahuan.

Al-Qur’an adalah petunjuk Allah Swt. bagi umat manusia yang disampaikan melalui Nabi Muhammad Saw. Wahyu/ petunjuk Allah tersebut diturunkan secara bertahap -ayat demi ayat- seiring perjalanan dakwah Rasulullah, diturunkan di Makkah selama 10 th dan di Madinah 10 th. Petunjuk Allah inilah yang membawa keberhasilan dakwah beliau sehingga mampu merubah kehidupan bangsa Arab dalam waktu ± 23 th. Fungsi tersebut tetap berlanjut pada masa sepeninggal Rasulullah hingga umat Muslim mampu menciptakan peradaban yang diakui oleh bangsa-bangsa lain. Bahkan sampai saat ini fungsi tersebut tetap berlaku, terlepas apakah manusia -umat Islam khususnya saat ini- menyadari peran dan fungsi petunjuk dari AI-Qur’an tersebut atau tidak.

Penulis buku Islamic Invasion sebenarnya memperhatikan hal ini, hanya saja logika penyampaiannya dengan sengaja dibalik, yang semula “Nabi menerima wahyu sebagai petunjuk dalam menghadapi permasalahan dakwah yang

timbul” tapi kemudian dibalik menjadi “ketika permasalahan pribadi timbul nabi menurunkan wahyu sebagai jalan keluarnya”, kelihatannya segala cara dipakai Robert Morey untuk melampiaskan kebenciannya. Berikut ini kutipan salah satu dari tiga contoh yang ditulis Robert M.:

3. Ketika banyak orang mengganggu Muhammad di rumahnya, dia segera menerima wahyu yang sesupi yang menetapkan peraturan mengenai kapan mereka boleh mengunjunginya dan kapan tidak boleh mengganggunya (Surat 33:53-58; 29: 62-63; 49:1-5).69

Ketiga contoh yang dikemukakan adalah masalah-masalah pribadi Nabi. Sedang kejadian lain tentang masalah yang lebih utama yaitu masalah dakwah tidak berani dia ungkapkan, sebab akan bertolak belakang dengan logika terbaliknya. Kisah sejarah dakwah Rasulullah yang kami maksud adalah sebagai berikut :

Pada awal dakwah Rasulullah di Makkah, Nabi mendapatkan permusuhan yang sangat keras, diantara mereka yang paling memusuhi terdapat dua orang Quraisy yaitu : An­ Nadhr bin al-Harits dan Uqbah bin Abi Mu’aith, keduanya diutus oleh kaum musyrik Quraisy untuk mencari bahan guna merusak dan menghentikan dakwah Rasulullah, mereka berdua diutus ke Madinah menemui pendeta Yahudi untuk menanyakan hal Ikhwal Nabi Muhammad Saw.

Atas pertanyaan dua orang itu para pendeta Yahudi menjawab “Tanyakan kepada Muhammad tiga soal penting. Kalau ia dapat menjelaskan berarti ia benar-benar seorang Nabi. Kalau ia tidak dapat menjelaskan berarti ia hanya membuat­buat omong kosong dan kalian boleh berbuat apa saja terhadap dirinya. Tanyakan kepadanya kisah tiga orang pemuda yang Pada zaman dahulu melarikan diri dari istana kerajaan. Kisah mereka amat menakjubkan. Tanyakan kepadanya mengenai seorang lelaki yang berkelana di muka bumi dari timur hingga ke barat, bagaimana kisahnya! Tanyakan juga kepadanya soal roh, kalau ia dapat menjawabnya maka ia adalah seorang Nabi begitu sebaliknya”.

Setelah melaporkan kepada kaumnya, beberapa hari kemudian bersama-sama mereka menemui Rasulullah untuk menanyakan ketiga pertanyaan seperti di atas. Rasulullah menjawab : “Semuanya itu akan kujelaskan kepada kalian besok pagi”. Beliau menjanjikan jawaban itu tanpa mangucap “Insya Allah” (“Jika Allah menghendaki”). Atas kelalaiannya itu Allah Swt. tidak menurunkan wahyu-Nya selama 15 hari (riwayat lain mengatakan tiga hari). Selama itu beliau menanti-nanti turunnya wahyu dengan cemas dan gelisah karena telah menjanjikan kepada kaun musyrik Quraisy untuk memberikan jawaban “besok pagi”.

Akibat kelambatan turunnya wahyu itu ejekan dan cemoohan kaum musyrikin tambah menjadi jadi. Kalau memang benar tuduhan Robert Morey, maka Rasulullah tidak perlu menunggu sampai 15 hari, malam karang cerita besok pagi beres. Tapi yang terjadi sebaliknya, wahyu yang diturunkan selain berupa jawaban juga berupa teguran dari Allah [dan janganlah sekali-kali engkau mengatakan atas sesuatu sungguh aku akan melakukan itu besok pagl] (Qs. al-Kahfi: 24) itupun setelah 15 hari. Jawaban untuk pertanyaan pertama -tentang kisah 3 orang pemuda- adalah Surat Kahfi : 1- 6; jawaban pertanyaan kedua -tentang seorang lelaki pengelana- adalah surat Kahfi : 83-88; dan jawaban pertanyaan ketiga -tentang roh- adalah surat al-­Isra: 85.

Jika untuk masalah yang paling besar yang menyangkut dakwah beliau tidak berani mengada-ada -padahal resiko keterlambatan wahyu yang dialami beliau sangatlah berat- untuk apa beliau mengarang wahyu untuk hal-hal yang sifatnya pribadi dan sepele. Mengarang cerita jawaban saja tidak berani apalagi mengarang wahyu.

NOTES

69 Robert Morey, op. cit., 178.

Artikel Terkait :

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: