Aliey Faizal

'Isy Kariiman Aw Muth Syahiidan

Hukum Membaca Manakib

Posted by Aliey Faizal pada 7 Juni 2012

Bagaimana hukumnya orang membaca manakib, barzanji atau sejarah orang-orang alim nan sholih pada zaman dahulu.. apakah itu diperbolehkan oleh syariat (ada dalam alquran, hadits, atau kitab-kitab klasik)..

Jawab:

Sebelum saya jawab pertanyaan anda, saya tampilkan dulu sebuah maqalah yang masih diperselisihkan akan ke-haditsan-nya, yaitu:

عِنْدَ ذِكْرِ الصَّالِحِينَ تَنْزِلُ الرَّحْمَةُ

Dengan menyebut orang-orang shalih, rahmat akan diperoleh

Hadist ini, sebagaima dijelaskan oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, tidak memiliki asal (la ashla lahu). Kesimpulan Ibnu Hajar ini disampaikan oleh al-Sakhawi dalam Maqasid al-Hasanah hal. 298, dan Isma’il al-‘Ajluni dalam Kasyf al-Khafa’ juz 2/70. Hal senada juga disampaikan oleh pengarang kitab al-Jidd al-Hatsits fi Bayani ma laisa bi Hadits hal 149. Lebih lanjut, al ‘Ajluni mengutip pernyataan al-‘Iraqi dalam al-Mughni-nya, bahwa makalah ini sebetulnya adalah perkataan Sufyan bin ‘Uyainah.

Akan tetapi Ibnu al-Shalah melontarkan pandangan berbeda. Dalam ‘Ulum al-Hadits beliau mengatakan bahwa hadits ini masih dimungkinkan memiliki asal (sanad) yang menjadi sandarannya. Dalam kitab tersebut beliau menyampaikan sebuah riwayat dari Ibnu Umar Isma’il bin Najid. Beliau bertanya terhadap Abu Ja’far Ahmad bin Hamdan (dimana keduanya termasuk orang yang shalih) “apakah yang menjadi pendorong (niat) Anda untuk menulis hadist? beliau berkata:

اَلَسْتُمْ تَرَوْنَ/تَرْوُوْنَ أنَّ عِنْدَ ذِكْرِ الصَّالِحِينَ تَنْزِلُ الرَّحْمَةُ ؟

“Apakah kamu tidak meyakini (meriwayatkan?) bahwa ketika orang-orang shalih disebut maka rahmat akan turun?” Kemudian Isma’il berkata, “Ya”. Lalu Abu Ja’far berkata: “Kalau begitu Rasulullah adalah pangkal dari semua orang-orang shalih.

Dari riwayat ini Ibnu Shalah mencantumkan dua kemungkinan, yaitu apabila lafadz ”تروون” menggunakan wawu dua yang berarti sebagai fiil mudhari’ (kata kerja) dari masdar (kata dasar) ‘riwayah’, maka secara global hadits diatas ada dasarnya. Namun apabila menggunakan wawu satu ”ترون” yang berarti “meyakinkan atau menyangka”, maka riwayat ini tidak menunjukkan bahwa hadits di atas memiliki dasar.

Dari maqalah (atau hadits, menurut sebagian ulama) ini, sepantasnya bagi setiap kaum muslimin untuk selalu membaca manaqib/biografi para alim ulama dan auliya agar timbul rasa cinta dan ingin meniru tindak lakunya, dari itu akan turun rahmat kepanya, sebagaimana di jelaskan dalam kitab Jala’ al- Afham fi Aqdah al-Awam.

Dijawab oleh: Ahmad Qusyairi Ismail, Kepala Kuliyah Syariah Pondok Pesantren Sidogiri.

 

Artikel Terkait :

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: