Aliey Faizal

'Isy Kariiman Aw Muth Syahiidan

Umat Islam

Posted by Aliey Faizal pada 12 Juni 2012

I. PENDAHULUAN
Jangan Berlebih-lebihan…!

Umat Islam

Allah yang Maha bijaksana memberikan pelajaran kepada Bani Israel -yang selama ini diamanati risalah Allah- dengan memindahkan tanggungjawab amanat kepada saudara serumpun (Sam/Semit) yaitu bangsa Arab. Kesombongan Kaum Israel yang merasa paling pinter diperingati oleh Allah dengan memindahkan tanggung jawab tersebut kepada masyarakat yang memiliki peradaban `lebih rendah’ dari mereka.
‘Lebih rendah’ yang dimaksud jika dibandingkan dengan peradaban lain, seperti Romawi, Persia, atau Cina. Tapi sebenarnya merekalah yang paling siap menerima amanat dengan alasan seperti berikut :

  • Bangsa Arab pra-Islam adalah masyarakat yang hidup dalam lirigkup kesukuan, dimana kehidupan bersama ditentukan oleh adanya persekutuan yang dikenal sebagai Hilf. Kebijakan umum komunitas bangsa Arab diatur melalui persekutuan, sedang kehidupan individu diatur oleh masing-masing klan-desentralisasi yang merupakan ciri kehidupan demokratis-. Mereka tidak pernah terbebani kehidupan herarkis kerajaan yang sentralistik. Itulah sebabnya mereka lebih bisa bersikap egaliter.
  • Peradaban besar yang ada saat itu rata-rata berbentuk kerajaan, dimana hak individu sangat tergantung kepada penguasa. Herarki kemasyarakatan sangat kental dan tidak demokratis karena penguasa cenderung otoriter.
  • Sikap demokratis, egaliter, dan terbuka merupakan lahan yang matang bagi masuknya sebuah ajaran baru yang tidak mengandalkan kekuatan dlan kekuasaan dalam penyebarannya, tapi lebih kepada penggunaan logika.

Terlepas ketiga alasan di atas, semua orang maklum bahwa pemikiran manusia selalu berkembang dari primitif hingga beradab, dan Islam diturunkan sekian abad setelah agama terdahulu -satu tenggang waktu yang cukup bagi umat manusia untuk berkembang-. Untuk itu agama baru yang diturunkan tentu saja sesuai dengan perkembangan pemikiran manusia.

Dengan diangkatnya seorang rasul dari bangsa Arab, bangsa Israel -umat Kristen dan Yahudi- tentu saja tidak akan menerima begitu saja. Seperti yang terjadi sebelumnya, umat Yahudi menolak kedatangan Nabi Isa (Jesus). Kini tidak saja umat Yahudi tapi umat Kristen ikut menolak kedatangan Nabi Muhammad Saw. Walaupun ternyata sebagian pendeta -ahli kitab- lah yang ikut meyakinkan kepada Rasulullah bahwa dirinyalah yang terpilih. Bangsa Arab dan Rasulullah tentu saja tidak pernah menyangka bahwa risalah tersebut diamanatkan kepada mereka, itulah sebabnya Allah memerintahkan kepada Rasulullah untuk bertanya kepada para ahli kitab, sebab pada dasarnya apa yang berkaitan dengan Nabi dan umatnya bahkan ritual ibadahnya banyak ternubuatkan dalam kitab-kitab mereka. Seperti ayat yang artinya berikut ini :
Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. (QS. Yunus: 94).

Seperti pendahulunya Rasulullah Saw mengemban amanat yang sama yaitu risalah tauhid. Adapun masalah hubungan antar manusia -perbaikan sosial-, tentu saja masing­masing rasul memiliki syariat yang berbeda sesuai dengan masyarakat masing-masing. Bekal mukjizat merekapun berbeda sesuai dengan kondisi penentangan masyarakat yang dihadapi. Kesamaan risalah tersebut disampaikan aleh al-Qur’an dalam surat al-Baqarah : 136 yang artinya sebagai berikut :

Katakanlah (hai orang-orang mu’min): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’kub dan anak cucunya, dan apa yang telah diberikan kepada Musa dan ‘Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan-nya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (al-Baqarah : 136).

Seruan kepada peng-Esa-an Allah Swt. dilakukan sejak Nabi yang pertama hingga nabi yang terakhir. Adapun tentang tugas memperbaiki kehidupan sosial tentulah tidak bisa disamakan. Rasul yang datang lebih awal mengatur kehidupan umat sesuai dengan kondisi saat itu. Dan Islam diturunkan saat manusia lebih bisa menggunakan akal dan logika. Itulah sebabnya ajaran Islam sangat menghargai akal dari pada klenik dan takhayul.

Hal ini akan tampak jelas dalam penyikapan umat Islam terhadap hujatan umat pendahulunya. Untuk menolak hujatan bahwa umat muslim bodoh -seperti keledai-, Umat muslim, seperti ajaran al-Qur’an cukup menyebutkan bahwa “orang yang diberi kitab Taurat tapi tidak dilaksanakan adalah seperti keledai yang memanggul buku-buku”. Memang sederhana tapi itulah kiasan yang pas dan tajam, untuk mengembalikan hujatan mereka. Untuk menyatakan bahwa suatu hal yang biasa bahwa seorang wanita melahirkan tanpa seorang ayah, al-Qur’an cukup memberikan bukti keberadaan Nabi Adam As. yang tidak pernah dilahirkan oleh seorang ibu dan ayah. Logika sederhana ini

sangat efektif terbukti seluruh umat muslim mempercayainya dan tidak pernah menghujat para nabi sebelum Nabi Muhammad Saw -khususnya Nabi Isa As-. Satu logika sederhana yang sesuai dengan kondisi umat manusia saat itu.

Dengan keimanan seperti itu umat Islam meluruskan prasangka buruk yang dialamatkan kepada Nabi yang dihormatinya tanpa membedakan dengan lainnya yaitu nabi Isa As. Pelurusan itu termasuk penyelewengan ajaran tauhid yang pernah diajarkan Yesus. Melalui al-Qur’an, dengan pemilihan kata yang sangat teliti dalam surat al-Maidah ayat 72 hingga 75 secara berturut-turut, Allah mengecam tindakan pengkultusan Yesus, Roh Kudus, dan Maria- oleh umat Kristen sebagaimana berikut :

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah AI-Masih putra Maryam “, padahal Al-Masih berkata : “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhan-mu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (manusia dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan baginya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang dzalim itu seorang penolongpun. 

(al-Maidah : 72).

Dalam ayat ini Allah mengecam siapapun yang mensejajarkan diriNya dengan Isa As. Padahal Nabi Isa As. menyatakan bahwa dirinya menyembah Allah yang mengutusnya. Dalam ayat ini maf’ul (objek) dari kata yusyrik (menyekutukan) adalah mahdzuf (tidak tercamtum) agar memberi makna yang luas, artinya siapapun atau apapun yang disekutukan dengan Allah maka haram baginya surga.

Dalam ayat di atas, seakan al-Qur’an mengulang dua pernyataan yang sama, tapi dengan cara penyampaian yang berbeda. Pernyataan pertama menjadikan kata Allah sebagai maf’ul sedang dalam pernyataan kedua maf’ul-nya tidak tercantum sehingga menjadi umum dan berarti segala sesuatu yang berakal atau yang tidak berakal, itulah “ciptaan”. Dengan pengungkapan -gaya bahasa- seperti ini ayat di atas secara cermat telah menutup upaya syirik sekaligus : pertama, menurunkan derajat Tuhan ke derajat makhluq -menganggap Tuhan adalah Isa As.-; kedua, menaikan derajat makhluq ke derajat Pencipta -menganggap Isa As. adalah Tuhan-.

Pengulangan tersebut juga menunjukkan hal lain yaitu : Pernyataan pertama dinisbatkan kepada Allah, sedang pernyataan kedua disampaikan atas lisan Nabi Isa As. Hal ini secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa Allah tidak rela dirinya disamakan dengan makhluq ciptaannya -pernyataan pertama-; kedua, bahwa Nabi Isa As. melarang dirinya disekutukan dengan Tuhan, karena beliau sendiri menyembah Allah dan mengajak umatnya menyembah Allah juga, beliau bahkan mengingatkan jika ada umatnya yang berbuat itu maka tidak akan berada di Surga bersamanya tapi di neraka.

Kami berpendapat bahwa ayat ini mengecam adanya oknum kedua dalam TRINITAS, yaitu tuhan anak/Nabi Isa. Dengan pembenaran yang model apapun maknanya sama dengan yang dimaksud ayat di atas. Kalau umat Kristen saat ini tidak meyakini kebenaran al-Qur’an dan hanya meyakini kebenaran Bibel (Injil), mari kita lihat pernyataan Nabi Isa As. dalam Injil yang mereka yakini kebenarannya. Ayat Injil yang kami maksudkan adalah sebagai berikut :

Dari Bibel edisi International, dua ayat ini masuk dalam judul : al- Washiyyah al-`Udzma / wasiat terbesar. (inilah risalah dasar yaitu Tauhid- pen.).3

 

“The most important one, ” answered Jesus, “is this: O Israel, the Lord our God, the Lord is one. Love the Lord your God with all your heart and with all your soul and with all your mind and with all your strength.’ (Mark, 12: 29,30).4

(tertulis judul di atas ayat 28 seperti berikut : The Greatest Commandment. Sama artinya dengan yang berbahasa Arab, wasiat terbesar. Berikut ini edisi Indonesia :

 

“Maka jawab Yesus kepadanya: “Hukum yang terutama inilah : Dengarlah olehmu, hai Israel, adapun Allah Tuhan kita, Ialah Tuhan yang Esa; “maka hendaklah engkau mengasihi Allah Tuhanmu dengan sebulat-bulat hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan sepenuh akal budimu,dan dengan segala kuatmu. (Markus;12:29).5
Ayat tersebut berisi wasiat pertama – tauhid -, sedang wasiat kedua pada ayat selanjutnya yang bermakna seruan mengasihi sesama. Setelah membaca ayat dari bibel yang diakui secara internasional ini, silahkan kembali kepada ayat al-Qur’an di atas, dimana letak perbedaan seruannya ?. Ayat selanjutnya adalah :

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah yang ketiga dari tiga, padahal tidak ada tuhan selain Tuhan yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (al-Maidah : 73).

 

Dalam menerjemahkan ayat di atas, kami mencoba menerjemahkan secara literal kalimat (tsalitsu tsalatsah), hal ini kami maksudkan untuk dikaji disini hingga mendapatkan makna yang sesuai. Terjemahan yang sering dipakai adalah “salah satu dari yang tiga”6. Terjemahan seperti ini dijadikan dalil oleh Dr. Robert M. untuk menyatakan bahwa al-Qur’an tidak pernah mengkritik TRINITAS.

Sekarang mari kita telaah dua kalimat di atas. Bahasa Arab sering memakai kata -nakirah (indefinit) yang menjadi ma’rifah (definit) karena dinisbatkan kepada kata yang lain­untuk makna “yang ke tiga” seperti dalam ayat :

(al-Kahfi : 22). Ayat dalam surat al-Kahfi ini dalam “Al-Qur’an dan Terjemahnya” -yang diterbitkan oleh pemerintah Saudi dan ditandatangani oleh Depag RI. (Munawir Sjadzali)- diterjemahkan “Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya”. Untuk ayat yang kita bahas jika kita menerjemahkan sama seperti dalam surat Kahfi, maka artinya adalah “yang ketiga”. Dengan terjemahan ini mari kita melihat siapa saja Oknum dalam TRINITAS. Umat Kristen menempatkan ketiga oknum secara berurutan seperti berikut : 1. Tuhan Allah/Bapak, 2. Tuhan Anak/Yesus, 3. Roh Qudus. Berdasarkan terjemahan di atas maka siapa yang dimaksud dalam surat al-Maidah : 73? Yang dimaksud adalah Roh Qudus, oknum ketiga dari doktrin TRINITAS.

Ada satu hikmah di balik pemakaian kata  (kata kedua) di mana disebutkan nakirah (indefinit) yang menunjukkan makna umum, untuk menghindari adanya makna yang pasti/sudah diketahui yaitu makrifah (definit). Dengan keumuman ini ayat tersebut menyatakan : “dianggap kafir upaya penggabungan/pensejajaran/penyekutuan tiga macam dzat, atau tiga macam sifat, atau makna apapun yang diingini mereka yang menetapkan ajaran TRINITAS”.

Kesimpulan kami, ayat tersebut mencela upaya umat Kristen yang meletakkan Roh Qudus sebagai salah satu oknum TRINITAS, yaitu yang ketiga setelah Yesus. Allah yang maha Esa tidak akan rela jika disejajarkan dengan makhluqnya seperti tergambar dalam banyak ayat Qur’an. Oknum pertama tidak dibahas karena umat Kristen sendiri mengakui bahwa oknum Pertama adalah Allah. Dengan menghilangkan kedua oknum selain Allah maka itulah ajaran Yesus. yang benar. Dan Allah masih memberikan kesempatan memperbaiki seperti yang difirmankan pada ayat selanjutnya yaitu :

apa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan rnemohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (al-Maidah :74).

Pintu taubat masih terbuka, kini terserah anda. Pemurnian tauhid masih terus berlanjut, untuk membersihkan apa yang dinisbatkan kepada Ibunda Nabi Isa, yaitu wanita suci Maria (Maryam) seperti ayat berikut ini :

Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa rnemakan makanan. Perhatikan bagaimana kami akan menjelaskan kepada (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (karni), kemudian per°hatikanlah bagaimana mereka akan berpaling. (al-Maidah: 75).

Dalam ayat ini Allah menyatakan bahwa ibunya adalah seorang yang sangat benar. Bahwa masalah-masalah kelahiran bayi dari seorang perempuan tidak perlu dikhawatirkan, sampai menciptakan doktrin apologetik seperti TRINITAS untuk menghindari hujatan umat Yahudi. Tidakkah terpikir bahwa keduanya adalah memakan makanan -satu alasan yang sangat kuat- karena tidak mungkin mengatakan bahwa Tuhan makan. Soal hujatan kaum Yahudi, Allah menyatakan kepada para ahli kitab untuk menyaksikan bagaimana Allah akan menjelaskan hal itu di kemudian hari.
Pernyataan terakhir pada ayat terakhir (al-maidah 75) di atas, – “…Perhatikan bagaimana kami akan menjelaskan kepada (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka akan berpaling’ – seluruhnya menggunakan kata mudlori’ yang memiliki pengertian tenses future (yang akan datang). Hikmah penggunaan kata dalam bentuk mudlori’ itu, seakan Allah mengabarkan kepada para Ahli kitab bahwa Allah kelak akan membuktilcan hal itu di hari kemudian nanti.

Jika dilihat dari fase perltembangan pemikiran seperti pendapat August Comte -yang membagi perkembangan pemikiran manusia menjadi tiga fase- maka keberadaan masyarakat Bani Israel pada masa Nabi Isa As. adalah masa sebelum manusia menggunakan logika sebagai dasar melihat fenomena alam yang terjadi dijaman merelca saat itu. Sehingga apapun alasan yang dikemukakan oleh Nabi Isa As. akan ditentang. Itulah sebabnya maka mukjizat fisik (supranatural) sangat dibutuhkan oleh bangsa Israel saat itu.

Kalau diteliti lagi jenis mukjizat yang dibekalkan kepada Nabi Isa As. diantaranya adalah menyembuhkan orang sakit (buta) dan menghidupkan orang mati. Jika saat itu bangsa Israel bisa menalar, maka sebetulnya menghidupkan orang mati lebih heboh dari dari pada “dilahirkan tanpa ayah”. Tapi mereka tidak menerima itu karena memang mereka yang ingkar adalah orang yang berlebih-lebihan, setelah tahu kebenaran malah menutupinya. Perihal Yesus yang lahir tanpa ayah berikut mukjizat fisik berupa kekuatan supranatural yang dibekalkan kepadanya ini sekaligus merupakan bukti-bukti logis alcan adanya hari Akhir. Sebab jika Allah mampu menciptakan makhluq manusia tanpa Ibu, maka menghidupkan yang mati seperti yang dilakukan melalui tangan Nabi Isa As. adalah hal yang kecil, begitu juga urusan menghidupkan lagi seluruh manusia pada hari akhir nanti.

Dalam mengemukakan permasalahan nabi Isa As, yang mendapat penghinaan Bani Israel atas masalah kelahirannya tersebut al-Qur’an memberikan logika-logika sederhana yang sesuai dengan logika masyarakat saat itu. Yaitu :

  • Nabi Isa dilahirkan oleh manusia, yang kedua-duanya makan dan minum.

  • Soal dilahirkan tanpa bapak masih ada yang lebih dari itu yaitu Nabi Adam As. tapi tidak disembah dan tidak dipertuhankan.

  • Tugas seorang rasul hanyalah menyampaikan risalah, dengan tetap dikenai kewajiban menyembah Pencipta sekaligus Pemberi amanat.
  • Kemudian mereka diingatkan ; jika memang mereka membela Nabi Isa As, maka belalah nabi ini (Jesus) dalam mempertanggungjawabkan risalah tauhid yang dibawanya. Janganlah menisbatkan kepadanya sesuatu yang tidak pernah beliau ajarkan.

Argumentasi al-Qur’an tersebut di atas memang sangat sederhana dan mendasar. Tapi itulah yang bisa dipahami oleh umat manusia pada saat itu. Tapi Allah tidak akan membiarkan peringatannya diabaikan. Seperti janjiNya-sejak masa pewahyuan al-Qur’an- Allah akan memperlihatkan ayat­ayatNya di masa datang. Masa di mana pemikiran manusia tidak lagi menggunakan logika sederhana tapi logika yang disertai bukti empiris dan nyata di depan mata. Lihat surat al-Maidah ayat 75 yang telah kita sebutkan di atas yaitu :

“.. Perhatikan bagaimana kami akan menjelaskan kepada (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka akan berpaling’:

Kini kita yang hidup di era ilmu dan tekhnologi saat semua fenomena dilandaskan pada pengetahuan empiris dan meninggalkan cara berpikir sederhana, kita dapat menyaksikan bagaimana ayat-ayat Allah tersebut telah diperlihatkan. Kalau dulu umat muslim hanya menyampaikan logika yang sederhana kini umat muslim dapat mengatakan dengan lantang : “Seorang wanita bisa melahirkan tanpa ayah”. Bukankah saat ini ilmu kedokteran telah menerapkan apa yang mereka sebut sebagat “inseminasi buatan” di mana benih dapat ditempatkan pada rahim wanita. Yang lebih mengejutkan lagi pengetahuan itu justru ditemukan oleh para penentang ayat-ayat Allah yang lcita sebutkan tadi.

Disini kami melihat adanya kerancuan berpikir dalam tradisi Kristen yang seringkali menentang perkembangan Ilmu pengetahuan dengan alasan yang sangat tidak masuk akal, yaitu bertentangan dengan prinsip ketuhanan. Padahal jika mereka ingin menyampaikan kebenaran perihal Yesus (Nabi Isa As.) mestinya merekalah yang paling membutuhkan bukti-bukti empiris untuk menolak tuduhan terhadap Nabinya. Dengan bukti empiris itu mereka tidak perlu lagi membuat-buat alasan yang tidak masuk akal seperti doktrin TRINITAS yang muncul setelah kematian Yesus. Boleh saja Kristen awal merasa aman dengan argumentasi mereka karena pemikiran manusia saat itu bahkan belum menyandarkan pada logika, tapi lebih kepada pendewaan yang mereka hayalkan sendiri. Namun ketika manusia sudah menggunakan logika yang walaupun sederhana -pada abad pertengahan- doktrin itu dipaksakan melalui institusi lceagamaan yang melebihi kekuasaan kerajaan. Dan pada saat yang sama umat muslim telah meletalckan dasar-dasar bagi perkembangan ilmu-ilmu modern yang dikemudian hari disempurnakan oleh masyarakat Kristen Eropa walaupun mendapat penentangan Gereja. Kini ketika pengetahuan modern telah menunjukkan kebenaran Yesus institusi gereja masih menolaknya. Maha Benar Allah yang menginginkan kita memperhatikan bagaimana para ahli kitab itu akan tetap mengingkarinya. Disinilah Icami melihat hikmah kebesaran Allah yang menjadikan pengetahuan tersebut muncul dari kalangan Kristen, seakan menginginkan agar umat Kristen dapat membuktikan kebenaran Nabinya atas tuduhan yang sangat tidak mendasar. Jika kemudian pihak yang merasa berwenang dalam tradisi Kristen menolak hal-hal tersebut, kita patut mempertanyakan siapa mereka ? kenapa menyesatkan umat Yesus yang mestinya membuktikan kebenaran Nabinya – seperti yang dijanjikan Allah dalam al-Qur’an-. Allah Maha Tahu akan kebutuhan umatnya, walaupun umat itu sendiri merasa tidak butuh bahkan menentang.

Catatan :

3. Kitab al-Hayat / Holy Bibel – New International Version, International Bibel Society, 1999.

4. Ibid.

5. Alkitab, ditempatkan oleh Gedeon. 1976.

6. Al-Qur’an dan Terjemahnya, Mujamma’ al-Malik Fahdli Thiba’at al-Mush-haf asy-Syarif, Madinah-Saudi Arabia, hal. 173, Dalam terjemah al-Qur’an lain kita dapatkan Yusuf Ali menerjemahkan: ‘Allah is one of three in a Trinity’, sedang Pickthall menerjemahkan : “the third of three”, dan Shakir menerjemahkan : “the third (person) of the three”.

Artikel Terkait :


Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: