Aliey Faizal

'Isy Kariiman Aw Muth Syahiidan

Archive for Juni 9th, 2012

Sejarah Akhirnya Menggugat Keaslian Injil Mathius

Posted by Aliey Faizal pada 9 Juni 2012

Injil pertama dalam Perjanjian Baru (PB) adalah injil karangan matius.Seperti halnya injil-injil lainnya,sering ditegaskan bahwa matius itu adalah salah seorang muridnya yesus.Tetapi tidak ada data atau sumber yang otentik lagi dipercaya,yang mampu memberikan bukti sejarah yang menyatakan bahwa injil matius itu adalah karangan dari seorang matius yang menjadi salah satu muridnya yesus.Keterangan paling jelas mengenai identitas matius hanya terdapat dalam pasal 9:9 atau 10:3 , di mana di sana pula kontroversi muncul akibat penyebutan tokoh matius seakan-akan sebagai orang kedua diluar penulis. Dalam ayat tersebut matius digambarkan sebagai seorang pemungut cukai yang bekerja untuk kekaisaran romawi, selanjutnya ia tertarik ajakan Yesus untuk menjadi muridnya (mat 9 : 9).

Lewi yang kemungkinan adalah nama lain matius beberapa kali disebutkan dalam injil sinoptik lain seperti lukas atau markus, tetapi tidak ada keterangan yang menyebutkan bahwa yesus pernah mengganti nama lewi menjadi matius (artinya “Hadiah dari Tuhan”),seperti halnya saat ia mengganti nama simon menjadi cephas. Tidak ada alasan bagi Yesus untuk mengubah nama yahudi muridnya menjadi nama romawi. Yesus tidak pernah mengganti nama simon menjadi petrus, ia menggantinya dengan nama “cephas” yang artinya batu. Orang romawi-lah yang menyebutnya sebagai peter atau petrus. Adalah suatu keganjilan melihat pilihan penulis injil matius untuk lebih memilih menggunakan nama “matius” alih-alih nama “Lewi” yang lebih familiar di kalangan Yahudi. Penulis Injil markus dan lukas yang menunjukan karyanya bagi orang gentile (romawi) bahkan lebih memilih menggunakan nama “lewi” bukanya “matius” (mark 2:14, luk 5:27). Baca entri selengkapnya »

Posted in Kristologi | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »

Menepis Kekeliruan Pandangan Terhadap Poligami Bag 3

Posted by Aliey Faizal pada 9 Juni 2012

Syubhat Ketiga.

Para penentang poligami berpendapat, bahwa poligami justru akan melahirkan banyak persoalan yang mengancam keutuhan bangunan mahligai rumah tangga. Sering timbul percekcokan. Belum lagi efek domino bagi perkembangan psikologi anak yang lahir dari pernikahan poligami. Sering mereka merasa kurang diperhatikan, haus kasih sayang dan, celakanya, secara tidak langsung dididik dalam suasana yang kedap perselisihan dan percekcokan tersebut. [Perkataan Muhammad Abduh seorang tokoh yang controversial dari Mesir, Rasyid Ridha, Tafsir Al-Manar IV, Th. 347-350 dinukil dari situs JIL]

Jawab
Pendapat ini dapat kita bantah ini sebagai berikut:

Perselisihan yang muncul di antara para isteri merupakan sesuatu yang wajar, tumbuh dari rasa cemburu yang merupakan tabiat wanita. Untuk mengatasi hal tersebut, tergantung kepada kemampuan suami dalam mengatur urusan rumah tangganya, keadilannya terhadap isteri-isterinya, rasa tanggung jawab terhadap keluarganya, demikian juga tawakalnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Baca entri selengkapnya »

Posted in Islam Menjawab | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »

Menepis Kekeliruan Pandangan Terhadap Poligami Bag 2

Posted by Aliey Faizal pada 9 Juni 2012

Syubhat Kedua

Para penentang poligami menyatakan, tidak mungkin bagi para suami mampu berbuat adil di antara para isteri, dengan dalih firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

Artinya : ” Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja. atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.[An-Nisaa`: 3]

Dan Allah telah berfirman :

Artinya : ” Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [An-Nisaa`: 129] Baca entri selengkapnya »

Posted in Islam Menjawab | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »

Menepis Kekeliruan Pandangan Terhadap Poligami Bag 1

Posted by Aliey Faizal pada 9 Juni 2012

Berikut ini beberapa jawaban terhadap syubuhat dan kesalahfahaman terhadap Poligami. Al-Ustadz Abu Sa’ad di dalam Majalah as-Sunnah (edisi 12, th.X, 1428) saya rasa telah mencukupi untuk menjawab kesalahfahaman dan syubuhat yang mucul seputar poligami.

Syubhat Pertama

Para penentang poligami menyatakan adanya larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali untuk menikahi anak perempuan Abu Jahl dan mengumpulkannya dengan Fatimah binti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dengan menyandarkan kepada larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali agar tidak mengumpulkan Fathimah dengan anak perempuan Abu Jahl, maka sebagian penentang poligami memberikan komentar dan mengatakan, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang Ali untuk menikah dengan anak perempuan Abu Jahl dan dikumpulkan bersama Fatimah. Bila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai teladan, maka kami melarang para suami menikahi wanita lain bersama dengan anak-anak perempuan kami, dan kamipun tidak melakukan poligami, karena ini termasuk di antara perkara-perkara yang bisa menyakiti orang-tua maupun isteri-isteri kami.

Jawab:

Syubhat yang mereka lontarkan itu, hakikatnya sudah tertolak dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : Baca entri selengkapnya »

Posted in Islam Menjawab | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »

Mencermati Hikmah Poligami Rasulullah SAW Bag 2

Posted by Aliey Faizal pada 9 Juni 2012

Dalam pembentukan komunitas baru yang menjadikan keluarga dan perkawinan sebagai salah satu instrumennya, maka perhatian terhadap janda dan anak-anak yang ditinggal ayah mereka yang syahid akibat peperangan adalah suatu yang sudah semestinya, apalagi kesempatan mendapatkan kebutuhan sehari-­hari di tanah yang gersang tidaklah semudah yang dibayangkan, tidak heran jika ada yang menjual manusia dipasar budak demi mencukupi kehidupan sehari-hari. Langkah Rasulullah yang juga diikuti para sahabatnya untuk memperhatikan para janda dan anak-anaknya, tampak dalam beberapa perkawinan yang kita sebutkan di atas. [Irene Handono, op.cit]

Adapun mengenai isteri beliau, Ummu Habibah Romlah bintu Abi Sufyan bin Harb radhiyallahu ‘anha, ada sebuah kisah yang perlu dijelaskan tentang latar belakang pernikahannya dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Ummu Habibah adalah isteri ‘Ubaidillah bin Jahsyi bin Khuzaimah, yang turut berhijrah dengan isterinya ke Habasyah (Abesinia) pada hijrah kedua. Namun terjadi fitnah dimana ‘Ubaidillah suami Ummu Habibah murtad keluar dari Islam –wal’iyadzubillah– sedangkan Ummu Habibah tetap kokoh di atas keislamannya. Beliau (Ummu Habibah) tidak dapat kembali ke Makkah dikarenakan ayahanda beliau, Abu Sufyan adalah termasuk pembesar Quraisy yang senantiasa berupaya mencederai Nabi dan para sahabat beliau. Seandainya Ummu Habibah kembali ke Makkah, akan membahayakan agama dan keadaannya. Oleh karena itu haruslah memuliakan dan membebaskan Ummu Habibah dari suaminya yang telah murtad kemudian mati di Habasyah. Baca entri selengkapnya »

Posted in Islam Menjawab | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »