Aliey Faizal

'Isy Kariiman Aw Muth Syahiidan

Umat Yahudi

Posted by Aliey Faizal pada 12 Juni 2012

I. PENDAHULUAN
Jangan Berlebih-lebihan…!

Umat Yahudi
Nabi Musa menyeru umatnya -bangsa Israel- dan umat manusia secara umum untuk menyembah Allah semata. Seruan tauhid kepada seluruh umat manusia yang diemban Nabi Musa menjadikannya berhadapan dengan bangsa Mesir yang menuhankan Fir’aun. Nabi Musa telah berhasil dengan misinya, lcitab Taurat ditinggalkan kepada kaumnya. Tapi sayang bahwa risalah tauhid tersebut tidak disebarkan oleh umatnya kepada manusia secara umum, karena menganggap diri mereka `berbeda’. Al-Qur’an banyak memberitakan bahwa memang mereka dikarunia akal yang tinggi. Karunia tersebut sangat disayangkan ketika disikapi sebagai alasan untuk membedalcan dirinya dengan umat lain. Sikap `berbeda’ inilah yang membuat merelca bersikap melampaui batas. Banyak Nabi yang telah mereka bunuh, ajaran Rasulpun mereka rubah, kini mereka lebih menyukai Talmud dari pada menggunakan Taurat, Padahal Talmud sendiri ditulis berdasarkan dua komentar atas Taurat yang terkenal, yaitu Mishnah dan Gemara.1 Ajaran Talmud berikut ini sangat memperkuat pernyataan di atas :

“Wahai anakku, hendaklah engkau lebih mengutamakan fatwa dari para ahli kitab (Talmud) dari pada ayat-ayat Taurat”. (Talmud kitab Erubin: 2b-edisi Soncino).2

 

Perasaan `berbeda’ itu mereka tunjukkan dengan arogansi dan hegemoni keduniaan atas umat lain, dengan tolak ukur materialisme. Mereka lebih menonjolkan superioritas yang lebih menyerupai sikap nasionalisme-rasisme dari pada penyebaran risalah tauhid yang bersifat universal. Ajaran Nabi Musa As, akhirnya tergeser oleh kepentingan duniawi, dan risalah tauhid berhenti di tengah jalan.

Catatan :

1. Dr. Fuad Muhammad Shibel, Masalah Jahudi Internasional (terjemah dari judul asli “Al-Musykilah al Yahudiyah Al-‘Alamiyah”, oleh Prof. H. Bustami A. Gani dan Drs. Chatibul Umam), Bulan Bintang, Jakarta, Cetakan pertama 1970, Hal. 16.

2. Talmud, dalam Z.A. Maulani, Zionisme, Penerbit Pustaka Amanah, Jakarta, 2003, hal. 88.

 

Artikel Terkait :

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: