Aliey Faizal

'Isy Kariiman Aw Muth Syahiidan

Umat Kristen

Posted by Aliey Faizal pada 12 Juni 2012

I. PENDAHULUAN
Jangan Berlebih-lebihan…!

Umat Kristen

Atas arogansi yang mereka lakukan, Allah mengirimkan Rasul yang berikutnya yaitu Nabi Isa As. Umat Yahudi yang merasa lebih baik tentu saja tidak akan mengakui kenabian Isa As. Seperti yang pernah mereka lakukan lcepada nabi mereka sendiri, maka perlakuan merelca kepada Nabi Isa As. (Jesus) juga sama bahkan mungkin lebih. Tema sentral penyudutan yang mereka lancarkan adalah masalah kelahiran Nabi Isa As. yang tanpa ayah. Dengan kejam umat Yahudi menuduh Nabi Isa As.sebagai anak haram. Perlakuan semacam ini tentu saja mendapat reaksi pembelaan dari pengikut Nabi Isa As. -yang mengajarkan “jika kau dipukul pipi yang kanan, maka berikanlah pipi yang kiri”-. Sepeninggal Nabi Isa As. sikap yang bermula dari pembelaan menjadi berlebihan ketika bercampur dengan kepentingan. Sikap berlebihan inilah yang menjerumuskan umat ini hingga menganggap nabinya `bukan manusia’ tapi lebih dari itu diangkat ke derajat `tuhan’. Kultus individu yang sering dilakukan oleh manusia terhadap siapapun yang mereka sayangi dan mereka hormati. Apalagi setelah bercampur kepentingan agar dapat menolak anggapan Yahudi bahwa Nabi Isa As. adalah anak haram.
Segala macam argumentasi dibangun hingga sampai pada pernyataan bahwa nabi Isa (Jesus) adalah firman/kalam Allah yang qodim/abadi setelah sebelumnya menyebut ‘anak’ -satu derajat di atas nabi/rasul-. Istilah kalam terpaksa dipakai untu menyatakan bahwa dia bukan manusia. Dilengkapi dengan qodim/abadi untuk menghindari bahwa ia adalah makhluq. Tapi, mari kita berpikir sejenak. Manusia adalah makhluk tertinggi – kecuali yang menyamakan dirinya dengan kera- sedangkan nabi/rasul berada dipuncak mereka. Di atas derajat itu hanya ada satu yaitu Pencipta. Selain Pencipta hanya ada makhluq. Jika manusia tertinggi dinaikkan derajatnya satu tingkat oleh manusia, itu sama saja dengan menuhankan manusia.

Robert Morey dalam The Islamic Invasion-nya dengan lantang menolak pernyataan al-Qur’an bahwa Jesus bukan putra Tuhan, dasarnya adalah bahwa Nabi Yesaya telah menubuatkan adanya `putra tuhan’, (Kitab Yesaya 9: 5-6). la juga menolak pernyataan al-Qur’an bahwa Jesus bukan manusia sekaligus tuhan, melainkan hanya manusia belaka. Dasarnya adalah Yesaya 9-5 yang menyatakan bahwa Jesus juga disebut “allah yang perkasa”. Pernyataan Robert Morey yang mengutip dua ayat dari Injil, menegaskan bahwa umat kristen telah menuhankan Nabi Isa (Jesus). Sebutan “putra tuhan” yang diikuti pengakuan keilahian, pada dasarnya bertentangan dengan ajaran Yesus sendiri, yang mengatakan :

“Dan lagi diberinya kuasa kepadanya akan melakukan hukuman, sebab ia itulah anak munusia adanya”. (Yahya 5:27).

 

Kuasa yang dimaksud dalam ayat ini adalah kuasa mengatur umatnya seperti yang diperintahkan oleh Allah kepadanya, bukan kuasa yang menyamai Allah.
Umat Kristen yang sejak awal sudah bersinggungan dengan filsafat Yunani berupaya menyempurnakan argumentasi yang mereka bangun. Bahwa secara logika manusia tidak akan bisa naik kederajat tuhan, jika masih ada perantara antara manusia yang dituhankan dengan Tuhan itu sendiri. Perantara yang kami maksud adalah Roh Qudus sebagai perantara wahyu dari Allah kepada Nabi Isa As. Maka untuk memperkokoh argumentasi yang mereka bangun, tepatnya untuk menghilangkan ‘antara’, maka mau tidak mau Roh Qudus harus masuk dalam jajaran yang sama dan jadilah `bangunan rumah laba-laba’ yang disebut TRINITAS.
Pengkultusan yang sama juga dilakukan atas Ibunda Nabi Isa As. Walaupun otoritas gereja tidalc menempatkannya pada posisi seperti putranya-salah satu oknum trinitas-, namun secara praktis telah menempatkan pada posisi yang sama. Dalam pandangan Kristen, sebagai manusia Yesus memiliki ibu yaitu bunda Maria, oleh sebab itu berdoa kepada bunda Maria – menurut mereka- adalah jalur cepat juga, karena tertuju kepada ibu Tuhan. Praktek berdoa memohon keselamatan kepada bunda Maria telah menempatkan wanita suci ini pada posisi dipertuhankan. Praktek tersebut dilakukan dalam ritual yang disebut : Salam Maria, Doa Rosario, dan Novena.
Tiga upaya pengkultusan -Yesus, Roh Kudus, dan Maria ­semacam inilah yang dilarang Allah karena menempatkan Allah sang Pencipta sederajat dengan ketiga makhluqnya tersebut. Menuhankan seorang rasul, sama saja dengan mengubah ajaran yang dibawa oleh sang rasul. Dan atas dasar perlakuan umat terhadap risalah, para rasul mempertanggungjawabkan hal itu dihadapan Allah yang telah mengutus mereka. Seperti yang disampaikan Allah dalam al-Qur’an berikut ini -yang artinya- :

(Ingatlah), hari diwaktu Allah mengumpulkan para rasul, Ialu Allah bertanya (kepada mereka): Apa jawaban kaummu terhadap (seruan)mu”. Para rasul menjawab:”Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu); sesungguhnya Engkau-lah yang mengetahui perkara yang ghaib”. (QS. al-Maidah: 109)

 

Yang berikut ini adalah jawaban Nabi Isa As. yang terekam di dalam Injil dan al-Qur’an:

Suatupun tiada aku dapat berbuat menurut kehendakku sendiri, melainkan aku menjalankan hukum sebagaimana yang aku dengar, dan hukumku itu adil adanya ; karena bukannya aku mencari kehendak diriku, melainkan kehendak Dia yang menyuruhkan aku. (Yahya 5:30).

Jikalau aku menyaksikan dari hal diriku, maka kesaksianku itu tiada benar. (Yahya 5:31).

Ada yang lain yang menyaksikan dari hal diriku, maka aku tahu bahwa benarlah kesaksian yang disaksikanNya dari halku itu.(Yahya 5:32)

 

Maka kata Yesus:  “Hanyalah seketika lamanya lagi Aku bersama-sama dengan kamu, lalu aku pergi kepada Dia yang menyuruhkan aku. (Yahya 7:33).

 

Maka aku ini mendoakan mereka itu; bukan seisi dunia kudoakan, melainkan se,gala orang yang Engkau serahkan kepadaku, karena mereka itu milikMu. (Yahya 17: 9).

 

Jawaban Jesus/Nabi Isa As. di atas disampaikan dalam alkitab dengan setting hari akhir. Dalam jawaban tersebut Jesus tidak bisa bersaksi tentang dirinya -menjelaskan keadaannya yang “dilahirkan tanpa ayah”-. Hal ini sangat logis, dan karena itu ia mengatakan bahwa ada yang lain yang akan bersaksi tentang dirinya. Siapa yang dimaksud tentu saja Allah melalui Nabi yang selanjutnya. Nabi Yahya yang hidup di masa Nabi Isa tidak mampu memberikan kesaksian atas perihal Nabi Isa As, seperti yang dikatakan oleh Nabi Isa sendiri dalam dua ayat setelah ayat di atas,

Kamu ini memang menyuruhkan orang kepada Yahya, maka iapun menyaksikan atas yang benar itu. (Yahya 5:33)

 

Tetapi aku ini tiada menerima kesaksian dari pada pihak manusia, hanya inilah aku katakan, supaya kamu ini selamat kelak. (Yahya 5:34)

Siapa nabi setelahnya yang akan mengabarkan ? tentu saja nabi yang diutus setelah kedua Nabi di atas, yaitu Nabi Muhammad Saw. Kesaksian Allah tentang Nabi Isa Saw, disampaikan melalui wahyu yang disampaikan kepada Rasulullah dalam al-Qur’an sebagai berikut :

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Ilah selain Allah”. ‘Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengelahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib­ ghaib”. (QS Al-Maidah : 116).

 

Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya) yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu “, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku bersama mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. (QS. Al-Maidah:117).

 

Jika engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Maidah: 118).

 

Jika kita bandingkan dengan jawaban Yesus yang ada di Injil, makna permakna hampir sama, bahkan yang menyangkut masalah kematian serta doa beliau atas umatnya. Begitulah setiap Rasul akan mempertanggungjawabkan risalah yang diamanatkan kepadanya. Dan seperti tergambar dalam ayat di atas. para rasul telah menyampaikan risalahnya dengan benar. Adapun pertanggungan-jawab atas kelanjutan risalah ada pada masing-masing umat.

Nabi Isa yang welas asih telah mengembalikan tanggungjawab pengawasan atas umatnya kepada Allah yang telah mengutusnya, sekaligus menyerahkan kepada Allah atas apa yang telah diperbuat umatnya.

Nabi Isa adalah nabi terakhir dari bani Israel. Kesombongan bani Israel telah membuat mereka banyak melakukan sikap berlebihan, baik dalam mengkultuskan seseorang, atau memusuhinya. Banyak nabi yang telah mereka bunuh, padahal para nabi tersebut berasal dari mereka sendiri. Penentangan mereka terhadap risalah para rasul membuat mereka berkomplot dengan kaum musyrik. Lihat QS. Al-Maidah :77-81.

Artikel Terkait :


Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: